Renungan Akhir Bulan

Membaca Isyarat Zaman di Tengah Krisis Dunia

| dilihat 138

Haedar Muhammad

Hidup tak pernah tertambat di masa lalu, tak juga hendak ngendon berlama-lama di masa kini. Hidup terus bergerak ke masa depan.

Di hari-hari lalu, masa depan dapat diprediksi. Percepatan perubahan yang didorong oleh perkembangan sains dan teknologi dengan membawa perubahan besar budaya, memungkinkan para kaum cendekia di masanya, melakukan prediksi.

Kini tidak lagi. Perkembangan sains, teknologi, sosial, dan budaya bergerak sedemikian dinamis dan cepat. Bahkan mengubah sosio habitus, norma, dan nilai.

Globalisasi yang ditawarkan George Soros lewat jalur ekonomi dengan penguatan kapitalisme ternyata tak kokoh. Struktur ekonomi negara-negara (bahkan negara adidaya) ternyata tak cukup kuat menghadapi perubahan sontak. Berulangkali dunia dilanda krisis ekonom dengan proses pemiskinan umat manusia yang nyata.

Pandemi nanomonster Covid-19 yang sudah melanda dunia hampir 24 bulan, menunjukkan, bagaimana masyarakat modern dihadapkan oleh kegamangan, ketidakpastian, keribetan, dan kemenduaan yang sangat parah.

Arus pemikiran tentang deglobalisasi dihadapi oleh kaum kapitalis dengan upaya luas mempertahankan sekaligus mengembangkan spirit globalisasi. Kedua arus pemikiran itu bertarung di tengah medan krisis kesehatan, ekonomi, sosial, dan politik.

Perkembangan sains dan teknologi, yang melesatkan perkembangan teknologi informasi dengan mendahulukan pengembangan gadget dan artificial intelligent, terbukti hanya menimbulkan budaya singularitas yang membuat manusia amat bergantung pada keduanya.

Kemanfaatan luas singularitas yang berkembang paralel dengan perkembangan budaya 'gampangan' -- termasuk menggampangkan persoalan -- tak dibarengi dengan upaya meningkatkan kemampuan dan pemampuan melayari transhumanisma.

Upaya mengembangkan pemikiran baru tentang Society 5.0 berbasis internet on think dan artificial intelligent, yang diteliti dengan intens dan dicoba aplikasinya oleh Jepang, masih trial and error. Terutama, karena orientasi industri  dalam berbagai skala, masih belum bergeser dari polanya yang berkembang di abad 20.

Baik karena masih kuatnya ketergantungan pada kecenderungan eksploitasi sumberdaya alam, yang dalam banyak hal, terbukti justru merusak alam dan lingkungan.

Berbagai kebijakan di berbagai negara yang memberi kemudahan regulasi terkait dengan investasi, dengan mengendurkan perlindungan atas sumberdaya alam (karena tiadanya politik sumberdaya alam), tidak mempunyai daya tarik dan daya dukung investasi.

Kesadaran ekologis dari puluhan investor dunia, justru membuat para investor dunia tersebut tidak tertarik dan tak mau terkecoh oleh kebijakan berbagai negara yang memandang penanaman modal asing (foreign direct investment) sebagai solusi untuk keluar dari krisis ekonomi yang memiskinkan.

Banyak pertimbangan lain yang mempengaruhi sikap dan aksi investor menyikapi berbagai kebijakan tersebut. Salah satu di antaranya adalah ketidak-mampuan sistemik berbagai negara, khususnya negara-negara berkembang yang menempatkan diri sebagai destinasi investasi, menangani pandemi nanomonster Covid-19.

Pertarungan bisnis vaksin yang dikuasai oleh negara - negara industri maju masih menggunakan pola lama, hanya melihat negara-negara yang menjadi korban wabah, sebagai pasar. Termasuk menghambat gagasan-gagasan, kreativitas, dan inovasi lokal di sejumlah negara yang gigih melakukan riset dan inovasi menaklukan Covid-19.

Generasi Baru Pemimpin

UNTUK mempertahankan eksistensi dalam  menegaskan diri sebagai 'penguasa dunia,' sejumlah negara industri yang mempertahankan kapilatisme global, tak lagi peduli pada isu-isu klasik tentang keadilan dan kemanusiaan, termasuk politik apartheid, aksi politik genosida dan cleansing ethnic, dengan dan dalam berbagai format, formula, bahkan platform.

Industri dan perdagangan senjata terus dikembangkan, dengan mengabaikan prinsip-prinsip dasar demokrasi, ketimpangan sosial, pemiskinan sistemik, dan berbagai aspek sosio-budaya yang menyertainya.  

Gerakan massif global dalam konteks islamophobia - kekuatiran terhadap Islam, menjadi pilihan tersendiri, di sebalik isu-isu radikalisme dan terorisme yang paralel dengan gerakan sekularisasi yang bahkan berkembang di negara-negara berbasis Islam, seperti Saudi Arabia, Uni Emirat Arab, Qatar, dan mitra sekufunya,

Umat Islam dunia dipancing masuk kubangan fantasi dengan menghidupkan pertentangan historis terkait mazhab, termasuk polarisasi Sunni versus Syi'ah, Wahabiah, yang akan bermuara pada penghancuran adab dan keberadaban Islam.

Dengan cara ini, dimensi nilai dasar islam -- egaliterianisma, keadilan, kemanusiaan, integralitas, kolektivitas -- yang mendasari sistem Islam (salam - salima) yang berorientasi kesejahteraan dan kebahagiaan semesta (universe prosperity) diserimpung begitu rupa.

Selaras dengan itu, berbagai negara berpenduduk muslim mayoritas dengan potensi demokrasi yang besar, tak kan henti menjadi sasaran aksi kejahatan kemanusiaan. Mulai dari pembiaran berkembangnya korupsi, pengucilan, sampai aneksasi -- termasuk memperlakukan Palestina sebagai satu-satunya wilayah penjajahan fisik kekuatan besar dunia.  

Peran negara-negara Islam atau berpenduduk muslim terbesar di lembaga internasional, juga kian dipersempit ruang geraknya.

Pandemi nanomonster Covid-19 dari masa ke masa membuka satu persatu tanda-tanda zaman. Khususnya bagi negara-negara Islam dan berpenduduk mayoritas muslim, untuk merancang peradaban baru yang egaliter, demokratis, adil, dan sungguh berorientasi pada kehidupan dunia yang sejahtera, aman, damai, dan tenteram.

Tentu bukan perjuangan yang mudah. Khususnya dalam menegaskan prinsip 'rahmat atas semesta.' Terutama dalam menghidupkan kembali kesadaran hidup 'sebersih-bersih tauhid, ilmu pengetahuan, dan siyasah.' Khasnya, untuk membalik kemiskinan, menguatkan daya dukung alam dan lingkungan, menguatkan daya ekonomi di lapisan menengah yang mampu berhadap-hadapan dengan ekonomi dunia yang dikuasai negara-negara industri yang tengah sempoyongan.

Setarikan nafas, dalam konteks pemulihan kehidupan dengan peradaban baru, diperlukan generasi baru potensial dan mumpuni untuk memimpin di berbagai negara. Mereka yang layak dan patut menjadi 'jelmaan' Dzulkarnain yang ditugaskan Allah melindungi umat manusia dari kezaliman Ya'juj dan Ma'juj. |

Editor : eCatri
 
Ekonomi & Bisnis
14 Mar 21, 23:46 WIB | Dilihat : 341
Sindroma Ambivalensia
16 Des 20, 07:56 WIB | Dilihat : 510
Peta Bank Syariah di Indonesia Berubah
09 Okt 20, 21:01 WIB | Dilihat : 497
Mengharap Garuda di Langit
03 Okt 20, 19:40 WIB | Dilihat : 433
KAMI Tolak Bailout Jiwasraya 22 Triliun Rupiah
Selanjutnya
Budaya
26 Jul 21, 14:50 WIB | Dilihat : 47
Selarik Kata untuk Jakarta
28 Jun 21, 20:58 WIB | Dilihat : 108
Remy Sylado Bianglala Kebudayaan Indonesia
20 Jun 21, 22:45 WIB | Dilihat : 96
KUNUK
Selanjutnya