
AKARPADINEWS.COM | Jakarta dan Betawi selalu berkelindan dalam sebuah ikatan yang disebut akulturasi kebudayaan. Semenjak bernama Batavia, penghuni kota terpadat di Indonesia ini, menjalani proses akulturasi dengan kedatangan orang dari luar, mulai dari Belanda, China, Arab, hingga berbagai suku di Indonesia.
Percampuran berbagai kebudayaan yang dibawa bersuku bangsa dan etnis ini mewujudkan sebuah kebudayaan yang disebut Betawi. Jakarta pun menjadi kota dengan kebudayaan multikultural. Sayang, saat ini, penduduk asli Betawi kini semakin terpinggirkan.
Berbagai persoalan budaya Betawi dan problematika lainnya ini yang menginspirasi pertunjukan Indonesia Kita berjuluk Komedi Tali Jodo yang akan dipentaskan pada 27-28 Mei 2016 pukul 20.00 WIB di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta.
Dalam pertunjukannya ke-19 ini, Betawi menjadi arus utama dengan pijakan Lenong Betawi. Dikisahkan tiga orang yang bersahabat, diperankan Cak Lontong, Akbar, dan Arie Kriting yang merantau ke Jakarta. Three Musketeer ini membawa semangat persahabatan, “Satu Untuk Semua, Semua Untuk Satu”. Namun, selama menetap di Jakarta, persahabatan mereka meluntur.

Awalnya, karena masalah cinta. Mereka bertiga berusaha mendapatkan cinta dua perempuan cantik bernama Tali dan Jodo. Tidak hanya persoalan cinta. Permasalahan berkembang menjadi gesekan-gesekan yang kemudian dimanfaatkan oleh oknum yang memiliki kepentingan politik dan kepentingan bisnis. Selain dikemas dengan berpijak pada Lenong Betawi, “Komedi Tali Jodo” hadir dengan mengolah lagu-lagu warisan Benyamin Sueb dan beragam khasanah seni Betawi
Lakon Komedi Tali Jodo juga melibatkan para pemain yang menjadi bintang Betawi di era 1990-an di antaranya: Maudy Koesnaedi, Mandra, Miing Bagit, dan Didin Bagito. Para penari dan pemain lain juga didaulat oleh Teater Abang None (Teater Abnon) dengan pembina Maudy Koesnaedi dan Jakarta Street Music.
Program Indonesia Kita mulai menggelar pertunjukan sejak tahun 2011. Sejak itu, pentas-pentas yang diadakan menjadi laboratorium kreatif berbagai seniman, baik lintas bidang, kultural dan generasi, yang memerankan karyanya dari satu pentas ke pentas lainnya, hingga akhirnya mengkristal menjadi sebuah ikhtiar untuk semakin memahami proses menjadi Indonesia.

Selama 6 tahun, Indonesia Kita yang digagas oleh tiga bersaudara: Butet Kartaredjasa, Djaduk Ferianto dan Agus Noor selalu mengusung tema ke-Indonesiaan dalam balutan pertunjukan komedi yang kritis. Butet menyebutnya dengan istilah “Ibadah Kebudayaan” yakni semangat untuk bersama-sama mendukung dan mengapresiasi karya seni budaya.
Didukung Bakti Budaya Djarum Foundation, Indonesia Kita di tahun 2016 ini mempersembahkan pertunjukan dengan tema Heritage of Indonesia: Dari Warisan Menjadi Wawasan. Warisan yang dimaksud adalah semangat dan nilai-nilai, yang terus diolah dan dikembangkan oleh para pelaku kesenian dan kebudayaan.
Pada tahun 2016, selain Komedi Tali Jodo, program Indonesia Kita akan menampilkan tiga pertunjukan lain yaitu, Musikal Keroncong, La Galigo, dan Jejak Warisan Para Maestro.
“Indonesia Kita adalah program yang menghadirkan pertunjukan dengan tujuan mengenalkan potensi daerah dan membuka ruang komunikasi antar kultur budaya di Indonesia," ujar Butet Kartaredjasa lewat rilis yang disampaikannya.

Indonesia Kita, lanjutnya, merupakan usaha untuk terus merefleksikan semangat mencintai Indonesia, yaitu proses menjadi bangsa yang semakin menghargai jalan kebudayaan, dengan semakin menempatkan nilai-nilai yang toleran, menghargai pluralisme, dan keberagaman dalam proses berbangsa dan bernegara.
Kebudayaan akan menjadi inspirasi bila ia membuka wawasan bagi masyarakat pendukungnya. Dan, sebuah wawasan yang baik, selalu tumbuh dari pengalaman-pengalaman sebelumnya. Itulah kontinuitas kebudayaan. Dalam konteks itulah, warisan dan wawasan menjadi sesuatu yang menyatu, seperti dua keping dari satu mata uang, yang tak terpisahkan.
Ratu Selvi Agnesia