Indeks Kemerdekaan Pers 2026:

Kampanye Humor Kemerdekaan Pers

| dilihat 111

Presiden AS Donald Trump telah mengubah serangan yang berulang-ulang dilakukannya kepada pers dan jurnalis menjadi kebijakan sistematis, mendorong AS turun ke peringkat ke-64 (-7).

Di belahan bumi lainnya, penahanan jurnalis El Salvador, Mario Guevara, yang kemudian dideportasi, telah berkontribusi pada memburuknya lingkungan keamanan yang sudah tegang, yang ditandai dengan kekerasan polisi.

Pemangkasan drastis terhadap tenaga kerja Badan Media Global AS (USAGM) berdampak luas, serta menyebabkan penutupan, penangguhan, dan pengurangan jumlah penyiar internasional seperti Voice of America (VOA), Radio Free Europe/Radio Liberty (RFE/RL), dan Radio Free Asia (RFA) di negara-negara tempat mereka menjadi beberapa sumber informasi yang masih dapat diandalkan.

Presiden Javier Meili dan Nayib Bukele — pendukung Donald Trump yang paling vokal di Amerika Latin — telah mengikuti arahan Gedung Putih dalam pendekatan mereka terhadap media.  

Argentina di bawah Javier Meili (peringkat 98, -11) dan El Salvador di bawah Nayib Bukele (peringkat 143, -8) telah mencatat penurunan signifikan, terutama terkait dengan memburuknya indikator politik dan sosial negara-negara tersebut, yang mencerminkan peningkatan permusuhan pemerintah yang menekan pers.

Di negara-negara tempat kejahatan (membunuh) terorganisir, peringkat Indeks turun drastis. Ini terjadi di Ekuador (peringkat 125), yang telah turun 31 peringkat sejak Darwin Baque dan Patricio Aguilar dibunuh pada tahun 2025.

Pada tahun yang sama, Peru (peringkat 144 - 14) terdampak oleh pembunuhan empat jurnalis. Jaminan kemerdekaan pers di Venezuela (peringkat 159) tetap sangat tidak pasti, meskipun jurnalis yang ditahan telah dibebaskan awal tahun ini.

Terakhir, Kuba (ke-160) yang sedang mengalami krisis mendalam, sehingga memaksa beberapa jurnalis independen yang tersisa beroperasi secara sembunyi-sembunyi. Setarikan nafas, lanskap media Nikaragua (ke-168) berada dalam reruntuhan, ditandai dengan represi sistematis dan keruntuhan kondisi kerja yang berkepanjangan bagi para jurnalis.

Rezim Sangat Represif

Meskipun Undang-Undang Kemerdekaan Media Eropa (EMFA) telah berlaku, beberapa negara anggota Uni Eropa masih melanggar undang-undang tersebut. Meskipun negara-negara Uni Eropa umumnya mempertahankan posisi terdepan mereka dalam Indeks, gambaran keseluruhannya tetap beragam. Estonia, misalnya, telah turun dari peringkat ke-2 ke peringkat ke-3 karena tekanan politik terhadap pers.

Eropa Timur dan Asia Tengah tetap ditandai oleh rezim yang sangat represif, seperti Belarus (peringkat ke-165, turun 1 peringkat), Azerbaijan (peringkat ke-171, turun 4 peringkat), Rusia (peringkat ke-172, naik 1 peringkat) dan Turkmenistan (peringkat ke-173, naik 1 peringkat), yang memiliki beberapa skor terendah di dunia untuk indikator hukum (antara 22 dan 32 dari 100).

Sebaliknya, Ukraina (peringkat ke-55, naik 7 peringkat) menunjukkan sedikit peningkatan meskipun perang masih berlangsung.

Di kawasan Asia-Pasifik, rezim otoriter seringkali mempersenjatai hukum, memberlakukan sensor, dan mempromosikan propaganda untuk menekan media. Tiongkok (masih berada di peringkat 178) menjadi contoh tren ini, dengan jumlah jurnalis yang ditahan terbanyak di dunia, karena 121 profesional media saat ini berada di balik jeruji besi.

Di Filipina (peringkat 114), tuduhan terorisme yang berasal dari “penandaan merah” — taktik di mana jurnalis yang menyelidiki isu-isu sensitif bagi pemerintah dituduh  “subversif” atau “teroris.” Hal tersebut menjadi cara yang lebih disukai pihak berwenang untuk membungkam pers. Kasus jurnalis Frenchie Mae Cumpio, yang telah berada di balik jeruji besi selama enam tahun, telah menjadi simbol penindasan ini.

Untuk menandai peluncuran Indeks Kemerdekaan Pers Dunia 2026, RSF dan agensi komunikasi The Good Company meningkatkan kesadaran publik tentang bagaimana risiko yang dihadapi jurnalis bergantung pada negara tempat mereka meliput berita.

Kampanye baru “Reporters Airlines” menggunakan instruksi keselamatan dalam penerbangan untuk menyoroti bahwa, bagi mereka yang membawakan berita kepada kita, beberapa tujuan lebih berbahaya daripada yang lain.

Indeks Kemerdekaan Pers Dunia 2026 menyoroti penurunan yang mengkhawatirkan dalam kondisi kerja bagi jurnalis di seluruh dunia. Saat ini, para profesional berita semakin terpapar ancaman, penangkapan sewenang-wenang, penculikan, dan kekerasan fisik.

Kampanye Reporters Airlines

Untuk menunjukkan betapa nyatanya bahaya ini, RSF dan The Good Company mengambil risiko keamanan aktual yang harus diperhitungkan oleh jurnalis di berbagai tujuan dan menyajikannya sebagai instruksi keselamatan pada operator penerbangan fiktif “Reporters Airlines.”

Dengan menarik perhatian pada destinasi wisata terkenal yang sangat berbahaya bagi profesional berita, kampanye ini menyoroti bagaimana beberapa destinasi liburan idealis ternyata sangat ketat dalam hal kemerdekaan pers.

Direktur Jenderal RSF, Thibaut Bruttin menyatakan, “The Good Company telah mengusulkan kampanye yang menggunakan humor untuk menyoroti penurunan serius dalam keselamatan jurnalis selama beberapa tahun terakhir. "Ini berfungsi sebagai peringatan bagi masyarakat umum — sebagai warga negara dan sebagai wisatawan — yang mengunjungi destinasi di mana kemerdekaan pers bukanlah hal yang pasti," katanya.

“Untuk beberapa hal, kami tidak hanya membuat kampanye komunikasi — kami mengambil sikap. Kemerdekaan pers adalah salah satunya. Apa yang dialami jurnalis di banyak negara tidak dapat diterima dan terlalu banyak kasus yang tidak terlihat," ungkap Hadi Hasan Helou, Direktur Kreatif, The Good Company

Kampanye ini terdiri dari tiga film, masing-masing menampilkan instruksi keselamatan yang disesuaikan dengan tujuan tertentu: Vietnam (yang berada di peringkat ke-174 dari 180 negara dan wilayah yang disurvei dalam Indeks), Meksiko (ke-122), dan Tanzania (ke-117), yang dipresentasikan oleh pramugari.

Kampanye ini ditampilkan di layar iklan (DOOH) di stasiun kereta api utama di seluruh Prancis dan dalam iklan cetak di stasiun metro Paris, surat kabar, dan di radio dengan adaptasi audio dari instruksi keselamatan.

Secara online, kampanye ini diluncurkan di platform media sosial BeReal dan Meta dengan visual yang terinspirasi oleh kartu pengarahan keselamatan maskapai penerbangan.

Kampanye teaser untuk mempromosikan “Reporters Airlines” telah beredar di media sosial sejak 27 April, bagi  khalayak untuk peluncuran kampanye dan rilis Indeks Kemerdekaan Pers Dunia 2026. | sharia

Artikel Terkait : Jurnalis Hadapi Ancaman Hukum Penguasa

Editor : haedar | Sumber : berbagai sumber
 
Lingkungan
28 Apr 26, 14:29 WIB | Dilihat : 409
Jumhur Hidayat
03 Des 25, 18:35 WIB | Dilihat : 843
Jangan Pernah Menentang Semesta
04 Agt 25, 02:48 WIB | Dilihat : 1529
Almaty Kazakhtan Sentra Suara Akal Sehat
Selanjutnya
Sporta