AKARPADINEWS.COM | KEGELISAHAN diungkapkan seorang Meneer Belanda kepada rekannya, berdarah Tionghoa, Babah Mar Wo Tong. Si Meneer galau lantaran sudah sekian lama menetap di Batavia, tanpa ditemani isteri. Rupanya, si Meneer jatuh cinta dengan putri Mar Wo Tong yang bernama Olga. Dia ingin mempersunting Olga, meski jauh rentang usianya.
Kepada Mar Wo Tong, Meneer memelas. Berharap direstui untuk menjadi suami Olga. Untuk melunakan si calon mertua, Meneer memuji-muji Mar Wo Tong. Dia mengaku senang bermitra dengan si pedagang candu yang lugu itu. "Saya bahagia sekali, semua ini (keberhasilan yang diraih), dari keras kerja, Pak Mar Wo Tong," ujar Meneer memuji Mar Wo Tong. "Bukan keras kerja, tetapi kerja keras tuan besar," kata Mar Wo Tong meralat. "Wong Londo, ngomongnya bolak-balik," balas Meneer tak mau kalah.
Lalu, Meneer menawarkan botol minuman. Mar Wo Tong sangat senang menerima minuman si tuan besar itu. "Ah... baunya amazing," katanya. Rupanya, minuman itu memabukan. Sang Meneer pun terus-terusan mencekoki Mar Wo Tong sampai mabuk, sambil menyakinkan Mar Wo Tong agar merestui anak gadisnya dinikahi. "Saya ini bibit unggul, banyak yang ingin saya bibiti," katanya. Mar Wo Tong rada tak mengerti maksud si Meneer. "Jenis bibitnya, bulldog atau herder (jenis anjing) tuan besar?" tanyanya. Meneer terlihat rada kesal. Lalu, dia menjawab, "Saya etawa." Marwoto pun tertawa. "Itu kambing," katanya.
Lalu, Meneer mengutarakan niatnya menikahi Olga. "Bagaimana kalau putri Pak Mar Wo Tong, Olga, saya jadikan isteri?" tanya Meneer. Dalam kondisi rada mabuk, Mar Wo Tong menolak permintaan Meneer karena perbedaan usia yang sangat jauh. "Tuan, kita kan kerjasama, tetapi tidak ada hubungannya dengan Olga, tidak harus Olga jadi isteri tuan besar," terangnya.
Mendengar ucapan itu, nada bicara Meneer rada meninggi. Dia kembali menyakini Mar Wo Tong jika orang Belanda, derajatnya lebih tinggi daripada etnis Tionghoa, apalagi pribumi. Mar Wo Tong terlihat takut ketika sang Meneer marah. Dia lalu membicarakan keinginan si tuan besar kepada Olga. Tetapi, Olga menolak ajakan si Meneer.
"Saya tidak mau, tidak mau," sanggahnya. Tapi, kata Marwoto, jika Olga menolak, maka dapat mengancam pekerjaannya. Dia kembali menyakini Olga bila menjadi isteri Meneer kehidupannya bakal lebih baik, karena Meneer kaya raya, memiliki kebun cengkih, kopi, dan rempah-rempah. "Saya tidak mau tunduk dengan tuan besar. Titik....!" tegas Olga lagi.

Mar Wo Tong tak tega memaksa Olga. Lalu, dia menawarkan Meneer agar mau menikahi kakak Olga, Merlyn, wanita pria (waria). "Tidak," tolak Meneer marah. "Tidak apa-apa, yang penting ada kegiatan tuan besar," ucap Mar Wo Tong sekenanya.
*****
Percakapan kocak antara Meneer (Susilo Nugroho), Mar Wo Tong (Marwoto), Olga (Olga Lydia), dan Merlyn (Merlyn Sofyan) itu mengawali pementasan teater komedi berjudul Doea Tanda Tjinta yang dipentaskan di Graha Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Jum'at (28/7). Penonton benar-benar dibuat terpingkal-pingkal oleh lelucon mereka di atas panggung dengan latar artistik Kota Batavia, bernuansa Eropa dan Tionghoa itu.
Penonton pun terhibur oleh lantunan lagu keroncong yang dinyanyikan Endah Laras, Henny Janawati, dan HS Subarjo. Lantunan suara merdu mereka seirima dengan arasemen musik Sinten Remen dan gerak para penari di atas panggung. Endah, Henny, dan Subarjo, tak sekadar menyanyi. Sesekali, mereka melakoni perannya sebagai pemain. Endah misalnya. Perempuan berperawakan besar, bersanggul, berbusaha kebaya itu, piawai juga berjenaka.
Lakon komedi itu rupanya dibumbui persaingan antara Meneer dengan Sinyo, anak lelakinya, dalam merebut cinta Olga. Tak hanya itu, Olga pun disukai Gareng, seorang aktivis pergerakan kemerdekaan. Lakon itu juga mengangkat latar perjuangan kaum pribumi, termasuk etnis Tionghoa yang turut berjuang mengusir penjajah Belanda.
Derai tawa penonton makin deras terdengar tatkala muncul Sinyo yang diperankan Cak Lontong. Sinyo sudah 30 tahun tak bertemu ayahnya lantaran sejak lahir menetap di Belanda. Cak Lontong yang lawakannya terkenal dengan logika absurd itu mampu melakoni peran dengan baik.
Dia bersama pengawalnya, yang diperankan Akbar, mengocok perut penonton, dengan joke-joke yang menyegarkan. Sinyo kerap kali mematahkan omongan Akbar sesuai versinya. Akbar yang merupakan lelaki pribumi, yang melakoni peran jongos, kerap kesal dibuatnya. Meski lugu dan bodoh, Akbar kerap kali mengoreksi Sinyo lantaran persepsinya yang salah dalam memahami maksudnya. Tapi, sebagai jongos, Akbar berusaha sabar dan mengalah karena selalu disalahkan Sinyo.
Di panggung itu, Trio GAM (Gareng, Joned, dan Wisben) yang berperan sebagai aktivis pergerakan tak kalah heboh. Peran mereka begitu jenaka. Apalagi si Gareng, lelaki bertubuh pendek, berlagak layaknya orator yang begitu bersamangat mengobarkan jargon-jargon nasionalisme. Namun, dia punya jiwa pengecut saat berhadapan dengan Sinyo yang tubuhnya tinggi besar.

Sinyo menginjak kakinya di Batavia setelah menempuh perjalanan satu bulan dari tanah leluhurnya. Dia jemput oleh Akbar atas perintah Meneer. "Saya pertama kali ke Indonesia, tetapi kayaknya saya belum pernah ke sini ya," kata Sinyo disambut tawa penonton. Akbar terlihat kebingungan. Dia lelah meladeni putera majikannya itu. "Coba kamu ngomong pakai bahasa manusia saja," katanya menyindir.
Lantaran sudah sekian lama tak bertemu, Meneer tak mengenal Sinyo. Dia tidak begitu saja percaya Sinyo adalah anaknya karena banyak orang yang mengklaim keluarganya. "Sinyo siapa?" tanyanya. Akbar gelagapan. "Kan Sinyo anak tuan besar?" balasnya. "Ngawur, anak ku kecil, masih sekolah Paud, masak sudah segede ini," kata Meneer memancing tawa penonton.
Dia lalu memerintahkan Akbar untuk mengecek kebenarannya jika Sinyo adalah anaknya. "Tanyakan, nama gurunya (di Paud), apakah noni Sukirah?" Sinyo mengaku pernah sekolah di Paud. Dia juga ingat gurunya bernama Sukirah. "Tetapi, ciri kelaminnya saya lupa."
Akbar geleng-geleng. Bagaimana mungkin Sinyo lupa jenis kelamin Sukirah? "Biasanya, yang lupa nama orang, bukan jenis kelamin." Mendengar itu, Sinyo membalas. "Saya lupa. Saya enggak pernah lihat kelaminnya," katanya disambut tawa penonton.
Kedatangan Sinyo rupanya mengusik rencana Meneer untuk mempersunting Olga. Pasalnya, Sinyo juga tertarik dengan Olga. Sampai-sampai, bapak dan anak itu bertengkar. Meneer tak mau mengalah. Dia lalu memerintahkan Mar Wo Tong untuk menjauhi Sinyo dari Olga. Namun, Mar Wo Tong lebih tertarik menjodohkan Olga dengan Sinyo. Meneer marah besar. Dia mengungkit janji Mar Wo Tong jika anaknya kelak akan jadi jaminannya.
Gareng yang mengaku pacar Olga tak menerima pula keinginan Sinyo menikahi Olga. Dia mewanti-wanti pemuda Belanda itu untuk menjauhi Olga. Tapi, Sinyo tak gentar. Si Gareng rupanya takut sama Sinyo. Keberaniannya hanya sebatas kata-kata. "Aku wedi (takut)," kata Gareng kepada Joned, dan Wisben.

Namun, di hadapan Sinyo, Gareng dan kawan-kawannya mengutarakan kebencian terhadap penjajahan Belanda. Mereka bertekad memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. "Hey, kamu sudah menginjak-injak tanah air kami. Ini tanah tumpah darah saya, akan saya pertahankan sampai titik darah penghabisan," ucap Joned.
Sinyo tak takut. Dia malah meremehkan mereka. "Merdeka, lalu setelah merdeka apa? Sekarang enak sampean, dijajah, bisa mengusir penjajah. Kalau merdeka, mau mengusir siapa? Paling bisa mengusir pedagang kaki lima, mikir....!" kata Sinyo disambut lagi tawa penonton.
Singkat cerita, Olga tak ingin dinikahi Meneer dan Sinyo. Bapak dan anak itu pun saling tuding. "Papa harusnya memberikan kesempatan kepada yang muda, Sinyo. Harus fair," tegas Sinyo. Tapi, Meneer membalas. "Justru kamu yang harusnya fair karena kamu belum pernah nikah. Saya pernah nikah jadi ketagihan." Meneer lalu menagih janji Mar Wo Tong yang akan menjadikan anaknya sebagai jaminan.
Tapi, sebelum itu, Mar Wo Tong memberikan surat dari Pemerintah Hindia Belanda kepada Meneer dan Sinyo. Rupanya, surat itu akta kelahiran Olga. Surat itu menegaskan, Olga bukan anak kandung Mar Wo Tong. Meneer dan Sinyo kaget. Rupanya, anak kandung Mar Wo Tong adalah Merlyn.
Mar Wo Tong pun menepati janji untuk menyerahkan Merlyn, anak satu-satunya ke Meneer dan Sinyo. Sontak, keduanya menolak. "Papa lebih membutuhkan," kata Sinyo. Dijawab Meneer, "Tidak, orang tua mengalah saja."
Rupanya, Olga adalah cucu salah pemimpin pasukan Tionghoa yang melawan pasukan VOC yaitu Kapitan Sepanjang atau Souw Phan Ciang. Menurut Mar Wo Tong, Kapitan Sepanjang jasanya tak lagi dikenang sebagai pejuang Tionghoa yang membantu orang-orang Jawa mengusir pasukan kolonial Belanda. "Dia adalah pimpinan yang membawai 10 ribu pasukan, untuk melawan pasukan kompeni. Ibarat dari Batavia, sampai Grobogan, Jawa Tengah, sungainya mengalir darah para pejuang, termasuk darah kakek dan buyut mu. Mamah dan papah mu mati diberondong peluru kompeni," kata Mar Wo Tong kepada Olga.

Kapitan Sepanjang dikenang sebagai panglima Perang Sepanjang di Batavia, Jawa Tengah, hingga Jawa Timur pada 1740-1743. Di bawah kepemimpinannya, pasukan Tionghoa berkolaborasi dengan pasukan Mataram, Jawa dan Madura untuk mengusir tentara kolonial Belanda.
*****
Pementasan Doea Tanda Tjinta yang merupakan pementasan Indonesia Kita ke-20, tidak hanya memapar lakon komedi. Namun, juga mengingatkan khalayak akan penting kembali merenungkan sejarah pendirian bangsa ini.Generasi saat ini harus kembali mengenang pemuda tempo dulu yang dengan gigih membangkitkan semangat nasionalisme, termasuk perjuangan etnis Tionghoa dalam mengusir penjajahan Belanda.
"Masyarakat Indonesia harus diingatkan kembali atas semangat cita-cita dan makna menjadi Indonesia, di mana perbedaan dan bermacam pertentangan pada akhirnya bisa diatasi oleh semangat kelahiran sebuah bangsa yang merdeka. Kita harus kembali pada semangat Indonesia yang plural, toleran, dan menghargai perbedaan seperti yang juga dipegang teguh para pendiri bangsa ini. Jangan sampai Indonesia yang berbhineka ini dipecah oleh oknum yang tidak mengerti makna akan sebuah bangsa yang merdeka," kata Butet Kertaredjasa, dari tim Kreatif.
Lakon Doea Tanda Tjinta mengisahkan betapa liciknya rezim kolonial Belanda, yang menggunakan segala cara untuk tetap bisa menguasai Indonesia. Lelaku Meneer misalnya, dengan kuasa yang dimilikinya, dia menekan Mar Wo Tong untuk menyerahkan anaknya menjadi isterinya. Sosok Sinyo juga memperlihat lelaki yang mau menang sendiri, angkuh, dan sombong, yang meremehkan perjuangan kaum muda, apalagi pribumi yang menjadi jongosnya. Sementara sosok Akbar menunjukan realitas orang Indonesia yang bodoh, yang menuruti segala perintah tuan besar dan Sinyo.
Sementara sosok Olga mengambarkan tentang keteguhan dan prinsip seorang perempuan Tionghoa, yang tidak ingin tunduk oleh kuasa laki-laki Belanda. Olga juga menunjukan semangat nasionalismenya tinggi, mendukung pergerakan pemuda untuk merebut kemerdekaan Indonesia. Dia begitu mencintai Indonesia, sama seperti cinta orang tua dan kakeknya terhadap Indonesia, yang terbunuh akibat peperangan melawan kolonial Belanda.
"Aku bisa merasakan, cinta mama dan papa kepadaku. Cinta yang tidak bisa dipisahkan. Dan, itu pula yang membuat aku makin mencintai negeri ini. Aku tidak mau terasing dari negeri ini," kata Olga.
Sementara Mar Wo Tong merepresentasikan sosok lelaki yang takut kehilangan jabatan, oportunis, dan senantiasa menuruti perintah si tuan besar. Demi jabatan, dia bersedia memaksa anaknya untuk dinikahi tuan besar yang sudah renta. Lakon ini juga menarasikan realitas kekinian mengenai laku politisi yang tidak bisa menjaga ucapannya dan bertindak sewenang-wenang terhadap rakyatnya.

Pementasan itu juga menghidupkan kembali musik keroncong, yang dipadukan dengan genre blues, rock, dan musik etnis. Musik keroncong sengaja dipilih karena merupakan musik tradisi yang mengiring perjalanan sejarah bangsa ini.
Sebut saja lagu berjudul Sepasang Mata Bola, Juwita Malam, Sabda Alam, Bengawan Solo, Selendang Sutera, Jembatan Merah, dan sebagainya. Di atas panggung, Endah, Heny, dan Subardjo, mampu berkolaborasi dengan Sinten Remen, menghibur penonton dengan suara merdu dan arasemen musiknya yang apik.
Dijadikannya musik keroncong dalam pementasan ini diharapkan dapat meningkatkan kembali gairah kecintaan masyarakat dengan musik tradisi yang kini mulai stagnan. Dalam pementasan kali ini, Sinten Remen memunculkan spirit kebaruan, tidak sekadar menyuguhkan keroncong konvensional. Sinten Remen berhasil menghadirkan arasemen musik keroncong yang segar dan mampu berkolaraborasi dengan para pemain.
Musik keroncong perlu dipertahankan setelah berusia lebih setengah abad di negara ini. Keroncong bertandang ke Indonesia, di bawa oleh orang-orang Portugis pada abad ke-16.
Kala itu, mereka mendirikan loji di Pulau Banda, Maluku. Namun, mereka ditangkap tentara VOC, lalu dibuang ke Kampung Toegoe. Mereka mewarisi budaya Portugis moresco, cafrinho, dan kerajinan membuat gitar. Di tanah pengasingan, mereka menghibur diri dengan gitar. Mereka menamakan gitar itu krontjong karena berbunyi tjrong. Baru ada abad ke-19, keroncong dikenal di Batavia. Keberadaannya terus dipromosikan oleh Komunitas Indo-Belanda di Kemayoran yang kerap hadir sebagai musik jalanan.

Mereka menamakan de Krokodilen atau buaya krontjon. Kala itu, musik keroncong populer dengan menggunakan bahasa Belanda dan campuran bahasa Melayu. Syairnya menggambarkan tentang kehidupan sinyo Indo-Belanda dan kisah percintaan mereka seperti lagu Oud Batavia, Schoon ver van jou, Sarinah, dan Waarom huil (Victor Ganap, Tabloid Indonesia Kita, Edisi ke-20).
"Sebagai sebuah warisan kebudayaan, musik keroncong terus menerus mengalami perkembangan dan pengolahan kreatifitas yang semakin memperkaya genre musik. Musik keroncong juga mampu menjadi medium untuk mengekspresikan banyak gagasan kreatif seperti yang dilakukan dalam program Indonesia Kita berjudul Doea Tanda Tjinta. Kali ini, kita semua diajak untuk mengingat kembali keindahan musik keroncong," ujar Renitasari Adrian, Program Director Bakti Budaya Djarum Foundation.
Dalam pementasan itu, Koreografer B Kristiono Soewardjo yang sering terlibat dalam berbagai event, baik di dalam maupun luar negeri juga mampu mengarahkan tarian para penari. Sementara tim artistik ditangani Ong Hari Wahyu dan Retno Ratih Damayanti.
M. Yamin Panca Setia