Drama Kebangkrutan Yunani

| dilihat 3125

AKARPADINEWS.COM | UTANG luar negeri yang melilit Yunani membuat perekenomian negeri pencetak para filsuf ini bangkrut. Selama lima tahun terakhir, Yunani telah bernegosiasi dengan Komisi Eropa, Bank Sentral Eropa dan Dana Moneter Internasional (IMF) untuk mengatasi beban utang. Tiga lembaga yang dikenal dengan sebutan Troika itu bersedia memberikan pinjaman dengan syarat menaikkan pajak dan pemotongan belanja. Namun, kondisi ekonomi Yunani justru makin sulit diselamatkan. 

Yunani tak mampu membayar utang ke IMF sebesar 1,54 miliar Euro atau US$1,7 juta (Rp22 triliun) sesuai tengat waktu hingga 30 Juni 2015. Alhasil, Yunani yang dinisbikan sebagai negara maju pertama di dunia, gagal membayar utang.

Bila diibaratkan dengan manusia, Yunani saat ini sedang memasuki masa depresi dan titik terendah dalam keberlangsungan hidupnya. Mata dunia terbuka dan berempati dengan keadaan Yunani saat ini. Perdana Menteri Yunani, Alexis Tsipras seperti dikutip Reuters mengumumkan akan melaksanakan referendum yang dijadwalkan pada Minggu pekan ini dan memohon pada rakyatnya untuk memutuskan nasib sendiri terkait dana talangan yang akan diberikan.

Bila rakyat Yunani memilih untuk “Tidak” menerima paket dana talangan, maka diperkirakan akan terjadi kekacauan dan Yunani harus mencari cara untuk menggunakan mata uang asal yaitu drachma dan meninggalkan euro. Selanjutnya siapa yang rugi jika Yunani akhirnya keluar dari Uni Eropa?

Yang paling dirugikan adalah rakyat Yunani sendiri karena nilai tukar drachma sangat rendah dibandingkan euro dan dolar AS. Ekonomi Yunani pun bakal hancur karena harus menambal utang sendirian. Selain itu, nilai aset (properti, saham, dan lain-lain) akan anjlok, inflasi melambung, dan pengangguran di mana-mana, mirip seperti yang dialami Indonesia saat krisis ekonomi tahun 1998 silam.

Sulit dibayangkan bila negeri yang dikenal di literatur-literatur sejarah yang mengembangkan peradaban dunia sejak 2200 SM, kaya akan seni pertunjukan, aksara dan arsitektur hingga menjelma menjadi sebuah pusat peradaban yang diakui sepanjang zaman dan menjadi sumber pemikiran masyarakat modern saat ini mengalami kebangkrutan.

Mirisnya, masyarakat Yunani tidak bercermin dari kehebatan para leluhurnya. Seharusnya, mereka dapat memacu peradaban yang lebih baik. Yunani kuno yang menjadi sumber peradaban, berbanding terbalik dengan Yunani modern yang menjadi pioner dalam kebangkrutan negara karena persoalan utang.

Namun, bisa dianalisa mendalam, utang negara tidak menjadi satu-satunya alasan dalam drama kebangkrutan Yunani. Dilihat secara geografis, Yunani hanya sebuah negara kecil di Zona Euro berpenduduk sekitar 11 juta jiwa dengan pendapatan perkapita sekitar  US$22.000.  

Pada tahun 1981, dengan bergabungnya Yunani ke dalam Masyarakat Ekonomi Eropa, maka dilakukan penyamaan mata uang yakni euro sebagai mata uang resmi. Yunani pun turut mengganti mata uangnya menjadi euro pada tahun 2001.

Kesalahan Yunani bergabung dengan Uni Eropa adalah ketidakmampuan Yunani sebagai negara kecil yang sebenarnya belum dapat menyamai kemampuan sistem birokrasi sehebat Inggris dan integritas ekonomi seperti Jerman.

Gelombang utang Yunani dimulai pada tahun 1947 ketika Yunani memasuki pemerintahan baru dari bentuk militer menjadi sosialis sehingga membutuhkan banyak bantuan untuk pembangunan infrasutrukturnya, selain dana juga tersedot untuk subsidi, dana pensiun, gaji pegawai negeri sipil dan lain-lain. Krisis keuangan akut akibat utang ini terlihat jelas pada tahun 2008. IMF pada 2010 memberikan dana segar pada Yunani sebesar 100 miliar euro yang akhirnya menjadi buah simalakama hingga kebangkrutan Yunani.

Selain itu, menurut para pakar ilmu sosial dan ekonomi, membudayanya sistem korupsi yang sangat massif di Yunani menjadi penyebab utama negara ini mengalami krisis. Salah satu contoh yang menjadi rahasia umum bahwa terdapat budaya Fakelaki di Yunani.

Fakelaki berarti amplop kecil, ialah kebiasaan memberikan amplop berisi uang yang lazim terjadi dalam birokrasi. Memberikan amplop berisikan uang kepada para pejabat pemerintah di Yunani akan menjamin proses otorasi, sertifikasi atau izin mendirikan bangunan.

Tercatat, korupsi yang terbesar terjadi di kantor perpajakan Yunani dengan mengkorup 30 persen dari penerimaan pajak. Korupsi yang begitu massif itu sulit untuk diperangi. Hal ini menjadi penyebab utama mengapa krisis ekonomi berdampak parah di Yunani dibanding negara-negara Eropa lainnya.  

Faktor lain yang menyebabkan krisis ekonomi Yunani adalah terdapat defisit besar dalam nilai perdagangan Yunani. Nilai ekspor Yunani yang berjumlah $12,5 miliar lebih kecil dibanding nilai impornya yang mencapai $18,9 miliar. Adapun dengan selisih yang signifikan antara ekspor dan impor berimplikasi pada berkurangnya cadangan devisa Yunani.

Penyebab-penyebab krisis ekonomi Yunani secara internal tersebut merupakan akumulasi yang menyebabkan drama hebat dari kebobrokan Yunani secara sistem ekonomi, politik dan sosial. Birokrasi Yunani merupakan sutradara utama penyebab drama tragedi ini. Sementara rakyat Yunani yang menerima efek dominonya. Tidak hanya itu, campur tangan Uni Eropa yang dibuat resah terhadap krisis Yunani disebabkan kekhawatiran turunnya nilai euro secara keseluruhan.

Saat ini, seluruh bank di Yunani ditutup agar warga tidak menarik semua uang di bank. Jumlah uang di ATM pun sangat terbatas. Kekhawatiran krisis ekonomi ini akan memicu kerusuhan besar seperti yang terjadi pada tahun 2012 silam. Bukan mustahil, krisis Yunani  juga dialami negara-negara lain. Sejumlah negara di kawasan Afrika dan Timur Tengah misalnya berpotensi terancam bangkrut akibat kondisi sosial politik yang kacau. Dan, bukan mustahil pula pengalaman buruk itu merambah ke Indonesia lantaran masih tergantung dengan utang luar negeri. Belum lagi nilai tukar rupiah yang masih anjlok di hadapan dolar. Bangsa ini belum juga sadar untuk berdiri di atas kaki sendiri.

Ratu Selvi Agnesia

Editor : M. Yamin Panca Setia
 
Sporta
Energi & Tambang
31 Agt 26, 07:54 WIB | Dilihat : 262
Jebolan Pertamuda Pertamina Bantu Nelayan dengan Iwak
28 Agt 26, 17:30 WIB | Dilihat : 297
PHE Perkuat Kemitraan Masyarakat
18 Agt 26, 18:17 WIB | Dilihat : 464
PHE Pertegas Komitmen Jaga Ketahanan Energi Nasional
17 Jul 26, 17:25 WIB | Dilihat : 449
Monetisasi Gas Sengeti Dorong Investasi Baru di Jambi
Selanjutnya