Platinum Track Bang Sem

Perihal Harta dan Kuasa

| dilihat 2461

 

DALAM kehidupan sehari-hari, seringkali kita menyaksikan banyak manusia menjadikan harta sebagai ukuran sukses. Paham materialisme dan individualisme, mendorong manusia berfikir semacam itu. Padahal, secara ruhaniah, korelasi harta dan kesuksesan terletak seberapa jauh manusia menjadi subyek atas hartanya.

 

Karena itu, indikator atau parameter sukses yang sesungguhnya adalah kedermawanan, sehingga harta yang diperoleh seseorang mempunyai nilai kemanfaatan lebih luas.

 

Dalam konteks nilai hakiki sukses, harta hanyalah instrumen yang menyebabkan manusia mempunyai makna di lingkungan sosialnya. Mulai dari lingkungan sosial terkecil, hingga lingkungan sosial yang lebih luas.

 

Di tangan manusia yang dermawan, harta merupakan simbol kemakmuran, sebaliknya harta di tangan manusia yang boros merupakan simbol ketandusan, berbuah kemelaratan.

 

Di tangan manusia dermawan, harta menjadi penggerak kehidupan ekonomi yang bertalian satu dengan lainnya. Nilai kemanfaatannya berkembang.  Itulah sebabnya, orang yang dermawan disebut sebagai orang yang sukses. Sebaliknya di tangan manusia yang kikir, harta tak memberi manfaat, dan lenyap begitu saja. Orang yang kikir tidak termasuk kategori manusia yang sukses.

 

Sukses yang sesungguhnya bagi manusia sebagai makhluk individual dan makhluk sosial adalah pencapaian optimal, sehingga keberadaannya di tengah lingkungan sosial (masyarakatnya) terasa (dapat dirasakan) manfaatnya oleh manusia lain. Karena nilai kemanfaatan eksistensinya itulah, para dermawan selalu mempunyai jalan untuk terus bergerak maju mencapai sukses yang lebih baik.

 

Kedermawanan adalah jalan sukses yang berimbal kemuliaan, baik di dunia maupun di akhirat. Beranjak dari pemahaman demikian, maka para dermawan dikatakan sebagai manusia sukses yang melambangkan kemakmuran dan kesuburan. Mereka memperoleh harta dengan jalan halal dan thayyib (baik), kemudian menjadikan hartanya itu sebagai bagian dari ibadahnya kepada Tuhan.

 

Sebaliknya, manusia yang kikir dikatakan sebagai lambang ketandusan, karena apa yang mereka miliki, sirna tanpa bekas, dan banyak menimbulkan berbagai masalah di kemudian hari. Mereka memperoleh harta dengan jalan haram dan buruk. Misalnya: korupsi.

 

Pailit

 

HARTA adalah sumber pemicu nafsu. Harta yang diperoleh dengan cara halal dan baik menjadi tiang-tiang kokoh penyangga kemuliaan dan kemakmuran hidup melintasi dimensi ruang dan waktu. Khususnya harta yang diperoleh dari bekerja secara adil (memenuhi kewajiban untuk memperoleh hak) dan berniaga secara halal, jauh dari derivasi yang menjebak. Dan karenanya, membawa efek terhadap dua faktor yang menyertainya: ahli waris yang shaleh dan shalehah, seraya mampu memberi nilai lebih atas harta itu sebagai penggerak kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat. Dan, sukacita kehidupan yang dirasakan manfaatnya secara luas.

 

Sebaliknya, harta yang diperoleh dengan cara yang haram dan tidak benar, akan meruntuhkan manusia, sehingga mencapai titik nadir penderitaan berkepanjangan. Baik di dunia maupun di akhirat. Mereka termasuk dalam kategori manusia yang pailit secara spiritual dan jasmaniah. Pada mereka, harta akan meninggalkan dua faktor yang menyedihkan: ahli waris yang durhaka dan bencana kemelaratan tak terperikan.

 

Mereka yang kikir dikatakan sebagai manusia yang gagal, karena pada mereka harta terpisah dari hikmah, karena sukses sebagai kesempurnaan pencapaian hidup manusia tidak menggantungkan diri kepada harta yang ditumpuk dan kehilangan dayaguna dan hasilguna-nya. Melainkan berpijak di atas hikmah kehidupan yang berujung pada kebahagiaan.

 

Mereka yang dermawan menempatkan sukses sebagai realitas. Karenanya, bagi mereka sukses yang diperoleh merupakan sukses yang senyatanya. Yaitu, sukses yang berdimensi sosial. Pada mereka, keberanian hidup mengalir, laksana satria yang selalu siaga terhadap berbagai fenomena kehidupan duniawiah, yang selalu bergerak naik dan turun. Akan halnya mereka yang kikir, menempatkan sukses sebagai fatamorgana yang berkembang menjadi ilusi dan fantasi. Sukses yang hanya dipahami secara personal dan individual. | 

Editor : M. Yamin Panca Setia
 
Lingkungan
05 Sep 26, 11:26 WIB | Dilihat : 354
Hutan Kalimantan Membara Jerebu Kepung Sarawak
24 Agt 26, 19:51 WIB | Dilihat : 393
Angin Selatan Hantar Jerebu ke Serawak dan Brunei
19 Jun 26, 11:49 WIB | Dilihat : 673
Penang
07 Jun 26, 12:42 WIB | Dilihat : 768
Jakarta Baur Budaya
Selanjutnya
Sainstek