
AKARPADINEWS.COM | LEDAKAN dahsyat itu terdengar jelas. Tidak hanya terjadi sekali. Sedikitnya tujuh kali ledakan beruntun. Terdengar pula rentetan suara senjata. Situasi di Jalan Thamrin, tepatnya depan Gedung Sarinah itu, terasa mencekam.
Raungan sirine kendaraan terdengar memecah. Mobil-mobil yang awalnya akan melintasi ke kawasan Sudirman, terpaksa mengalihkan arahnya. Pengendara memutar kendaraannya, meski berlawanan arus, agar bisa menjauh dari lokasi kejadian.
Warga yang berada di lokasi kejadian pun berhamburan. Mereka dibayangi ketakutan. Ledakan beruntun yang mengguncang kawasan Thamrin itu membuat pengamanan ibukota diperketat. Beberapa kawasan strategis lainnya turut diamankan.
Menurut pengakuan saksi, ledakan pertama terjadi sekitar pukul 10.40 WIB. Selang 10 menit kemudian, ledakan berikutnya menghentak. Pos polisi yang berada tepat di perempatan lampu merah, depan Gedung Sarinah, hancur. Tiga mayat tergeletak di sana. Ketiganya diduga pelaku penyerangan. Aiptu Deny, polisi yang berada di pos itu mengalami luka akibat aksi penyerangan tersebut.
Aparat keamanan bergerak cepat. Ratusan polisi dan tentara langsung dikerahkan untuk mengamankan kawasan strategis itu. Kawasan itu pun disterilkan. Warga dilarang mendekat ke lokasi kejadian. Mereka juga dihimbau untuk tetap berada di dalam kantor. Aktivitas bisnis pun ditutup. Pasalnya, ada pelaku yang berada di tengah-tengah warga.
Suasana tambah tegang ketika Pasukan Detasemen Khusus (Densus) Antiteror dan Gegana Kepolisian Daerah Metro Jaya melakukan penyisiran di Gedung Jakarta Theater, yang diduga di dalamnya ada pelaku bersembunyi. Aparat keamanan juga dengan cepat mengevakuasi warga. Puluhan mobil ambulan hilir mudik, disiagakan untuk mengevakuasi korban dan warga sipil.
Aksi sporadis pelaku penyerangan itu kelewat profesional. Mereka benar-benar terlatih. Mereka menggunakan senjata dan head to head, saling tembak dengan aparat keamanan. Seorang saksi mengungkap, pelaku membawa senjata dan tanpa mengenakan topeng.
"Pelaku masih muda, membawa pistol, membawa ransel," kata Ruli, saksi di tempat kejadian. Pelaku terdiri beberapa orang. Pelaku yang mengenakan pakaian lengan pendek secara sporadis melakukan penembakan. Sementara pelaku lainnya, menyusup ke kafe yang menjadi sasaran pengeboman. Kepala Humas Polda Metro Jaya, Komisaris Besar M Iqbal mengabarkan polisi menembak mati empat pelaku teror tersebut. Keempat pelaku dilumpuhkan di Gedung Cakrawala dan di jalanan di kawasan Thamrin. Insiden berdarah itu menyebabkan tujuh orang tewas dan 24 orang lainnya mengalami luka.

Presiden Joko Widodo mengecam aksi terorisme itu dan memerintahkan aparat keamanan untuk menangkap semua pelaku yang diduga terlibat, termasuk membongkar jaringannya. "Saya perintahkan Kepala Kepolisian Republik Indonesia, Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan, untuk mengejar, menangkap, baik yang (terkait) di peristiwa maupun jaringan-jaringannya," tegas Presiden saat menyampaikan keterangan pers, Kamis (14/1), di Cirebon, Jawa Barat.
Kepala Negara juga menyampaikan bela sungkawa atas korban serangan itu. "Kita semua berduka atas jatuhnya korban dari peristiwa ini." Presiden juga menegaskan, negara tidak boleh kalah dengan teroris. "Negara, bangsa dan rakyat, kita tak boleh kalah, tidak boleh takut oleh aksi teror seperti ini. Saya berharap masyarakat tenang."
Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo juga menginstruksikan Siaga I di seluruh daerah. "Ini menjadi warning (peringatan). Seluruh daerah harus Siaga-1, amankan masyarakat," kata Mendagri di Jakarta, Kamis (14/1). Sementara pemerintah Australia dan Amerika Serikat langsung mengeluarkan peringatan kepada warganya. Warga kedua negara itu diperingatkan untuk berlindung dan memantau perkembangan.
Serangan di Sarinah merupakan bukti makin brutalnya aksi teroris. Wakil Kapolri Komisaris Jenderal Budi Gunawan menyebut, serangan itu terkait dengan ISIS (Islamic State of Iraq and Al-Sham). Kapolda Metro Jaya, Irjen Tito Karnavian kepada pers menyebut ISIS diduga terkait serangan dari Sarinah. Menurut Tito, Bahrun Naim adalah tokoh ISIS yang ingin menjadi pemimpin di Asia Tenggara. Tito menyakini ISIS tidak lagi bergerak di Suriah, tapi juga ke berbagai negara, termasuk Asia Tenggara.
Dugaan keterlibatan jaringan ISIS bisa jadi benar. Indonesia merupakan bagian dari target ISIS. Australia pernah mengeluarkan peringatan jika ISIS meningkatkan pengaruhnya di Indonesia karena ingin mendirikan khalifah. Jaksa Agung Australia George Brandis beberapa waktu lalu menyebut, ISIS berambisi mendirikan "khilafah jauh" di luar Timur Tengah. "ISIS telah mengidentifikasi Indonesia sebagai lokasi untuk ambisinya itu," katanya kepada The Australian (22/12/2015). Upaya ISIS menancapkan pengaruhnya di Indonesia, bisa dilakukan secara langsung maupun lewat jaringan-jaringannya (perwalian).
Komentar Brandis ini disampaikan setelah Polri berhasil menggagalkan serangan bunuh diri di Jakarta yang diduga terkait ISIS beberapa waktu lalu. Polri berhasil menyita bahan peledak dan bendera ISIS, selain menangkap sembilan pelaku yang diduga terkait ISIS. Mereka menargetkan untuk menyerang mal, polisi beserta kantor-kantornya, dan kelompok minoritas di Indonesia.

Gerakan radikalisme ISIS diketahui memperluas wilayah yang menjadi targetnya. Selasa (12/1) lalu, ISIS diduga mendalangi pengeboman di kawasan Sultanahmet yang menjadi pusat wisata dan lokasi bersejarah di Kota Istanbul, Turki. Sedikitnya, 10 orang warga asing tewas dan 15 orang lainnya terluka akibat serangan bom bunuh diri itu.
Perdana Menteri Ahmet Davutoglu menuding pelakunya adalah militan Negara Islam (Islam State/IS). Pelaku sengaja meledakan bom di Sultanahmet squere, dekat Masjid Biru, dan Hagia Sophia, untuk mencuri perhatian dunia. Karena, lokasi itu merupakan wisata utama di pusat kota yang paling banyak dikunjungi wisatawan asing.
ISIS diketahui memanfaatkan jaringan-jaringan kelompok radikal di sejumlah negara untuk bergabung. Itu menunjukan ISIS tidak hanya menancapkan kekuasaannya di Irak dan Suriah. Karenanya, ISIS telah bermetamorfosis menjadi IS. Jumlah anggotanya meningkat, mencapai puluhan ribu militan, yang direkrut dari berbagai negara. Direktur Central Intelligence Agency (CIA), John Brennan menyebut, ISIS memiliki jaringan di 90 negara. ISIS diyakininya menjadi ancaman serius, tidak hanya untuk Suriah dan Irak, tetapi juga ancaman bagi AS dan negara-negara lain, khususnya yang menjadi mitra AS.
ISIS sebelumnya mengklaim memiliki banyak milisi dari Inggris, Prancis, Jerman, dan negara-negara Eropa lainnya, termasuk Amerika Serikat, Jazirah Arab, dan 36 wilayah dari kawasan Asia dan Pasifik.
Indonesia diyakini menjadi salah satu negara yang memiliki jaringan ISIS. Hal itu terungkap setelah otoritas Turki menahan 16 warga negara Indonesia (WNI) lantaran diduga akan bergabung dengan ISIS. Laporan Polri menyebut nama-nama WNI yang ditahan itu antara lain: Ririn Andrian Sawir, Qorin Munadiyatul Haq, Nayla Syahidah, Jauza Firdaus Nuzula, Ikrimah Waliturohman, Alya Nur Islam, Agha Rustam Rohmatullah dan Abdurahman Umarov. Lalu, Tiara Nurmayanti Marlekan, Syifa Hidayah Kalashnikova, Daeng Stanzah, Ifah Syarifah, Ishaq, Asiyah Mujahidah, Aisyahnaz Yazmin, dan Muhammad Ihsan Rais.
Polri juga merilis nama-nama WNI yang belum diketahui keberadaannya di Turki antara lain: Usman Mustofamahdani, Sakinah Syawemitafsir, Hapid Umar Babher, Utsman Hafid, Atikah Hapid, Tsabita Utsman Mahdamy dan Salim Muhammad Atamim. Kemudian, Fauzi Umarsalim, Jusman Army, Ulan Isnuri, Hamara Hafshan, Aura Kardova, Dayyan Akhtar, Hamzah Hafiz, Sorayah Cholid, dan Urayana Afra.
Mereka diketahui melakukan perjalanan wisata ke Istanbul, dengan menggunakan agen perjalanan Smailing Tour. Setibanya di Istanbul, 24 Februari 2015, mereka memisahkan diri.
Segala cara dilakukan jaringan ISIS untuk merekrut anggota baru. Salah satu modusnya adalah pengiriman anggota baru dengan menawarkan perjalanan ibadah umrah gratis. Untungnya, sebanyak 257 warga Kabupaten Mesuji, Provinsi Lampung yang dijanjikan umroh gratis, secara bertahap dipulangkan ke kampung halamannya oleh aparat Kepolisian Resor Malang, Jawa Timur.

Pemulangan yang dilakukan sejak 16 Maret 2015 itu digelar setelah mereka tinggal di beberapa hotel, wilayah Kabupaten dan Kota Malang, sejak akhir tahun lalu. Keberadaan mereka di Malang untuk menunggu giliran berangkat umrah gratis yang digagas Agus Santoso, warga Desa Kebonsari, Kecamatan Sumbersuko, Kabupaten Lumajang.
Ada lagi modus dengan cara menikahi perempuan. Siti Lestari, mahasiswi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Solo dikabarkan hilang. Siti diduga dibawa calon suaminya, Bahrun Naim, ke Suriah. Lelaki itu adalah eks terduga teroris yang pernah ditangkap Tim Densus 88 Antiteror pada November 2010. Saat ditangkap dari rumah kontrakan di Pasarkliwon, Solo, polisi mengamankan ratusan butir peluru.
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT) Letnan Jenderal Saud Usman Nasution pernah menyebut jaringan teroris di Poso telah bergabung dengan ISIS. Jaringan teroris Poso dikenal sangat radikal. Indikasinya, Poso kerap dijadikan tempat pelatihan bersenjata yang dilakukan oleh beberapa kelompok yang dipimpin Abu Mus’ab Al Zarqawi Al Indunesi alias Santoso, Komandan Mujahidin Indonesia Timur.
Teroris Poso juga sering melakukan serangan yang menewaskan aparat kepolisian. Di Poso diduga ada puluhan gembong teroris sisa-sisa kelompok Poso. Abu Wardah alias Santoso alias Abu Yahya bukan satu-satunya pelaku tindak pidana terorisme yang diburu.
Menurut Saud, jaringan teroris Santoso di Poso masih merekrut militan-militan baru untuk bergabung dengan ISIS. Pergerakan para teroris di sana diduga bukan secara berkelompok, tetapi perpaduan antara individu-individu dari beragam kelompok.
Keberhasilan ISIS membangun jaringan-jaringannya di beberapa negara, tidak terlepas dari kemudahan mengakses teknologi dan informasi. Lewat instrumen tersebut, ISIS menebarkan paham-paham radikal tanpa batas, dengan cepat lewat internet.

ISIS sering menggunakan Youtube untuk menyebarkan misi dan visinya, target atau sasarannya, serta menebar teror kepada khalayak luas. ISIS juga memiliki akun twitter yang disadurkan dalam berbagai bahasa agar dapat dibaca dan dipahami banyak kalangan.
Untuk memaksimalkan transformasi paham-paham radikalnya, ISIS menyebarkan sejumlah media seperti CD, DVD, poster, pamflet, dan media propaganda lainnya via internet. Lewat internet, ISIS diketahui menebar paham-paham radikalisme di negara-negara barat lewat Al Hayat Media Center. Proganda radikalisme disebar dengan berbagai bahasa seperti Inggris, Jerman, Rusia dan Prancis.
ISIS mampu mentransformasikan paham radikal dengan luas lantaran menempatkan agama yang diyakininya paling benar. ISIS kemudian mendoktrin para pengikutnya untuk tunduk dan patuh terhadap nilai-nilai agama dan pemimpinnya, meski nyawa taruhannya. Para pengikutnya bersedia mati membela pemimpinnya dan mengembalikan masa-masa keemasan ketika dipimpin kekhalifahan Islam.
Doktrinasasi itu mampu memunculkan keyakinan pengikutnya untuk melakukan tindakan radikal dan menyatakan perang terhadap siapa pun yang berseberangan. Dengan dalih perjuangan menegakan Islam, ISIS mengajarkan pengikutnya untuk melakukan tindakan yang dilarang Islam, seperti membunuh.
M. Yamin Panca Setia