BUY BACK INDOSAT

Jangan Ulangi Jual Asset Negara jaman Megawati

| dilihat 2863

JAKARTA, AKARPADINEWS.COM. Indonesia tak perlu membeli kembali saham (buy back) Indosat. Selain pembelian ulang saham BUMN itu tidak relevan lagi dan tak menguntungkan, juga karena terlalu banyak persoalan yang berada di dalamnya.

“Yang harus mendapat perhatian dari kasus penjualan Indosat dan BUMN lain di jaman Megawati adalah pelajaran bagaimana kita kehilangan nation dignity,” ungkap Asti, mahasiswi teknologi informatika salah satu universitas negeri di Jakarta, Selasa (24/6) siang. “Jangan sampe terulang lagi penjualan asset jaman Megawati seperti ini.”

Asti mengemukakan pandangannya secara sambil lalu di sudut kedai 7Eleven – Kemanggisan. Ia berbeda pendapat dengan temannya yang memandang perlu melakukan buy back saham Indosat.

Sejak berlangsung debat Calon Presiden, di kalangan mahasiswa berkembang berbagai pemikiran dan sikap tentang jati diri bangsa dan kebanggaan nasional. Dalam berbagai diskusi seperti diberitakan media, terkesan kuat, tindakan era Megawati itu menjadi contoh buruk sejarah pembangunan Indonesia.

Jokowi, capres yang didukung PDIP dan koalisinya (Nasdem, PKB, Hanura, PKP) terkesan membela kebijakan Megawati. Menurut Jokowi, kala itu asset negara di jual untuk kepentingan rakyat, terutama karena situasi ekonomi tak stabil. Padahal, ketika Megawati menjabat Presiden, ekonomi Indonesia biasa-biasa saja. “Tak ada alasan untuk menjual Indosat kepada Singapura,” tukas Asti.

Bagi Said Didu, mantan Sekretaris Kementerian BUMN, bila ada kehendak melakukan buy back terhadap saham Indosat, ada 3 (tiga) aspek yang harus dikaji lebih dulu. Yaitu, aspek strategis pertahanan, aspek ekonomi dankomersial, serta aspek efektifitas penggunaan APBN.

“Dari aspek strategis, yang perlu dikaji adalah apakah Indosat saat ini masih memiliki nilai dan previlage strategis di saat satelit dan jaringan komunikasi sudah juga dikuasai oleh operator lain seperti Telkom?” ujarnya.

Menurut mantan Ketua Umum Perhimpunan Alumni IPB, itu dari aspek ekonomi dan finansial, harus ditinjau, apakah Indosat memiliki prospek ekonomi yang memang akan menguntungkan? “Mana lebioh menguntungkan, membeli kembali Indosat atau mengembangkan Telkom. Atau, membeli saham Singtel di Telkomsel?” tanyanya.

Dari aspek penggunaan APBN, Didu mempertanyakan, apakah lebih penting menggunakan APBN untuk membeli Indosat atau menggunakan untuk infrastruktur, rumah sakit, pembangkit listrik atau lainnya. “Artinya ide buy back Indosat harus sungguh dikaji secara obyektif, agar mendapatkan benefit terbaik bagi negara,” cetusnya.  Bukan lagi sekedar gengsi politik karena value Indosat saat ini tidak lagi sestrategis saat dijual dulu.

“Indosat tak menarik lagi,” ungkap Asti.

Sekadar ingatan, Indosat pada mulanya didirikan untuk mengelola satelit yang diluncurkan di jaman Presiden Soeharto. Perusahaan ini kemudian menjadi operator seluler dan berbentuk BUMN. Di jaman Megawati menjadi Presiden, Indosat merupakan salah satu BUMN yang sahamnya dijual kepada Singapura. | delanova

Editor : Web Administrator
 
Polhukam
10 Apr 26, 20:49 WIB | Dilihat : 228
70 Negara Kutuk Serangan Terhadap UNIFIL
10 Apr 26, 17:21 WIB | Dilihat : 178
Iran Kian Tangguh Hadapi AS dan Zionis Israel
03 Apr 26, 19:23 WIB | Dilihat : 353
Rudal Iran sebagai Platform Baru Media
03 Apr 26, 11:46 WIB | Dilihat : 311
Perlawanan Iran Terus Berlangsung
Selanjutnya
Sporta