
AKARPADINEWS.COM| Tingginya biaya hidup dan tuntutan gaya hidup, memaksa penghuni kota-kota besar, untuk peras keringat. Mereka dituntut bertarung memperebutkan sumber-sumber ekonomi di tengah makin terbatas kesempatan kerja. Tekanan kerja yang membatasi ketenangan jiwa juga menyebab meningkatnya psikotik (kegilaan).
Di DKI Jakarta misalnya. Data dari Dinas Bina Mental dan Spiritual Provinsi DKI Jakarta menunjukan, di tahun 2015, penghuni di empat Panti Sosial Bina Laras yang dikelola Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, mengalami over kapasitas. Dari daya tampung maksimal 750 orang gila, panti-panti itu terpaksa menampung lebih dari 1.200 orang gila.
Sampai-sampai, beberapa rumah sakit jiwa seperti Rumah Sakit Jiwa Grogol, berencana menambah barak untuk mengatasi lonjakan penghuni. Kondisi itu makin memprihatinkan.
Sebelum menderita psikotik, para pekerja mengalami depresi dan syndrom burnout. Kebanyakan mereka tidak menyadari syndrom ini hingga mencapai tahap kulminasi kegilaan.
Burnout adalah tahapan lanjutan pasca stress dan memiliki efek berbahaya bagi psikologi para pekerja. Fenomena ini telah dianalisa oleh para psikolog Amerika sejak 1970-an, saat manusia memasuki era industri dan modern.
Psikolog Pines dan Maslach menjelaskan, burnout merupakan kelelahan secara fisik, emosional, dan mental yang disebabkan keterlibatan jangka panjang dalam situasi yang penuh dengan tuntutan emosional dalam pekerjaan.
Dalam tulisan Pines dan Maslach berjudul: Burn Out Inventory Manual, faktor penyebab burnout adalah keletihan emosi (emotion exhaustion), ganggunan kepribadian yang selalu merasa sendiri (depersonalization), dan pencapaian pribadi yang tidak memuaskan (personal accomplishment).
Korban burnout merasa terjepit dengan kondisi kerja yang menyebabkan energinya terbakar hingga merasa jiwanya kosong. Dalam kondisi psikis demikian, korban terlihat selalu mengeluh, sinis, mudah tersinggung, marah, depresi, dan menarik diri.
Korban burnout merasa, kehidupannya telah kehilangan arti. Pekerjaan yang dahulu menggairahkan, menjadi membosankan dan menyakitkan. Dia menjadi frustasi lantaran dijejali banyak pekerjaan. Hingga akhirnya selalu emosi dan hilang kebanggaan atas kerja-kerja yang dilakukannya.
Kebanyakan korban burnout dialami para pekerja yang ambisius dan gila kerja. Bagi mereka, waktu sangat berharga. Mereka tidak ingin menyia-nyiakan waktunya karena khawatir akan tersingkir dari persaingan kerja. Korban burnout juga seorang individualis dan bekerja secara robotik. Dia terperangkap dalam rutinitas kerja yang stagnan.
Lantas, apa yang harus dilakukan untuk menyembuhkan burnout? Metode penyebuhan oleh diri sendiri dapat dilakukan, dengan terapi relaksasi. Tetapi, bila burnout mencapai tingkat yang kronis, maka perlu terapi ke psikiater dan bantuan dari para pihak yang terdekat seperti rekan kerja dan keluarga.
Agar terhindar dari burnout, maka perlu mengukur kemampuan diri, memperlakukan diri secara manusiawi, dan menyadari bahwa hidup ini tidak hanya untuk bekerja. Diperlukan keseimbangan guna mendapatkan ketenangan jiwa.
Ratu Selvi Agnesia