Wayang

Togog dan Mbilung, Punakawan yang Terlupakan

| dilihat 28942
 
JAKARTA, AKARPADINEWS.Com - Bicara punakawan yang pasti ada dalam benak kita hanya Semar, Gareng, Petruk dan Bagong. Sedikit dari masyarakat Indonesia—kecuali orang Jawa tulen—mengenal dua punakawan bernama Togog dan Mbilung. Keduanya bertugas mendampingi raja-raja dengan sifat angkara murka.
 
Bagi yang sudah tahu Togog dan Mbilung akan mengkategorikan kedua tokoh itu sebagai punakawan oportunitis. Karena, keduanya tidak pernah setia pada satu raja saja. Sebenarnya, nomadennya mereka mengabdi bukan karena oportunitis, melainkan tugas mereka selesai dengan kalahnya raja mereka di tangan tokoh protagonis dalam sebuah lakon.
 
Sebenarnya, tugas Togog dan Mbilung sama seperti Semar dan anak-anaknya, yakni membimbing raja mereka. Namun, tugas Togog dan Mbilung lebih sukar, pasalnya mereka harus meluruskan bibit-bibit keangkaramurkaan yang telah nampak pada raja mereka. Saat sang raja sudah tidak menggubris mereka, sampai situlah tugas mereka.
 
 
Kiri: Mbilung dan Togog, kanan (hitam) Punakawan Semar cs. Foto:Istimewa
 
Kedua tokoh tersebut memiliki keunikan dalam dunia pewayangan Jawa. Togog dan Mbilung berbicara dengan dua bahasa yang berbeda. Togog berbahasa Jawa sedangkan Mbilung berbahasa melayu. Uniknya, meski berbeda bahasa, keduanya saling mengerti satu dengan yang lainnya saat berbicara. Dalam dunia pewayangan, Togog selalu digambarkan dengan sosok berbibir dower sedangkan Mbilung selalu menggunakan pakaian yang memiliki ciri khas pakaian melayu.
 
Meskipun Togog dan Mbilung memiliki tugas yang sama dengan Semar dan anak-anaknya, yakni membimbing rajanya ke jalan yang lurus, Togog dan Mbilung lebih terjun pada raja yang sudah dzalim. Tugas mereka berdua jauh lebih berat ketimbang Semar dan anak-anaknya. Tugas Togog dan Mbilung seperti meluruskan benang basah atau mencari jarum di dalam tumpukkan jerami.
 
Bila dibandingkan dengan Semar dan anak-anaknya, Togog dan Mbilung jauh lebih kritis, cenderung “pedas” mengritisi atasan mereka. Hanya saja, kritiknya tersebut kurang diperhatikan oleh sang raja. Banyak alasannya, namun mungkin saja apa yang dibicarakan Togog dan Mbilung tidak dipahami oleh sang raja. Maklum saja, dengan bibir yang dower, bahasa yang keluar dari mulut Togog kurang didengar dengan jelas dan bahasa melayu yang digunakan oleh Mbilung maka pesan yang disampaikan tidak dipahami oleh sang raja, karena sang raja tidak begitu mengerti bahasa melayu. |Muhammad Khairil.
 
Editor : Nur Baety Rofiq | Sumber : Berbagai Sumber
 
Lingkungan
28 Apr 26, 14:29 WIB | Dilihat : 331
Jumhur Hidayat
03 Des 25, 18:35 WIB | Dilihat : 824
Jangan Pernah Menentang Semesta
04 Agt 25, 02:48 WIB | Dilihat : 1509
Almaty Kazakhtan Sentra Suara Akal Sehat
Selanjutnya
Budaya
20 Mar 26, 08:16 WIB | Dilihat : 399
Budaya Betawi Mesti Jadi Cover Budaya Jakarta
18 Feb 26, 00:08 WIB | Dilihat : 690
Muhammadiyah Berbeda dengan Pemerintah itu Biasa
26 Nov 25, 18:48 WIB | Dilihat : 791
TIM Harus Kembali Menjadi Mercu Suar
Selanjutnya