
Boleh jadi Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Perdana Menteri zionis Israel Benyamin Netanjahu masih mematut diri, menampakkan rasa sukacita. Mereka menganggap serangannya pada Ahad (21/6/25) dinihari sukses besar.
Lalu, merancang terus pencitraan diri melalui media internasional. Berusaha meyakinkan khalayak global, bahwa persekongkolan yang mereka bangun telah berjaya dengan serbuan bom tiba-tiba ke tiga situs nuklir Iran di Fordow, Natanz, dan Isfahan. Situs-situs yang diyakini Trump dan Netanjahu sebagai tempat Iran menyiapkan senjata nuklir.
Penyerangan AS atas tiga situs itu disertai pula ancaman, AS akan menyerang Iran dengan serangan lebih dahsyat bila melakukan pembalasan.
Trump dan Netanjahu sedang sama menyusun alasan yang mereka pandang bakal menjadi referensi kuat untuk menarik dukungan segera dari sekutu-sekutunya.
Netanjahu dengan pongah menyatakan, janjinya untuk menghancurkan fasilitas nuklir Iran, dengan dukungan AS sudah dipenuhi. Trump sendiri menyatakan serangan yang dilakukan AS berhasil.
Trump dan Netanjahu terkesan abai, bahwa yang mereka serang adalah Iran. Mereka tak paham, yang sedang mereka hadapi adalah Iran, negara yang sudah teruji, tak mudah dilipat begitu saja, meski dikucilkan, diblokade, dan diembargo secara ekonomi bertahun-tahun. Mereka salah memilih musuh.
Kementerian luar negeri Iran mengatakan serangan AS pada hari Ahad, itu terhadap fasilitas nuklir menunjukkan, Washington melanggar hukum internasional. Khasnya Pasal 2 ayat 4 Piagam PBB, seperti dikemukakan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi. Dan AS akan berulang kali melanggarnya.
"Sekarang menjadi sangat jelas bagi semua orang bahwa rezim yang menikmati keanggotaan tetap di Dewan Keamanan tidak terikat pada prinsip atau moralitas apa pun dan tidak akan berhenti melakukan pelanggaran hukum atau kejahatan apa pun untuk melayani tujuan rezim pendudukan yang melakukan genosida," ungkap Araghchi.
Pemimpin revolusi tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian, bahwa Iran tak bisa ditekan dan diancam.

Iran Membalas Serangan
Ayatollah Ali Khamenei menyatakan, bagi Iran tak ada damai dan perang yang dipaksakan. Sedangkan Presiden Iran Masoud Pezeshkian berulang kali menyatakan, selalu ada pembalasan untuk setiap serangan.
Para pemimpin Iran menyatakan, negaranya tak pernah ambil inisiatif mencari musuh dan menyerang, bila tak didahului. Karenanya, beberapa saat setelah AS menyerang tiga situs pengayaan nuklirnya, pasukan Garda Revolusi Iran segera melancarkan Operasi True Promise 3.
Para pejuang Iran di seluruh matra militernya kontan meluncurkan rudal canggih ke Bandara Ben Gurion Israel dan pusat penelitian biologi. Serangan balasan Iran berhasil. Karena sistem pertahanan tak sepenuhnya bisa ditangkal oleh sistem pertahanan zionis Israel.
Kementerian Luar Negeri Iran sudah melaporkan aksi AS kepada Dewan Keamanan PBB dan mengabarkan ke berbagai negara lainnya. Apa yang dilakukan Kementerian Luar Negeri Iran ini mengundang simpati banyak negara. Khasnya negara tetangganya, Irak.
PM Irak, Muhammad Shayya al-Sudani mengecam serangan AS. Ia menyerukan diplomasi untuk mencegah ketidakstabilan di Timur Tengah. Di tengah meningkatnya ketegangan tersebut, para pemimpin dunia mendesak pengendalian diri untuk mencegah konflik lebih lanjut.
Seruan itu selama ini tak pernah digubris zionis Israel, sehingga selama sepekan ini aksi saling serang Iran - Israel terus berlangsung. Iran berhasil menghunjamkan rudalnya di Tel Aviv, daerah pendudukan Jerusalem dan beberapa kota lainnya.
Atas serangan Iran yang sangat tangguh, dan berhasil menghancurkan mitos zionis Israel yang kuat. Netanjahu terpojok di negaranya sendiri. Warga kota-kota penting zionis Israel yang menjadi sasaran Iran digusarkan oleh bunyi sirene tanda bahaya yang nyaris tak berhenti.
Pernyataan Garda Revolusi Iran, Ahad (22/6/25) menyebutkan, bahwa mereka menargetkan beberapa lokasi di Israel strategis. 'Gelombang kedua puluh Operasi True Promise 3 dimulai dengan menggunakan kombinasi rudal berbahan bakar cair dan padat jarak jauh dengan daya hulu ledak yang dahsyat.'

Siap Berdiskusi
Ihwal pengayaan nuklir yang sering dijadikan alasan oleh zionis Israel dan AS, karena tak berhubungan dengan senjata nuklir, menurut Presiden Iran akan terus berlangsung 'dalam kondisi apa pun.'
Zionis Israel yang terus melakukan pemutarbalikan fakta dan informasi menyimpang, untuk kepentingannya, menyebutkan mereka telah menunda program nuklir Iran selama dua tahun.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian, menurut kantor berita Iran - IRNA, mengatakan, "Kami siap untuk berdiskusi dan bekerja sama untuk membangun kepercayaan di bidang aktivitas nuklir damai. Namun, kami tidak setuju untuk mengurangi aktivitas nuklir menjadi nol dalam kondisi apa pun," kata Pezeshkian dalam percakapan telepon dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron.
"Iran selalu manyampaikan, siap untuk memberikan jaminan dan membangun kepercayaan dalam aktivitas nuklir damai mereka dalam kerangka hukum internasional," kata Pezeshkian.
"Hak-hak yang diberikan kepada negara-negara dan bangsa-bangsa oleh hukum internasional tidak dapat diambil dari mereka dengan ancaman atau perang," ungkapnya kemudian.
Kementerian Kesehatan Iran menyebut, serangan Israel terhadap Iran telah menewaskan lebih dari 400 orang sejak dimulai pekan lalu. Kementerian Kesehatan Iran menyebutkan (Sabtu, 21/6/25).
Dalam akun X-nya, juru bicara Kementerian Kesehatan Iran, Hossein Kermanpour memuat naik informasi, "Hingga pagi ini, serangan Israel telah merenggut nyawa lebih dari 400 warga Iran yang tak berdaya dan menyebabkan 3.056 lainnya terluka oleh rudal dan pesawat tak berawak."
Sejumlah negara Uni Eropa menyiapkan jalan diplomasi. Tetapi, Trump mengabaikan upaya itu. Kepada wartawan ia mengatakan, "Eropa tidak akan dapat membantu dalam hal ini."
AS bahkan terlibat langsung dengan menyerang Iran dengan melontarkan bom penghancur bunker yang kuat -- dan tidak dimiliki negara lain -- di situs-situs pengayaan nuklir Iran. | jeeahan, haedar