
DI Kuantan atau di manapun kota di Malaysia, kini banyak bermunculan rumah kedai jualan kabinet. Beraneka ragamnya, mulai dari kabinet dapur sampai kabinet kantor. Jadi, warga Malaysia di tanah airnya tak perlu repot-repot menyusun kabinet.
Apalagi, kini sudah banyak tersedia kabinet yang siap susun alias knock down.
Untuk menyusun kabinet di rumah, apalagi rumah baru, tak perlu pula harus menghubungi Suruhanjaya Pencegahan Rasuah, lembaga negara pencegah dan pembanteras rasuah, semacam Komisi Pemberantasan Korupsi di Indonesia. Karena para penyusun kabinet sudah mahir menjalani profesinya.
Meski ada pekerja dari Indonesia di kedai-kedai penjual kabinet, umumnya para toke pemilik kedai kabinet sudah punya ketentuan tersendiri untuk memilih pegawai alias karyawannya. Ada asas kompetensi. Selain pengalaman sang pekerja.
Kedai-kedai pembuat dan penyusun kabinet di Malaysia terus bertambah, seiring dengan pertambahan jumlah penduduk, jumlah rumah, dan keperluan perangkat rumah tangga dan kantor (pejabat) yang terus berkembang.
Bila diasumsikan jumlah rumah bagi rakyat Malaysia kini sekitar 40 persen dari jumlah seluruh penduduk, atau sekitar 8 juta rumah, maka sebanyak itu pula diperlukan kabinet dapur dan kabinet tandas (rak kamar mandi).

Dengan perkembangan Malaysia sebagai salah satu negara perniagaan yang sedang berkembang pesat, tentu keperluan kabinet pejabat (officehold) juga kian bertambah. Apalagi, belakangan kecenderungan untuk berdagang furniture juga kian tumbuh, mengikuti perkembangan kemajuan ekonomi negeri jiran itu.
Para pengusaha furniture juga banyak mengimpor furniture setengah jadi dari Indonesia. Mereka mengimpor langsung dari Jepara dan Surakarta. “Kabinet dapur, kabinet tandas, dan kabinet bilik dari Jepara dan Surakarta, kian ramai kami impor,”ujar Jalal, seorang pedagang furniture di Kuantan – Pahang.
Sejak pemerintah Malaysia meningkatkan kontrol atas program moratorium penebangan hutan, sebagian furniture, termasuk kabinet dapur dan kabinet tandas banyak diimport dari Indonesia. Jalal pernah menghadiri Asean Furniture Industries Council di Jakarta, Desember 2013. Dia menjalin bisnis dengan para peniaga furniture alias mebel dari Jepara dan Surakarta, termasuk dengan Atieqa – pengusaha Teras Furniture.
Menurut Atieqa sendiri, di Pasar ASEAN, ekspor furniture menjanjikan harapan. Produk-produk mebel Indonesia, khasnya kabinet dapur dan kabinet tandas berkualitas lebih baik dibandingkan dengan produksi China. Menyebut data dari Asmindo (Asosiasi Mebel Indonesia), Atieqa memprediksi, ekspor mebel Indonesia ke pasar ASEAN naik sampai senilai USD1.9 miliar.

“Apalagi desain mebel dari Indonesia terus mengikuti perkembangan desain yang lebih modern dan minimalis. Cocok untuk pasar Malaysia dan ASEAN,” jelasnya.
Jalal membenarkan hal itu. Menurut Jalal dan Jusuf, kerjasama dengan produsen mebel Indonesia untuk memenuhi keperluan kabinet dapur, kabinet tandas, dan perabot pejabat kerjasama dengan produsen mebel Indonesia terus ditingkatkan. Termasuk mencapai kesepakatan tentang harga. “Perabot rumah tangga dan perabot pejabat dari Indonesia lebih mahal, kerana dibuat dari pokok jati aseli,”tuturnya, sambil nyeruput teh tarik.
“Tapi cukuplah dengan daya beli masyarakat di sini yang terus naik,” tambah Jalal. “Kabinet dan perabot pejabat dari Indonesia disukai di Malaysia,”tambahnya. Sayang di kedai Rakyat 1 Malaysia belum dijual kabinet untuk rakyat dan perabot pejabat (kantor). | dins