Mengubah Haluan Konsumsi BBM

| dilihat 2041

N. Syamsuddin Ch. Haesy

MENGHEMAT penggunaan bahan bakar minyak (BBM) bukan hanya dalam konteks konsumsi BBM bersubsidi atau bukan. Tak pula hanya harus selalu dihubungkan dengan APBN yang seringkali cenderung politis.

Menghemat BBM adalah keniscayaan hidup manusia yang sungguh mau dan mampu memelihara akhlak terhadap bumi.

Sejak lama umat manusia menggantungkan diri pada energi berbasis BBM. Perkembangan industri sebagai bagian dari perkembangan peradaban manusia, juga mendorong konsumsi BBM yang memang merupakan energi fosil tertua dan paling awal digunakan manusia. Padahal, sebagaimana banyak analisis mengemukakan, tak lama lagi, energi fosil justru akan meninggalkan kita.

Di masa-masa mendatang, akibat teknologi untuk mendapatkan bahan bakar minyak dari perut bumi kian mahal, dan ketersediaan energi fosil yang kian menipis, harga BBM akan terus melambung tinggi. Sekali sekala terjadi fluktuasi harga minyak mentah di pasar dunia yang mengguncak stabilitas ekonomi. Tapi, pada akhirnya BBM berbasis fosil akan tinggal kenangan, lalu hanya tercatat pada lembaran sejarah peradaban belaka. Perut bumi tak lagi mempunyai stock yang cukup untuk kelanjutan hidup manusia.

Penghematan penggunaan BBM berbasis fosil merupakan bagian dari aksi kehidupan manusia yang lebih beradab. Bagian dari nilai hidup visioneering untuk tetap mempertahankan hidup.

Selain menjadi bagian dari upaya sistematik memperlambat ‘usia’ BBM sebagai energi fosil. Pun untuk mendorong kita mengembangkan gagasan kreatif dan inovatif menemukan basis-basis energi baru. Sebutlah sebagai contoh: energi panas bumi, bio energi, gas alam, tenaga matahari, sumberdaya air, dan angin.

Apalagi kini, ketika eksplorasi dan eksploitasi batubara pun sedang menghadapi begitu banyak masalah dan persoalan.

Bila kita tidak siap dengan alternatif-alternatif baru, boleh jadi kita akan dihadang oleh apa yang diramalkan Jaard Diamond: kekisruhan sosial yang berdampak pada terpicunya perang besar kepentingan manusia di berbagai belahan dunia. Lantas disusul oleh tumbangnya bangsa-bangsa, mengulang sirnanya bangsa-bangsa sebelum ini, seperti bangsa Kildan dan lainnya. Paling tidak untuk masa satu alaf (millenium) ke depan.

Menghadapi hal tersebut, kata kuncinya adalah bagaimana kita mengubah pola fikir dan orientasi pandang, agar sebagai manusia kita tidak melulu mengandalkan cadangan BBM. Termasuk melakukan perubahan dan orientasi budaya hidup insani dalam berinteraksi dengan alam, penyedia energi.

Perubahan semacam ini, menuntut kita untuk melakukannya secara fundamental. Dimulai dari diri kita masing-masing. Jalan terbaik perubahan itu (transformation road map) adalah melalui pendidikan.

Reorientasi budaya ini menjadi sangat penting. Dimulai, misalnya, dengan perubahan pola dan cara interaksi sosial. Terutama memanfaatkan perkembangan dan kemajuan signifikan teknologi informasi. Saya sependapat dengan pakar dan praktisi profesional pertambangan, Dr. Arif S. Siregar, yang mengintroduksi langkah praktis perubahan pola konsumsi BBM berbasis budaya. Misalnya, mengurangi komunikasi bisnis dan komunikasi sosial tatap muka. Teknologi teleconference, telechat, mailing system, misalnya akan menjadi pilihan budaya untuk menata ulang pola konsumsi BBM.

Proses pengambilan keputusan yang cepat dan akurat di banyak urusan, tak lagi harus melalui pertemuan tatap muka di satu tempat tertentu yang harus menggunakan transportasi. Penggunaan telepon, telepon genggam dengan berbagai fitur sudah merupakan kelaziman. Bila terus dilatih-asah dengan baik, tentu akan mampu meminimalisasi penggunaan BBM berbasis energi fosil. Ketika dilakukan massal, tentu akan mengurangi penggunaan BBM, secara signifikan.

Dalam konteks itulah, titik berat perhatian kita terhadap pendidikan sebagai bagian dari kebudayaan menjadi penting. Perhatian Pertamina terhadap program pendidikan, termasuk reorientasi budaya masyarakat memanfaatkan teknologi informasi, saya pandang sebagai bagian dari keseluruhan konteks langkah penghematan yang strategis.

Langkah ini, memungkinkan pula Pertamina mendorong proses perubahan haluan masyarakat dalam menata pola konsumsi BBM. Dengan demikian, konsumsi BBM diorientasikan untuk sepenuh urusan yang berorientasi pada produktivitas masyarakat dan bangsa secara keseluruhan. Misalnya, untuk kepentingan industri.

Saya yakin, Pertamina bisa memelopori proses perubahan haluan dan pola konsumsi terhadap BBM | 

 

Editor : Web Administrator | Sumber : Pernah dimuat ENERGIA
 
Ekonomi & Bisnis
31 Agt 21, 19:09 WIB | Dilihat : 302
Pandemi dan Pemulihan Ekonomi Lokal
14 Mar 21, 23:46 WIB | Dilihat : 391
Sindroma Ambivalensia
16 Des 20, 07:56 WIB | Dilihat : 558
Peta Bank Syariah di Indonesia Berubah
09 Okt 20, 21:01 WIB | Dilihat : 541
Mengharap Garuda di Langit
Selanjutnya
Sainstek
20 Nov 19, 13:05 WIB | Dilihat : 1899
Rumah Ilmuwan Bukan di Menara Gading
08 Nov 19, 23:07 WIB | Dilihat : 2269
Kebijakan Perikanan Belum Berbasis Sains yang Utuh
26 Agt 19, 10:46 WIB | Dilihat : 1417
Daya tarik Magnetis Monza SP2 Ferrari
Selanjutnya