
Bang Sem
DALAM kehidupan sehari-hari, yang memerlukan proses transformasi dan inovasi, sering kita dapat zombie di keliling kita. Siapa mereka? Yakni, manusia-manusia tanpa daya cipta yang sibuk mencari alasan pembenaran bagi kebebalan yang menyertai dirinya.
Para zombie di sekeliling kita, adalah manusia yang senang memproduksi masalah. Menghadang kita dengan aneka persoalan bertumpuk-tumpuk dan menggunung, kemudian menghadapkan kita dengan problematika membanjir. Mereka sibuk dengan dirinya sendiri, dan mengenakan alasan pembenaran sebagai busana kehidupannya sehari-hari.
Mereka yang diberikan kelebihan melihat dengan kejernihan hati, seringkali ngeri menyaksikan para zombie berkeliaran di lingkungan sosialnya. Mereka tersebar di kantor-kantor pemerintah, BUMN, perusahaan swasta, pusat-pusat perdagangan, bahkan di markas besar partai politik. Para zombie, itu terlihat laksana manusia yang seolah sibuk bekerja, padahal sibuk berkutat dengan persoalan dirinya yang tak pernah usai. Kadang mereka terlihat berpantalon rapi dengan dasi melilit di ujung kerah baju, atau berdandan cantik seolah perempuan karir yang chick.
Para zombie alias jenazah hidup yang adanya di mana saja selalu menjadi beban, itu termasuk golongan manusia yang kehilangan daya cipta, lalu menutupi kehilangannya dengan sikap ngeyel alias koppig. Manusia yang mati akalbudi, mati kepekaan pribadinya, dan mati sensitifitasnya sebagai manusia, sehingga adanya tak menggenapkan, tiadanya tak mengganjilkan. Macam mentimun bungkuk. Bahkan, dalam banyak hal, menjadi penebar virus kemalasan dan kepandiran..

Para failasuf memasukkan manusia semacam itu sebagai para zombie, karena mereka tak pernah mengenali dirinya, dan karenanya cuek dengan keadaan sekitar, dan tak pernah sadar dirinya menjadi common enemy, musuh kolektif manusia produktif. Ia tak tersentuh oleh dinamika kerja insan lain pada lingkungan sosialnya. Kalaupun menunjukkan aktivitas, lebih banyak menjadi duri dalam daging atau slilit (sisa daging di sela gigi). Keberadaannya merusak lingkungan sosial.
Keberadaan para zombie tidak hanya merugikan pemerintah atau perusahaan, karena ia juga merugikan hakekat keluhuran eksistensi manusia. Ia tak pernah sadar, bahwa keberadaannya tak diperlukan oleh lingkungan sosial manapun. Ia ada di suatu lingkungan sosial, mulanya karena orang ibu kepadanya.
Para zombie tak akan pernah merasa berdosa. Bahkan, merasa penting dan utama, meski dia tak diperlukan. Lantas, bagaimana mestinya kita bersikap terhadap para zombie? Boleh jadi, kita cuma bisa terkekeh menyaksikan para zombie. Bukan karena lucu, melainkan karena, kadangkala satu dua zombie dipelihara untuk mempertontonkan adanya manusia tak bermartabat yang merendahkan dirinya sendiri.

Bagaimana mungkin memelihara zombie hanya untuk kepentingan semacam itu? Tentu, sangat mungkin. Lave dan Wenger, salah dua pakar organizment imagineering, mengatakan, memelihara satu atau dua zombie, diperlukan untuk melihat authentically needed seluruh potensi manajemen, pada kurun waktu tertentu, secara sementara dalam menyusun parameter kinerja terburuk, untuk memperoleh parameter kinerja terbaik. Setelah itu, persilakan para zombie pergi ke dunianya sendiri.
Pada saatnya, para zombie harus dihantarkan dengan cara sangat tidak terhormat, ke tempatnya yang paling relevan dan sesuai, di luar lingkungan sosialnya, apalagi lingkungan bisnis. Kecuali, ketika para zombie itu berubah kembali menjadi manusia, memahami hakekat fungsi dan peran partisipatifnya di dalam institusi dan perusahaan. Dan, tahu diri.
Rocheffeler, termasuk salah seorang pengusaha yang – di masanya – suka memelihara satu atau dua zombie, agar ia bisa memuliakan mereka yang berprestasi dan berkontribusi terhadap kemajuan perusahaan. Lantas, menghinakan, siapa saja yang tidak berprestasi dan tak mampu berkontribusi terhadap perusahaan, sehingga hanya mereka yang berprestasi dan berkontribusi dengan baik dan berkualitas yang layak dimuliakan.
Kesemua itu menggambarkan, daya cipta sangat penting maknanya, karena manusia ditugaskan untuk selalu memberi dan menjadi solusi atas setiap masalah kehidupan. Daya cipta memungkinkan manusia ‘hadir sebagai manusia’ yang diberi kelebihan akal dan pikiran. Tak sekadar makhluk yang dicipta Tuhan dari tanah belaka. Bukan zombie. |