
AKARPADINEWS.COM | Misteri hilangnya pesawat milik Maskapai Malaysia Airlines MH370 mulai menemukan titik terang. Rabu (29/7) lalu, ditemukan salah satu bagian pesawat yang diduga dari Pesawat Boeing 777 yang merupakan jenis pesawat MH370, di perairan dekat Pulau La Reunion, Perancis. Lokasi temuan puing pesawat itu berada di sekitar 3.700 kilometer dari posisi pencarian pesawat MH370 yang dinyatakan hilang pada Maret tahun lalu.
Puing pesawat tersebut merupakan flaperson atau bidang permukaan kontrol pesawat yang menggabungkan kedua flap dan aileron pesawat. Penemuan ini setidaknya membuka lagi harapan untuk menguak kecelakaan di dunia penerbangan paling misterius di abad 21 ini.
Perdana Menteri Malaysia, Najib Razak menduga, puing pesawat itu ditemukan di La Reunion karena sekian lama terseret arus laut. “Lokasi (penemuan puing) itu konsisten dengan analisis pasang surut arus laut yang telah dilakukan oleh tim investigasi Malaysia, yakni menunjuk pada rute ke arah selatan Lautan Hindia hingga ke Afrika,” ujarnya, Kamis (30/7).
Selain menarik perhatian Pemerintah Malaysia, penemuan puing Boeing 777 tersebut juga mengundang perhatian Pemerintah Australia. Tony Abbot, Perdana Menteri Australia, mengatakan, penemuan puing tersebut kiranya dapat membuka tabir keberadaan pesawat MH370. “Menurut saya, bila benar itu puing pesawat berjenis Boeing 777, maka pastinya para investigator akan berbuat sebaik mungkin untuk mengetahui dari mana puing itu berasal,” ujarnya.
Kemungkinan, puing itu memang bagian dari tubuh MH370 karena sejak 20 tahun lalu, baru kali inilah kecelakaan pesawat menimpa Boeing 777. Jika investigasi yang tengah berlanjut memastikan benar bahwa puing tersebut ialah bagian dari MH370, maka akan ada investigasi lebih lanjut untuk menentukan tempat awal jatuhnya pesawat yang mengangkut 227 penumpang dan 12 kru pesawat itu.
Keadaan pasang surut ombak di Lautan Hindia memang memungkinkan puing pesawat itu terbawa hingga ke Pulau Reunion. Apalagi, kabar raibnya pesawat itu sudah lebih dari satu tahun. Jika memang puing tersebut teridentifikasi sebagai puing MH370, maka ada kemungkinan lingkup pelacakan tempat pesawat jatuh diperluas hingga ribuan kilometer di Lautan Hindia.
Warren Truss, juru bicara Pemerintah Australia, mengatakan, dengan ditemukannya puing yang diduga bagian MH370, maka pencarian bangkai pesawat masih dapat dilanjutkan di kawasan yang belum terjangkau sebelumnya. “Saya masih percaya bahwa kita masih dapat menemukan bangkai pesawat di daerah-daerah itu (daerah yang belum terjangkau),” ujarnya. Namun, Truss juga mengatakan, pencarian bangkai pesawat akan sulit karena sudah terlalu lama ada di dalam laut sehingga posisi jatuhnya bisa saja bergerak menjauh dari lokasi awal pesawat itu jatuh.
Keberadaan tempat jatuhnya MH370 ke laut memang kerap mengundang perdebatan dari berbagai oceanografer. Karena, perputaran arus laut dapat menjadi persoalan utama yang menyulitkan penentuan lokasi awal pesawat jatuh di lautan. Arus laut yang kerap bergerak dapat menyebabkan tubuh pesawat tercabik-cabik dan terbawa hingga ribuan kilometer.

Erik van Sebille, oceanografer dari Imperial College London, mengatakan, jika memang puing di Pulau Reunion memang bagian bangkai MH370 maka ada kemungkinan pesawat jatuh di bagian utara dari daerah awal pencarian. “Menemukan puing lainnya akan membantu mengetahui di daerah mana pesawat pertama kali jatuh ke laut,” ujar van Sebille.
Jatuh dan hilangnya pesawat MH370 memang menjadi tragedi dunia penerbangan internasional. Bila hasil identifikasi puing tersebut benar sebagai bagian dari bangkai MH370, maka diharapkan dapat memberikan jawaban di mana dan bagaimana pesawat itu terjatuh.
Penemuan puing itu juga tak hanya membantu investigator dari berbagai negara dalam membongkar misteri yang menyelimuti MH370. Namun, juga memberikan sebuah harapan kepada keluarga korban. Meski, sudah dipastikan semua penumpang MH370 yang tewas itu sulit ditemukan. Keluarga korban mungkin hanya ingin jawaban pasti jika anggota keluarganya menjadi korban MH370. Mereka pun tak ingin terus-terus dirundung duka.
Ghyslain Wattrelos, pengusaha Perancis yang istri dan dua anak berada di pesawat nahas itu pesimistis penemuan puing-puing itu dapat memberikan harapan. "Ini tidak akan memberikan harapan," katanya. Ia menambahkan, selama tidak ada bukti telah terjadi kecelakaan dan korban mengalami luka, tewas atau apa pun bukti lainnya, masih ada secercah kecil harapan.
Zhang Qihuai, seorang pengacara yang mewakili beberapa keluarga penumpang menegaskan, sekitar 30 kerabat keluarga korban yang menjadi kliennya sepakat akan tetap melanjutkan gugatan terhadap maskapai penerbangan Malaysia Airlines jika puing-puing itu dipastikan dari MH370.
Korban MH370 berasal dari 15 negara, termasuk Indonesia. Warga Negara Indonesia (WNI) yang tercatat menjadi korban mencapai tujuh orang. Mereka antara lain Firman Siregar (25 tahun), Lo Sugianto (47 tahun), Indra Suria Tanurisam (57 tahun), Chynthya Tio Vinny (47 tahun), Ferry Indra Suadaya (42 tahun), Herry Indra Suadaya (35 tahun), dan Willy Surijanto Wang (53 tahun).
Dengan penemuan puing ini, setidaknya dapat memotivasi investigator dari berbagai negara untuk menemukan bangkai MH370. Dengan begitu, misteri yang menyelimuti MH370 dapat diketahui penyebabnya dan spekulasi-spekulasi yang berkembang sejak tahun lalu dapat terjawab lugas.
Puing-puing pesawat yang diduga bagian dari MH370 itu, pada Jum'at (1/8) malam, telah dibawa ke Toulouse, Prancis, untuk dianalisis. Pecahan pesawat itu diterbangkan ke Toulouse melalui penerbangan Air France dan mendarat Sabtu pagi di Bandara Paris Orly. Rencananya, reruntuhan pesawat itu akan dianalisis oleh Direktorat Jenderal Peralatan Perang (DGA), menurut laporan media setempat. Badan investigasi kecelakaan udara Perancis (BEA) juga mempelajari reruntuhan itu, berkoordinasi dengan para ahli dari Malaysia dan Australia.
Muhammad Khairil