Meraih Cahaya di Atas Cahaya

| dilihat 6651

AKARPADINEWS.COM | CAHAYA merupakan gelombang elektromagnetik yang membuka jalan bagi mahluk hidup di dunia dalam menjalani aktivitas kehidupannya. Bagi manusia, cahaya memudahkan untuk melihat, mendengar dan menerima sesuatu, belajar, mengembangkan ilmu pengetahuan, menggunakan peralatan-peralatan, mengukur jarak benda-benda angkasa, mengukur kedalaman laut, bahkan mengintip benda angkasa yang tersembunyi di alam jagat raya.

Dengan cahaya, manusia dapat melihat isi perut manusia, kondisi bayi dalam kandungan, kondisi otak yang ada di kepala, mengidentifikasi patahnya tulang, struktur atom benda padat, bahkan untuk melihat benda yang berukuran kecil seperti sel, bakteri, dan benda-benda mikro lainnya. Cahaya juga diperlukan dalam proses fotosintesis tumbuh-tumbuhan. Istilah cahaya juga dipakai sebagai petunjuk untuk pencerahan jiwa manusia atau pembimbing untuk menemukan kebenaran sejati.

Cahaya yang selalu bergerak dan tidak diam itu adalah milik Allah SWT yang diberikan kepada makhluk hidup di alam semesta. Ar Ragib Al Asfahani, seorang pakar bahasa Al Qur’an mengklasifikasikan kata cahaya yang tercantum dalam Al Qur’an menjadi dua bagian, yaitu cahaya duniawi (keduniaan) dan cahaya ukhrawi (alam akhirat).

Cahaya duniawi terbagi menjadi dua: Pertama, cahaya yang difahami dengan penglihatan akal dan mata hati (‘ainul bashiirah) yaitu cahaya yang berkaitan dengan perkara-perkara ketuhanan seperti cahaya Al Qur’an dan cahaya akal. Kedua, cahaya yang mampu dirasakan indera penglihatan secara lahiriah (‘ainul basyr), yaitu cahaya yang berkaitan dengan benda-benda yang bersinar seperti bulan, bintang, dan benda-benda yang bersinar lainnya. Sedangkan cahaya ukhrawi adalah cahaya yang memancar dari seorang muslim sejati di alam akhirat nanti. Pancaran cahaya itu tergantung dengan perbuatan baiknya semasa hidup di dunia.

Begitu pentingnya cahaya, sampai banyak disebutkan di dalam kitab suci Al Qur’an, bahkan digunakan sebagai nama sebuah surat yaitu Surat An-Nur, di mana Allah SWT berfirman, “Allah (pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya, seperti sebuah lubang yang tidak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam tabung kaca (dan) tabung kaca itu bagaikan bintang yang berkilauan, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang diberkahi, (yaitu) Pohon Zaitun yang tumbuh tidak di timur dan tidak pula di barat, yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah memberi petunjuk kepada cahaya-Nya bagi orang yang Dia kehendaki, dan Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia. Dan, Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. An-Nur: 35).

Firman Allah SWT itu menegaskan, Allah adalah Pencipta segala sesuatu, agar kebesaran-Nya dapat disaksikan mata dan dapat dibaca oleh orang-orang yang beriman. Ibnu Abbas berpendapat, ini menjadi contoh bagi cahaya Allah dan petunjuk-Nya yang ada dalam hati seorang muslim sejati.

Jika minyak lampu dapat bercahaya sendiri sebelum disentuh api, apalagi bila disentuh api, maka bertambah cemerlang cahayanya, maka seperti itu pula hati seorang muslim sejati. Dia selalu mendapat petunjuk dalam tindakannya sebelum dia diberi ilmu. Apabila dia diberi ilmu, akan bertambahlah keyakinannya, dan bertambah pula cahaya dalam hatinya.

Ayat tentang cahaya banyak mengilhami para sufi. Karena itu, tidak heran bila tema cahaya menjadi salah satu tema kajian sentral dalam beberapa karya para sufi. “Cahaya” dalam banyak hal menjadi konsep strategis terminologi spiritual (tasawuf) yang biasanya dilambangkan secara majazi (kiasan) dengan pengetahuan. Hakikat Allah sebagai Cahaya, telah mewariskan pengaruhnya terhadap spiritualitas Islam baik dari kalangan sufi (tasawuf) maupun para filosof (filsafat Islam).

Imam Al-Ghazali melalui kajian tafsir esoteris sufistik menafsirkan istilah al-misykaat, al-mishbaah, al-zujaajah, al-syajarah, dan al-zait, sebagai daya-daya ruh yang ada dalam diri manusia untuk meraih cahaya Allah. Siapa yang dapat menggapai hakikat, maka dengan mudah untuk membuka tabir perumpamaan yang ada dalam Al Qur’an.

Al-misykaat (lubang yang tidak tembus) ditafsirkan sebagai ruh inderawi (indera), berfungsi menerima sesuatu yang dikirim pancaindera, al-mishbaah (pelita) ditafsirkan sebagai ruh aqli (akal) yang berfungsi untuk menangkap makna-makna mulia ketuhanan (ilahiyyah). Sementara al-zujaajah (kaca) ditafsirkan sebagai ruh khayali (imajinasi) yang berfungsi merekam informasi yang diberikan pancaindera, kemudian menyimpannya lalu dikirim ke ruh akal di saat memerlukannya.

Kemudian al-syajarah (pepohonan) ditafsirkan sebagai ruh fikri (pemikiran) pohon yang menghasilkan banyak buah, maka ia disebut Mubaarakah (diberkahi). Karena itu akan lebih pantas untuk menyebut pohon yang buahnya tidak mengenal batas (daya reflektif manusia) dengan “pohon yang diberkahi.” Sedangkan disebut “tidak timur dan tidak juga barat (laa syarqiyyatan wa laa gharbiyyatan) adalah karena pemikiran-pemikiran murni rasional tidak bisa dikatakan memiliki arah, atau jarak dekat atau jauh, dan karena itu tidak pantas untuk disebut timur atau barat.

Sedangkan Al-zait (Minyak zaitun) akan menyala sekalipun tidak disentuh api, merujuk pada daya-daya suci kenabian, perumpamaan para nabi yang seringkali hadir dalam jiwa mereka yaitu rahasia-rahasia segala sesuatu dan dinisbatkan kepada para waliyyullah ketika ia mencapai tingkatnya yang paling mulia dan murni.

Para filosof muslim biasanya menjelaskan daya reflektif manusia kepada dua jenis. Pertama, yang membutuhkan pengajaran, penyadaran dan bantuan dari luar, sehingga manusia dapat terus mengambil bagian dari banyak jenis ilmu pengetahuan. Kedua, karena memiliki kemurniannya yang begitu intens, manusia tersadarkan dengan sendirinya tanpa bantuan dari luar.

Dengan demikian, yang dimaksud dengan “cahaya” dalam ayat Al Quran dipahami bahwa “Allah akan membimbing dengan cahaya-Nya, siapa yang dikehendaki-Nya,” bukan hanya berupa agama, sebagaimana yang sering dipikirkan. Namun, juga meliputi semua daya-daya jiwa dan potensi yang dimiliki manusia, seperti indera, akal, imajinasi, dan hati atau intuisi.

Maka dapat disimpulkan bahwa Allah membimbing manusia melalui indera, akal, imajinasi, dan hati atau intuisi. Karena itu bila manusia ingin mendapat bimbingan atau cahaya dari Allah, maka ia harus menggunakan daya-daya itu sebaik-baiknya.

Sebelum menggunakan daya-daya yang ada pada diri manusia sebagai syarat memperoleh bimbingan cahaya Allah, terlebih dahulu manusia harus melatih, mendidik, dan menumbuhkembangkannya sejak dini. Dengan begitu, seluruh potensi yang ada pada diri seseorang akan terdidik dan termaksimalkan.

Masing-masing dari potensi itu, bila dilatih dan dididik, akan melahirkan manusia yang profesional dalam bidang yang beraneka ragam. Dengan potensi daya indera, daya akal, daya imajinasi, dan daya hati atau intuisi yang terlatih secara maksimal, maka akan lahir olahragawan-olahragawan ataupun saintis-saintis yang handal, para pemikir ataupun para filosof yang mumpuni, seniman-seniman ataupun arsitek-arsitek yang kreatif imajinatif dan spritualis-spiritualis atau agamawan-agamawan yang santun bijaksana.

Semua potensi daya tersebut telah ada dalam diri setiap manusia, meskipun sangat mustahil seseorang bisa menghimpun sekaligus keempat potensi daya keahlian itu dalam dirinya. Akan tetapi, Nabi Muhammad SAW sebagai manusia paripurna, dapat menghimpun keempat keahlian tersebut dalam dirinya. Berkumpulnya daya keahlian manusia sekaligus di dalam kepribadian Nabi Muhammad SAW, dimaksudkan agar seluruh manusia dapat meneladani sifat-sifat terpuji Nabi Muhammad SAW.

Potensi-potensi daya manusia itu adalah cahaya-cahaya yang menjadi prasyarat bagi teraihnya cahaya atau bimbingan Allah. Orientasi hidup seluruh potensi yang ada pada manusia sejatinya harus diarahkan pada upaya meraih cahaya atau bimbingan Allah. Karena cahaya Allah adalah cahaya hakiki, cahaya di atas segala macam cahaya. Bimbingan atau cahaya Allah itu tidak lain adalah meraih jalan lurus menuju kepada-Nya dan meninggalkan segala bentuk kemaksiatan.

Imam Syafi’i berkata dalam syairnya, “Aku mengadu kepada Waki’ (Guru Imam Syafi’i) tentang buruknya hafalanku, lalu Ia menasihatiku agar meninggalkan kemaksiatan, Ia memberitahuku bahwa ilmu itu adalah cahaya, dan cahaya Allah tidak diberikan kepada orang yang berbuat maksiat.

Semoga Allah SWT selalu memberikan bimbingan atau cahaya-Nya kepada manusia, seraya mengangkat tangan berdo’a kepada-Nya dengan penuh keikhlasan. “Ya Allah, wahai pencipta cahaya, wahai pembentuk cahaya, wahai yang menjadikan cahaya. Berikanlah cahaya di dalam indera, akal, pikiran dan hati kami, berikanlah cahaya terhadap pendengaran dan pandangan kami, berikanlah cahaya dari arah belakang kami, arah depan, arah atas, dan arah bawah kami. Ya Allah, limpahkanlah selalu shalawat dan salam kepada junjungan kami Nabi Muhammad SAW yang telah Engkau jadikan sebagai pelita cahaya pembawa kebenaran yang terang benderang beserta segenap keluarga dan sahabat beliau yang mengikuti jejak perjalanan beliau SAW dengan baik. Aamin Yaa Rabbal ‘Aalamiin.

Anwar Rizqi  

Editor : M. Yamin Panca Setia
 
Seni & Hiburan
16 Nov 25, 10:19 WIB | Dilihat : 1314
Hazieq Rosebi Berjenaka dengan Nurlela
19 Nov 24, 08:29 WIB | Dilihat : 3455
Kanyaah Indung Bapak
Selanjutnya
Energi & Tambang
31 Agt 26, 07:54 WIB | Dilihat : 267
Jebolan Pertamuda Pertamina Bantu Nelayan dengan Iwak
28 Agt 26, 17:30 WIB | Dilihat : 298
PHE Perkuat Kemitraan Masyarakat
18 Agt 26, 18:17 WIB | Dilihat : 465
PHE Pertegas Komitmen Jaga Ketahanan Energi Nasional
17 Jul 26, 17:25 WIB | Dilihat : 453
Monetisasi Gas Sengeti Dorong Investasi Baru di Jambi
Selanjutnya