50 Tahun Radhar Panca Dahana - Homo Reptilicus

Predator di Panggung Politik

| dilihat 2569

AKARPADINEWS.COM | DRAMA Politik Homo Reptilicus menyindir situasi politik yang penuh intrik dan mengibaratkan sifat-sifat reptil dalam diri politikus.

Dalam diri manusia terdapat instink dan sifat binatang. Termasuk dalam dunia politik, manusia adalah binatang politik (political animal). Bagaimana kaitan antara kebinatangan ini dengan politik? Melalui pertunjukan Homo Reptilicus dipentaskan (24-26 Maret 2015) di Teater Kecil - Taman Ismail Marzuki, Teater Kosong pimpinan Radhar Panca Dahana selaku Sutradara dan penulis Naskah mengungkapkan berbagai skandal politik dan politikus yang serupa hewan melata.

Politik menjadi arena kekuasan perebutan yang sarat intrik antar elit dan mengorbamkan manusia lain. Diceritakan, Semoga Damaton (Eko D. Zenah) bergeming, meskipun intograsi polisi memaksanya untuk mengakui keterlibatan Semoga dengan sindikat perdagangan perempuan. Meski berkali-kali polisi menginterograsi dengan cara kekerasan, dia hanya menjawab dengan lirih “Aku hanya ingin menjadi manusia”.

Di sisi lain, Turi Ranum isterinya menjadi korban pemerkosaan oleh oknum militer. Kasus Semoga menjadi bulan-bulanan media sehingga Raung Itibar, sang Presiden merasa gerah dan menitahkan Komisaris Jenderal Bagus Girang (BG) untuk mengusut kasus ini sejelas mungkin.

Di balik kasus Semoga sebenarnya terdapat konspirasi besar dari segolongan elit yang saling merebutkan kekuasaan dengan memangsa yang lain.  BG yang diperankan aktor senior Toto Prawoto adalah otak utama untuk merencanakan penggulingan untuk mengganti kursi kepresidenan. Di depan presiden, BG terlihat sebagai sosok yang ingin melindunginya, namun ia seperti buaya yang diam-diam akan memberikan gigitan mematikan untuk sang Presiden.

Konspirasi yang digulirkan BG juga melibatkan seorang model cantik Ratih Lestari Asa (Olivia Zalianty) yang berusaha menggoda presiden. Berulang kali ditolak, Ratih akhirnya menjebak presiden, foto-foto rekayasa hingga nama baik presiden terancam.

Kasus Semoga kian menjadi sorotan massa, wartawan dan pengacara yang juga seekor reptile mirip bunglon turut ikut campur menggali kasus ini, mereka menduga bila Semoga adalah saksi kunci dari konspirasi besar tersebut penggulingan presiden. Puncaknya, Semoga dan Turi diculik anak buah BG, selain itu BG merencanakan untuk menuntaskan dendam masa lalu pada beberapa orang yang mengetahui kebusukan dirinya, kendati akhirnya BG tewas dalam penyesalan mendalam usai memperkosa anaknya sendiri yang sebelumnya ia tak ketahui. 

Selama lebih dari 2 jam, drama politik ini menyajikan peristiwa-peristiwa politik yang penuh kerumitan dalam kubangan suap, korupsi, kolusi, nepotisme hingga gratifikasi seks. Namun, di banding pertunjukan “Republik Reptil” yang dipentaskan tahun 2010 silam, pertunjukan “Homo Reptilicus” tidak lebih baik di banding sebelumnya.

Di tengah keterkejutan hebat dengan perseteruan antara lembaga penegak hukum, Radar mengharapkan pertunjukan dengan mengusung narasi besar ini menjadi media mikropon dan nurani dan pikiran rakyat. Cukup disayangkan dengan teks-teks naskah yang bernas disajikan dengan pertunjukan teater yang cenderung megalomania namun dengan proses latihan yang terlalu singkat.

Karakter-karakter sisi animalitas dan reptil pada diri manusia seperti rakus pada materi, tahta dan wanita belum sepenuhnya terasa dan justru menjadi terlihat artifisial dengan topeng-topeng dinosaurus, buaya dan ular yang dipakai. Kurangnya persiapan yang matang ini makin kentara dengan 43 pergantian setting yang masih tidak rapih, pergantian setting dan keluar masuk artistik dan proper sebenarnya kurang efektif  pula dan justru menyebabkan penonton merasa lelah menonton.     

Di balik segala kekurangan yang bersifat teknis pada pertunjukan ini, gagasan teater kosong untuk memperlihatkan karakter pemimpin dan politikus dengan insting hewani tinggi cukup tersampaikan. Bila Thomas Hobes mengungkapkan “manusia adalah serigala bagi manusia lainnya” (Homo Homini Lupus) karakter-karakter tokoh di Homo Reptilicus memperlihatkan sisi predator yang ganas seperti BG yang gemar memangsa, membunuh dan mengorbankan pihak lain demi kepentingan kekuasaan dirinya. Politik menjadi aktivitas jahat yang menjatuhkan nilai moral manusia yang mempunyai akal dan nurani.

Akhirnya, pertunjukan yang menjadi bagian dari gelaran ulang tahun Radhar Panca Dahana ke 50 tahun ini memberi sentilan untuk para pemimpin dan politikus. Semoga kita tidak terjebak dengan dorongan rendah insting hewani yang dapat membahayakan diri, rakyat dan negara. |

Ratu Selvi Agnesia

Editor : Web Administrator
 
Sporta
Seni & Hiburan
16 Nov 25, 10:19 WIB | Dilihat : 1312
Hazieq Rosebi Berjenaka dengan Nurlela
19 Nov 24, 08:29 WIB | Dilihat : 3453
Kanyaah Indung Bapak
Selanjutnya