On the Origin of Fear, Beradu Kualitas di Venice Festival 2016

| dilihat 2875

AKARPADINEWS.COM | SINEAS muda Indonesia kembali beradu kualitas di ajang perfilman internasional. Kali ini, film berjudul On the Origin of Fear, berhasil masuk dalam kompetisi Orizzonti di Venice International Film Festival ke-73 yang akan digelar 31 Agustus-10 September 2016 di Venice, Italia.

Film dengan durasi 12 menit yang disutradarai Bayu Prihantoro Filemon itu, akan ditayangkan sebagai world premiere dalam festival film tertua di dunia tersebut. Orizzonti adalah ajang kompetisi bagi karya-karya film-film yang estetik dan ekspresif.

"Dalam banyak peristiwa, tampak jelas bahwa kekerasan dan reproduksi kekerasan merupakan hak monopoli negara. Tak terkecuali bila negara dan sinema bekerja bersama untuk mereproduksi kekerasan, teror, dan ketakutan, dengan mengatasnamakan sejarah,” ucap Bayu menjelaskan latar latar belakang film yang ditulis dan disutradarainya. 

Sutradara asal Yogyakarta ini patut berbangga. Apalagi, On the Origin of Fear adalah film yang disutradarainya untuk kali pertama. Sebelumnya, Bayu menjadi Sinematografer film Vakansi yang Janggal dan Penyakit Lainnya (2014) dan Istirahatlah Kata-Kata (2016) yang mengangkat kisah kehidupan aktivis dan sastrawan Wiji Tukul selama masa pelarian pada tahun 1996 setelah peristiwa kerusuhan 27 Juli 1996.

Film tentang aktivis yang hingga kini tidak diketahui rimbanya itu akan tayang perdana di Locarno International Film Festival 2016, Swiss. Sebelumnya, Kisah Cinta yang Asu (2015) sudah lebih dulu tampil di festival film internasional. Film itu mengulas prahara cinta segitiga yang tak lazim.

Produser film On the Origin of Fear, Amerta Kusuma dan Yulia Evina Bhara menyatakan, film tersebut adalah adalah upaya menyadarkan generasi muda Indonesia untuk melihat kembali sejarah yang selama ini kabur.

Penggarapan film dilatarbelakangi sebuah trauma melihat reproduksi kekerasan dalam film yang pada jaman Orde Baru menjadi tontonan masyarakat setiap tanggal 30 September atau dikenal fim dokumenter Penghianatan G30S/PKI. Film On the Origin of Fear diproduksi oleh KawanKawan Film, Limaenam Films, dan Partisipasi Indonesia.

On the Origin of Fear adalah salah satu dari empat film pendek yang dibuat, menandai 50 tahun pasca tragedi 65, dengan harapan ada ruang diskusi untuk tidak tabu lagi membicarakan isu ini, dan memahami sejarah kelam Indonesia pada masa lalu,” tutur Amerta seraya berharap ada inisiatif-inisiatif untuk menyelesaikannya. "Agar sebagai generasi muda, kita bisa menatap jauh ke depan dan tidak mengulangi tragedi pada masa lalu.”

Kapan film On The Origin Of Fear ditayangkan di Indonesia? “Segera mungkin, kami akan membawa pulang film ini setelah festival, dan memutarnya di Indonesia” kata Yulia ketika dihubungi Akarpadinews belum lama ini.

Membutuhkan Dukungan

On the Origin of Fear menambah daftar karya film berkualitas para senies Indonesia. Sejak tahun 2000-an, sejumlah sineas Indonesia mengukir prestasi membanggakan di festival-festival internasional. Mereka antara lain Riri Riza, Garin Nugroho, Rizal Mantovani, Joko Anwar, Teddy Soeriaatmadja, Ismail Basbeth, Mouly Surya, Sidi Saleh dan lainnya.

Karya mereka meramaikan festival film internasional di Toronto, Busan, Venice, hingga Cannes. Yang terbaru adalah Film pendek berjuluk Prenjak karya sutradara muda Indonesia, Wregas Bhanutedja, yang berhasil memenangkan Leica Cine Discovery Prize di Festival Film Cannes 2016, Perancis. Film itu mengalahkan 10 film terbaik lainnya karya sineas dari berbagai negara.

Penghargaan lain juga diraih sineas yang karyanya mengangkat sisi kemanusiaan. Film pendek berjudul 05.55, berhasil membawa pulang Global Short Film (GSF) Award di New York, Amerika Serikat. Lalu, Komunitas Film Independen Yogyakarta Montase, mendapatkan penghargaan dalam kategori GSF 2016 Awards Best Cinematography.

Film karya Tiara Kristiningtyas dan Mohammad Azri itu bercerita tentang saat-saat sebelum terjadinya gempa di Yogyakarta tahun 2006. Film itu menampilkan dampak gempa yang menelan banyak korban jiwa dan menghancurkan bangunan warga di Yogyakarta.

Orientasi para sineas itu nampaknya tak hanya sekadar meraup untung dari banyaknya jumlah penonton yang menyimak karyanya. Namun, mereka memiliki idealisme, dengan menyuguhkan karya yang kritis, humanis, dan edukatif. Sayang, meski menuai apresiasi di ajang internasional, masih banyak karya-karya mereka yang luput dari perhatian sehingga potensi mereka tidak dioptimalkan. Festival film internasional pun menjadi ajang bagi para pengarang, penulis cerita, dan sutradara, mempresentasikan dan mempromosikan hasil karyanya.

Tentu, masing-masing di antara karya para sineas memiliki ciri dan ketertarikan isu yang berbeda-beda, mulai persoalan kultural, urban, dan latar belakang historis yang mengajak khalayak merefleksikan kembali sejarah masa lalu seperti film On The Origin Of Fear maupun Istirahatlah Kata-Kata. Keberhasilan para sineas muda yang ingin karyanya diapresiasi di ajang internasional itu nampaknya tidak terlepas dari kemampuan mereka dalam berkomunikasi, mengakses, dan memahami isu lokal hingga global.

Mereka dapat mengakses festival-festival film internasional melalui berbagai jaringan, yang memungkinkan mereka untuk berkompetisi dengan sineas lain di berbagai di dunia. Sebenarnya, banyak film independen berkualitas yang layak mengikuti kompetisi internasional. Sayang, karya para sineas Indonesia itu kurang mendapat dukungan dari pemerintah maupun dari para pihak yang memiliki kapasitas untuk memajukan perfilman nasional. Akibanya, karya-karya berkualitas itu sulit untuk diproduksi dan didistribusi secara optimal.

Ratu Selvi Agnesia

Editor : M. Yamin Panca Setia
 
Seni & Hiburan
16 Nov 25, 10:19 WIB | Dilihat : 1128
Hazieq Rosebi Berjenaka dengan Nurlela
19 Nov 24, 08:29 WIB | Dilihat : 3261
Kanyaah Indung Bapak
Selanjutnya
Energi & Tambang