
JAKARTA, AKARPADINEWS.COM. Nilai mata uang Rupiah atas dolar AS kian merosot tajam. Per Selasa, 16 Desember 2014, kurs transaksi Bank Indonesia menunjukkan angka yang merisaukan. Tercatat 1 dolar AS setara dengan Rp12.965 jual dan Rp12.835 beli.
Dalam situasi demikian yang dilakukan pemerintah bukan cara mengatasi persoalan, melainkan sibuk mencari alasan pembenaran. Presiden Jokowi kepada pers menuding, merosotnya nilai tukar rupiah, karena DPR (Dewan Perwakilan Rakyat) tak juga melakukan konsolidasi, sampai masa reses mereka.
Menteri Koordinator Perekonomian Sofyan Djalil mengatakan, depresiasi rupiah terhadap dolar AS, lebih disebabkan oleh faktor eksternal. Sofyan Djalil mengaku tak khawatir dengan jatuhnya kurs rupiah hingga ke level Rp 12.600 per dolar AS. Dia juga menampik jika kondisi tersebut setara seperti badai krisis moneter (krismon) yang melanda Indonesia pada 1998.
Kala itu, per 22 Januari 1998 kurs rupiah terjun bebas ke level Rp 17.000 per dolar AS atau terdepresiasi 80 persen. Pada akhir 1977, kurs rupiah atas dolar AS ditutup pada Rp 4.850 per dolar AS. Menurut Sofyan, kondisi yang terjadi pada 1998, banyak faktornya. Antara lain terjadinya krisis di Asia dan krisis politik dalam negeri yang datang berbarengan.
Sofyan berusaha meyakinkan, kini kondisi perekonomian Indonesia secara umum sangat bagus, stabilitas politik terjaga, dan.., “Presiden kita luar biasa populernya. Pun kebijakan-kebijakan pemerintah yang dikeluarkan luar biasa bagus." Faktanya, situasi perekonomian kian merisaukan, selepas Presiden Jokowi menaikkan harga BBM tempo hari.
Apa langkah yang bakal ditempuh pemerintah mengatasi situasi ini? “Pemerintah akan mendorong peningkatan ekspor sebagai upaya jangka pendek. Dari momentum pelemahan kurs rupiah, ekspor Indonesia berpeluang meningkat. Sayang harga komoditas sedang jatuh,” ungkapnya.
Pemerintah juga akan mengurangi impor, agar keperluan kita terhadap dolar AS berkurang. Hal lain? Mempercepat masuknya investasi langsung. Salah satunya melakukan reformasi perizinan investasi lewat Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) yang akan berlaku mulai Januari 2015. Terkait modal investasi yang memerlukan permintaan dolar AS besar seperti PLN, bisa berasal dari dana-dana pinjaman Jepang, Bank Dunia, ADB dan lainnya supaya tidak perlu membeli di pasaran.
Untuk memperkuat rupiah, ungkap Sofyan, pemerintah akan menarik dana-dana tersebut. Kalau perlu, katanya, termasuk dana siaga, karena Bank Dunia maupun JICA menawarkan pinjaman berbunga murah dengan jangka waktu 30 tahun.
Merosotnya nilai rupiah terus berlangsung sejak sebulan terakhir akibat kombinasi sentimen negatif di dalam dan luar negeri. Dan, rupiah, sudah seperti perempuan sakit-sakitan dan buruk rupa, lantas menjadi mata uang yang mengalami pelemahan kurs paling parah se-Asia.

Sejak Jumat (12 Desember) rupiah anjlok 117 poin (0,95 persen) ke level 12.467 per dolar AS. Perlahan dan pasti, menurut prediksi Zulfirman Basir – Monex Investindo, rupiah bakal merosot ke bawah, hanya lebih baik dibandingkan dengan mata uang Dong, Vietnam. Terutama karena utang swasta dalam bentuk dolar AS yang membengkak. Selain itu, terindikasi sejumlah korporasi multinasional memborong dolar di pasar spot guna mengantisipasi libur panjang.
Artinya? Popularitas Jokowi yang disebut Sofyan Djalil tak berpengaruh sama sekali. Bahkan, sejak sebulan terakhir, aliran modal asing – terutama modal jangka pendek yang diinvestasikan pada aset keuangan rupiah – perlahan bergerak pergi meninggalkan Indonesia.
Gerakan itu terjadi, lantaran kebijakan menaikkan harga BBM tidak dilakukan dengan matang dan berhati-hati, karena kompensasi yang diberikan kepada rakyat dalam bentuk aneka kartu sakit, justru memakan keuangan negara.
Reaksi para buruh merespon negatif kebijakan itu, membuat para investor asing untuk investasi di Indonesia, memindahkan modal mereka ke negeri-negeri jiran atau ke negerinya. Di sisi lain, gaya hidup mengonsumsi produk food and beverages dan consumer goods asing, memperkuat devisa mereka di dalam negeri, dan memperlemah posisi Indonesia. Terutama, karena secara berbarengan hot money asing menghambur masuk ke Indonesia.
Pasalnya? Mereka tak melihat return investasi membaik, sebaliknya faktor risiko meningkat. Hal ini tercermin pada hasil estimasi probabilitas terjadinya capital reversal yang dipengaruhi secara signifikan oleh harga aset keuangan global (DJIA) dan faktor risiko global (VIX), serta tingkat return investasi dalam aset rupiah (IHSG dan yield SUN). Bila rupiah dibiarkan merosot terus, dan diperkirakan mencapai Rp14.000 di ujung pekan ini, 2015 akan diawali dengan kegetiran yang menghimpit dada.
Amboi.. dolar AS mendesak, rupiah melesak, alasan dulu yang dicari.| bang sem