Sepak Bola dan Akalbudi Bangsa

| dilihat 1054

MENGELOLA turnamen sepakbola, dari sisi pandang budaya, adalah mengelola kematangan jiwa dan terkait dengan perkembangan peradaban manusia. Tak sekadar mengelola event, menyiapkan klub yang akan berkompetisi, dan menghadirkan pada jagoan. Karena di lapangan sepakbola, antara lain, kita menemukan cermin peradaban itu.

Pertandingan yang kacau, dan dibaluri huru hara, baik yang dipicu haloganisma akibat pengaruh alkohol atau pelepas kemarahan akibat depresi sosial, merupakan isyarat dan pertanda masyarakat tak sehat. Tak peduli di Eropa, Amerika Selatan, ataupun Asia.

Beranjak dari pemikiran semacam ini, semestinya, setiap klub sepak bola, apapun bangsanya, mesti memahami dengan seksama esensi sepakbola yang harus selalu menunjukkan sportivitas dan good governance.

Saya sepakat dengan seorang teman, yang selalu gusar acapkali turnamen sepakbola bakal digelar. Selain karena para penonton nyaris sulit dikontrol dan dikendalikan, depresi sosial yang ditimbulkan oleh situasi politik dan ekonomi, juga menjerumuskan khalayak ke dalam situasi yang sangat emosional. Pada saat itulah, siapa saja bisa menjadi korban.

Seluruh stakesholder persepakbolaan, selain mesti selalu menyempurnakan seluruh instrumen regulasi persepakbolaan. Juga mesti duduk bareng untuk merumuskan persepsi hingga visi persepakbolaannya. Dengan cara demikian, persepakbolaan dikelola berdasarkan komitmen kolektif yang mengikat siapa saja. Mulai dari pemain, wasit, tim manajer, hingga penonton.

Pengorganisasi penonton melalui fans club, semestinya dikelola agar tak terjerumus ke lembah ‘fanatisme buta’. Dalam konteks itulah, akalbudi menjadi sedemikian penting. Itulah sebabnya, semua pihak, khususnya yang mempunyai pengaruh terhadap massa, harus merasa terpanggil. Paling tidak, untuk mengelola persepakbolaan secara baik dan benar.

Dalam bahasa lain boleh dikatakan, persepakbolaan mesti diurus dengan lebih serius. Tak hanya menjadi event olah raga bernilai ekonomi belaka. Melainkan, sebagai bagian dari keseluruhan proses pematangan akal budi bangsa. Akankah kesadaran demikian dimulai dari Indonesia? |

 

Editor : administrator
 
Lingkungan
11 Jul 19, 11:45 WIB | Dilihat : 534
Terowongan Dukuh
08 Jul 19, 11:20 WIB | Dilihat : 461
Gempa Bumi Dinihari Guncang Ternate Goyang Manado
24 Mar 19, 11:13 WIB | Dilihat : 709
Surat Gubernur Anies Baswedan untuk Pekerja Proyek MRT
Selanjutnya
Ekonomi & Bisnis
08 Jul 19, 16:21 WIB | Dilihat : 696
BNI Syariah Istiqamah di Jalan Hasanah
19 Jun 19, 10:46 WIB | Dilihat : 886
Harapan Wirausaha Kreatif Malaysia di Bahu Dzuleira
27 Mei 19, 13:43 WIB | Dilihat : 233
Sang Pemandu
16 Mei 19, 11:03 WIB | Dilihat : 377
Utang Negara dan Pembangunan Sosial
Selanjutnya