
AKARPADINEWS.COM | UNTUK kali kedua di tahun 2016, DC Universe (DCU) merilis film terbaru. Setelah film Batman v Superman: Dawn of Justice, DCU kembali meluncurkan film Suicide Squad. Kisah yang dituangkan dalam film itu berbeda dengan Batman v Superman: Dawn of Justice, meski merupakan alih wahana dari komik yang diterbitkan DC Comic dengan judul yang sama: Suicide Squad.
Film terbaru itu, mengulas kisah gerombolan penjahat yang melakoni peran layaknya pahlawan. Tema yang unik itu menjadi daya tarik bagi pecinta film, khususnya pecinta DC Comic. Kisah dalam film tersebut diawali dari keinginan Amanda Waller yang diperankan Viola Davis, salah satu petinggi militer Amerika Serikat (AS) yang ingin membentuk sebuah tim khusus untuk menuntaskan tugas-tugas berbahaya.
Waller akan mengarahkan timnya sebagai satuan khusus yang akan terjun langsung menghadang berbagai ancaman dari para metahuman atau manusia super. Ide itu muncul setelah kematian Superman.
Untuk memperkuat tim bernama Task Force X itu, Waller ingin diisi para penjahat yang memiliki talenta khusus. Alasannya, agar pihak militer AS dapat cuci tangan bila terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan saat misi dijalankan. Misi yang mereka emban sangat berbahaya. Sampai-sampai, anggota tim Task Force X diberi nama alias yakni Suicide Squad yang berarti pasukan bunuh diri.
Penjahat yang terpilih untuk menjadi pasukan Waller tersebut memiliki kelebihan masing-masing. Deadshot yang diperankan Will Smith misalnya. Penjahat bernama asli Floyd Lawton itu spesialis pembunuh bayaran yang menguasai urusan persenjataan. Dia juga juta dalam menembak.
Penjahat lain yang turut bergabung adalah Harley Quinn yag diperankan Margot Robbie. Harley Quinn merupakan kekasih Joker yang diperankan Jared Leto. Dia memiliki kegilaan yang unik dan pemberani.
Lalu, Captain Boomerang yang diperankan Jai Courtney. Penjahat ini jago dalam melempar senjata bumerangnya. Dia juga mampu bertarung dengan senjata tajam saat menghadapi lawannya.

Kemudian, Killer Croc yang diperankan Adewale Akinnuoye-Agbaje, yang tubuhnya kekar. Penjahat dengan rupa seperti buaya ini mampu menggempur lawan-lawannya dengan tenaga luar biasa. Selain itu, dia mampu menyelam di dalam air sehingga dapat diberdayakan ketika melakukan serangan dari dalam air.
Penjahat selanjutnya adalah Diablo yang diperankan Jay Hernandez. Diablo yang tubuhnya penuh dengan tato memiliki kemampuan menyemburkan dan mengendalikan api dari tubuhnya.
Terakhir, Slipknot yang diperankan Adam Beach. Penjahat ini merupakan pembunuh bayaran yang piawai menyelinap dan menggunakan tali saat menjalankan operasinya. Selain berisikan para pelaku kriminal, Task Force X juga melibatkan Rick Flag yang diperankan Joel Kinnaman. Flag merupakan anggota militer AS yang dipilih Waller untuk memimpin pasukan para bandit tersebut. Lalu, anggota lainnya yang bukan pelaku kriminal adalah Katana yang diperankan Karen Fukuhara.
Perempuan petarung asal Jepang itu menjadi pengawas dan tangan kanan Flag. Selain bertugas sebagai penyokong tim, Katana juga memiliki tugas untuk melindungi Flag dan membasmi anggota yang membelot di tengah misi.
Untuk mengontrol tugas yang diembankan kepada kriminal, Waller memasukan bom berukuran kecil di leher masing-masing mereka. Pemicu bom itu ada di tangan Waller dan Flag.
Waller lalu menugaskan timnya untuk mengamankan dan mengalahkan Enchantress. Penyihir dari masa lampau itu terjebak dalam tubuh June Moone yang diperankan Cara Delevingne, yang awalnya ingin dilibatkan dalam Task Force X.
Sayangnya, Enchantress berhasil melepaskan saudaranya, Incubus, dari cengkraman Waller. Enchantress pun melakukan pembalasan dan berupaya membangun pasukan untuk menaklukkan dunia.
Plot film Suicide Squad itu sebenarnya terlalu sederhana. Meski telah dibalut berbagai formula cerita, tidak berhasil mengangkat cerita menjadi lebih menarik.
Awalnya, di tiap trailler atau purwa tayang film tersebut, sosok Joker ditampilkan begitu menonjol. Hal itu membentuk persepsi penonton jika musuh utama dalam film ini ialah musuh abadi Batman tersebut.
Peran yang dilakoni Joker juga cukup membingungkan. Sebab, kemunculannya hanya bagian dari flashback pada tokoh Harley Quinn dan beberapa scene tentang upaya Joker menyelamatkan kekasihnya dari penjara Black Site.

Sementara para penggemar komik DC sudah kadung beranggapan jika Joker akan mengambil peran besar dalam film tersebut. Minimnya peran Joker menjadikan film tersebut kurang eksploratif.
Apalagi, dalam film ini, Joker lebih terlihat sebagai bos gangster yang kurang flamboyan. Perekaan ulang tokoh Joker dengan penuh tato di sekujur tubuhnya ini menghilangkan imaji penjahat psikopat yang tiap geraknya sulit diterka.
Namun, setidaknya, dalam film ini, Leto mencoba untuk menampilkan sisi kegilaan Joker, meski tidak sehebat Heath Ledger yang memerankan Joker pada bagian kedua trilogi Batman milik Christopher Nolan, The Dark Knight (2008). Penampilan Leto hanya mendekati ciri fisik Joker, bukan pada pendalaman karakternya.
Lalu, alur penceritaannya terkesan amat cepat sehingga terkesan terburu-buru mengejar plot utama dalam film. Walau disusupi beberapa tampilan flashback dari beberapa tokohnya, alurnya cukup melelahkan dan menjenuhkan.
Bagi pecinta komik DC, mungkin sudah akrab terhadap latar tokoh yang masuk dalam film tersebut. Tetapi, bagi penonton awam, cerita mengenai latar belakang tokoh dalam film tidak begitu jelas dan cenderung. Flashback yang disuguhkan pun kurang menarik perhatian.
Namun, setidaknya, bagi penonton awam dan pecinta komik DC, ada dua cameo yang cukup menghibur pada penceritaan latar belakang para tokoh dalam film Suicide Squad ini, yakni kemunculan Batman dan The Flash. Dua tokoh superheroes itu sudah akrab di dalam benak penonton karena sudah menjadi bagian dari budaya pop dunia.
Dua superheroes tersebut dipilih karena beberapa penjahat yang tergabung dalam Task Force X merupakan musuhnya. Deadshot, Harley Quinn, dan Killer Croc merupakan musuh Batman. Sedangkan, Captain Boomerang adalah musuh The Flash.
Pada film Suicide Squad, Warner Brothers dan DC kembali mengulangi trik yang memasukkan referensi komik dan kartun animasi seperti pada film Batman v Superman: Dawn of Justice. Pada bagian flashback tokoh Harley Quinn, sang sutradara David Ayer, memasukkan scene yang diambil dari cover Batman: Harley Quinn (1999).
Referensi itu terdapat pada scene Harley Quinn dengan kostum tradisionalnya dan Joker dengan jas tuxedo-nya saling berpelukan. Bagi pecinta komik DC, akan langsung teringat dengan komik yang ditulis Paul Dini dan digambar Alex Ross, Aaron Sowd, dan Yvel Guichet.

Selain itu, panggilan sayang Quinn kepada Joker, yakni Puddin, merupakan referensi dari serial kartun Batman: Animated Series yang diproduksi dari tahun 1995-1999. Pada serial kartun tersebut, tokoh Harley Quinn pertama kali diperkenalkan Paul Dini dan Bruce Timm sebagai tokoh pendukung Joker. Memasukkan referensi itu sebagai bentuk penghormatan Ayer terhadap dua komikus tersebut.
Selain itu, referensi lainnya dari film animasi itu ialah scene mengenai pertemuan Dr Harleen Frances Quinzel, nama asli Harley Quinn, dengan Joker. Scene itu cukup ikonik sebagai penggambaran awal kegilaan Quinn.
Adegan Quinn tercebur ke dalam kilang zat radioaktif juga mengambil referensi dari komik Secret Origin #4 (2014). Scene itu mengacu kepada latar belakang tokoh Harley Quinn pada komik DC saat fase yang diberi nama New 52.
Tampilan tokoh Deadshot juga menjadi penghibur pecinta komik DC. Karena, di dalam film, kostum yang digunakan tokoh tersebut mengikuti desain kostum dari komiknya. Detilnya itu termasuk topeng yang digunakan dalam beberapa scene.
Hanya saja, terdapat beberapa perubahan yang keluar dari jalur komiknya. Hal yang paling mencolok ialah penggambaran tokoh Deadshot. Di dalam komik, Deadshot digambarkan sosok yang berasal dari Amerika Latin. Tetapi, dengan pemilihan Will Smith sebagai pemerannya, Deadshot menjadi sosok pria kulit hitam.
Sah-sah saja memang alih wahana tersebut. Namun, penampilan Smith dalam film tersebut terlalu baik Kesan penjahat dalam diri Deadshot, tidak berhasil ditampilkan Smith.
Hanya saja, Smith berhasil menghadirkan hubungan ayah anak yang memang kental pada tokoh Deadshot. Apalagi, motivasi Deadshot bergabung dalam tim Task Force X dalam film Suicide Squad dikarenakan anaknya disandera oleh Waller.
Hal lain yang cukup menarik ialah tokoh Slipknot terlalu cepat dimatikan di dalam film ini. Dia dimatikan di awal-awal film karena mencoba melarikan diri dari misi. Flag terpaksa meledakkan bom yang tertanam di lehernya.
Kematian Slipknot terlalu cepat itu mengacu pada film animasi Batman: Assault on Arkham (2014). Pada film animasi itu, ada satu anggota Suicide Squad yang dimatikan lebih awal sebelum menunjukkan aksinya, yakni KG Beast.

Hanya saja, di dalam animasi itu, tokoh yang dimatikan itu karena tidak ingin bergabung dengan tim Task Force X. Kiranya, Ayer mendapat inspirasi scene peledakan kepala Slipknot dari film animasi tersebut.
Dalam film ini, Warner Brothers dan DC memang kembali melakukan kesalahan yang sama dengan film Batman v Superman: Dawn of Justice. Hanya saja, penyampaian Ayer dalam film Suicide Squad jauh lebih apik dibandingkan Zack Snyder dalam film Batman v Superman.
Sehingga, film tersebut masih dapat dinikmati penonton awam dan pecinta komik DC. Hal yang cukup fatal dalam film ini ialah pemilihan musuh utama pasukan Task Force X. Karena, kesan yang muncul dari pertarungan antara Enchantress dengan Task Force X seakan ingin menandingi pertarungan Avenger melawan Loki di film The Avenger (2012) yang diproduksi oleh pesaing utama DC, yakni Marvel.
Misi dan pertarungan tersebut dibuat seakan “wah” sehingga melupakan bahwa Suicide Squad bukanlah film yang berisikan pertarungan untuk keselamatan umat manusia. Ditambah, Ayer memasukkan sisi-sisi melankolis dari masing-masing karakter sehingga kesan penjahat dari masing-masing anggota Task Force X lenyap.
Sepertinya, Ayer ingin menunjukkan bahwa para penjahat itu merupakan manusia biasa, dibalik segala kejahatan yang dilakukannya. Selain itu, sisi-sisi humor gelap pada dialog dan adegannya juga kurang menendang.
Akibatnya, tidak semua penonton paham maksud sebagian besar humor itu. Bagi pecinta komik DC, humor mudah ditangkap, tetapi tidak bagi penonton awam. Selain itu, Ayer membuat Waller terkesan “bersahabat” dekat dengan Batman dalam film tersebut. Padahal, keduanya tidak memiliki kedekatan hubungan dan kerap bersinggungan satu dengan lainnya.
Walau terdapat beberapa kekurangan, setidaknya Ayer mengurai kronologis waktu yang tepat terhadap film Suicide Squad. Latar waktu film tersebut mengambil kejadian setelah beberapa tahun dari kejadian dalam film Batman v Superman: Dawn of Justice.
Apalagi, di akhir film, tepatnya pada end credit scene, Ayer memasukan adegan yang menjadi penanda penting akan film besar DC selanjutnya, yakni Justice League yang akan tayang tahun 2017. Tentunya, penanda itu diharapkan dapat sedikit mengobati rasa kurang puas pecinta komik DC yang sudah menanti film itu untuk tayang di layar lebar.

Untuk garapan film DC ke depannya, hendaknya DC perlu keluar dari bayang-bayang Marvel dan menampilkan gaya aksi dan penceritaan karakternya berbeda. Memang pecinta film di seluruh dunia sudah terlalu terpincut oleh gaya penyampaian karakter superheroes dari Marvel selama beberapa tahun ke belakang.
Namun, untuk dapat menyaingi Marvel, DC bersama Warner Brothers harus menemukan strategi baru guna menampilkan sosok-sosok karakter komik DC menjadi lebih mencolok. Bila berhasil, bukan tidak mungkin, jagad layar lebar dapat direbut oleh DC dan Warner Brothers untuk genre film superheores.
Muhammad Khairil