
AKARPADINEWS.COM | JUMLAH sepeda motor di Indonesia menempatkan rekor tertinggi di dunia. International Transport Forum (ITF) Annual Summit 2014 di Leipzig, Jerman, melaporkan jika jumlah sepeda motor di Indonesia di tahun 2014 menembus angka 70 juta unit.
Membludaknya penggunaan sepeda motor itu menunjukan jika sepeda motor di Indonesia tidak hanya menjadi sarana transportasi. Namun, kendaraan roda dua itu seakan menjadi identitas Indonesia sebagai negara berkembang.
Menjadi fenomena yang menarik tatkala negara-negara yang memproduksi motor seperti Jerman dan Jepang justru sedikit yang warganya menggunakan sepeda motor. Mereka lebih suka naik sepeda karena menyehatkan dan ramah lingkungan dan kereta api sebagai transportasi publik yang lebih tertib bergerak dari satu tempat ke tempat lain.
Fenomena itu menunjukan jika Indonesia telah menjadi pasar menggiurkan bagi negara-negara produsen motor. Sarana transportasi itu dengan mudah melakukan penetrasi ke pasar domestik lantaran mental masyarakat Indonesia yang umumnya mengandrungi gaya hidup yang serba instan, tanpa berpikir dampaknya.
Keberadaan sepeda motor di Indonesia tidak terlepas dari pengaruh asing dan fungsinya sebagai alat transportasi di pabrik. John C Potter, warga asal Inggris, pada tahun 1893 dikenal sebagai seorang masinis pertama di pabril gula Oembol-Jawa Timur yang memperkenalkan sepeda motor di Indonesia. Dia juga dikenal sebagai penjual mobil dari Eropa.
Dalam buku Kreta Setan (de duivelswagen) disebutkan bila Potter memesan sepeda motor itu ke pabriknya, Hildebrand und Wolfmuller, di Muenchen, Jerman, sebagai produk motor pertama di dunia yang dibuat oleh Gottlieb Daimler dan Wilhelm Maybach. Kala itu, motor itu belum dijual di pasaran. Produk itu datang pertama kali ke Indonesia pada tahun 1893.
Dan, dua tahun kemudian, sepeda motor komersial pertama tersebut masuk Amerika Serikat (AS). Bisa jadi, sepeda motor yang pertama kali masuk ke Indonesia itu merupakan sepeda motor pertama yang meluncur di tengah-tengah aktivitas masyarakat.
Sepeda motor pertama ini tidak menggunakan rantai. Roda belakang digerakkan langsung oleh kruk as (crankshaft). Meski berusia ratusan tahun, ternyata motor komersial pertama di dunia ini sudah mengusung teknologi yang sampai saat ini masih dipakai. Selain itu, sepeda motor ini belum menggunakan persneling, magnet, dan aki (accu), koil, dan kabel listrik. Diperlukan waktu sekitar 20 menit untuk menghidupkan dan mestabilkan mesinnya.
Pada tahun 1899, di negeri ini juga sudah hadir sepeda motor listrik beroda tiga yang menggunakan tenaga baterai, yang bernama De Dion Bouton Tricycle buatan Perancis. Sepeda motor listrik beroda tiga itu juga digunakan untuk menarik wagon (gerobak/gerobak) penumpang. Merek sepeda motor lainnya merambah di Indonesia di tahun 1902 yang juga digunakan untuk menarik wagon. Motor itu merek Minerva buatan Belgia.
Di tahun 1906, Administratur Bantool (Bantul) di Yogyakarta juga diketahui mengendarai sepeda motor dan beberapa buah mobil. Pada masa itu, memang hanya orang Belanda dan Inggris serta pribumi dari golongan ningrat yang mempunyai kemampuan membeli sepeda motor. Jumlah sepeda motor pun terus bertambah sehingga melahirkan klub-klub touring sepeda motor, yang anggotanya adalah pengusaha perkebunan dan petinggi pabrik gula.

Saat ini, konsentrasi penggunaan motor yang begitu besar telah merambah hampir di semua kota di Indonesia. Akibatnya, kemacetan, polusi, ganguan ketertiban menjadi pemandangan sehari-hari tatkala melaju di jalur-jalur perkotaan. Bahkan, di kota-kota besar seperti DKI Jakarta, pengguna sepeda motor seringkali menerobos jalur para pejalan kaki. Untuk menghindari kemacetan, mereka melewati trotoar. Perilaku yang mengabaikan tata tertib berlalu lintas juga sering terlihat akibat membludaknya pengguna sepeda motor tidak diimbangi dengan perluasan infrastruktur jalan raya.
Dalam kondisi demikian, menjadi tugas pemerintah untuk melakukan penertiban. Selain menerapkan peraturan yang tegas, pengawasan juga perlu ditingkatkan untuk menekan angka pelanggaran berlalu lintas. Namun, pemerintah sendiri seakan tak berdaya. Apalagi, ketika menyangkut kepentingan investasi asing di sektor otomotif. Dengan dalih mendapatkan keuntungan dari pajak, produksi otomotif terus digenjot, tanpa mempertimbangkan dampaknya.
Membludaknya pengguna motor rupanya tidak hanya menjadi persoalan transportasi saja. Beberapa waktu lalu, masyarakat dihantui aksi kekerasan para begal dan geng motor. Selain itu menurut data Badan Kesehatan Dunia (WHO), penggunaan motor berkontribusi pada angka kecelakaan lalu lintas dan angka kematian terbesar di Indonesia. Sebanyak 67 persen, korban kecelakaan di jalan raya adalah usia produktif 22-50 tahun akibat pelanggaran pengendara motor di jalan raya.
Fenomena lain yang menarik saat ini adalah penggunaan Gojek di Jakarta yang dikelola oleh pihak swasta. Gojek merupakan jasa armada ojek yang dikelola PT GO-JEK Indonesia sejak tahun 2014. Perusahaan penyedia jasa layanan transportasi itu secara online mengerahkan armadanya di lebih dari 151 titik pangkalan dengan 200 supir ojek.
Keberadaan Gojek pun mulai memicu konflik perebutan lahan kerja antara pengendara ojek keliling dan Gojek. Supir ojek keliling merasa penumpangnya banyak beralih ke Gojek. Alhasil, supir Gojek pun kerap mendapat ancaman dari pesaingnya. Konflik ini membuat Gubernur Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) merasa geram dan melakukan pembelaan pada Gojek sebagai jasa layanan ojek yang tertib.
Namun, di sisi lain, ada kesan kapitalisasi terhadap layanan jasa tersebut. Penerapan Gojek tidak mempertimbangkan relasi sosial dan ekonomi masyarakat, khususnya dari kalangan menengah ke bawah. Dan, perlu juga diketahui, fenomena ojek di setiap pangkalan, mengadopsi nilai paguyuban yang mengajarkan para tukang ojek tradisi untuk saling bergantian dalam melayani penumpang. Diberlakukan pula tawar menawar ongkos antara konsumen dengan supir ojek. Pemerintah DKI Jakarta dan pihak swasta nampaknya mengabaikan tradisi tukang ojek tersebut.
Perilaku dalam menggunakan sepeda motor di Indonesia nampaknya menjadi penyebab munculnya fenomena kebudayaan instan dan gaya hidup yang kurang menyehatkan serta tak ramah lingkungan. Motor juga tak hanya menjadi sarana transportasi, namun menjadi lahan pekerjaan, membentuk komunitas, memancing kejahatan hingga memicu kemacetan yang turut mempengarui psikologi masyarakat. Perlu langkah tepat untuk memecahkan masalah tersebut.
Ratu Selvi Agnesia