Ingin Cantik Kok Coba-coba

| dilihat 1356

AKARPADINEWS.COM | ADA harga dan penyesalan besar yang harus dibayar ketika keinginan untuk menjadi lebih cantik, berakhir menyedihkan seperti dialami para korban klinik kecantikan palsu. Bisnis kecantikan pun tercemar oleh praktik klinik kecantikan bodong itu.

Setelah beberapa waktu lalu menguap kasus vaksin palsu, penyidik Direktorat Tindak Pidana Tertentu Bareskrim Polri, mengungkap praktik penipuan yang dilakukan pihak pengelola Queen Beauty Clinic di kawasan Sunter, Jakarta Utara. Praktik klinik yang berdiri sejak tahun 2003 tersebut diduga ilegal alias tanpa izin.

Berdasarkan hasil penyelidikan, pengelola klinik menggunakan obat perawatan kecantikan yang tidak mengantongi izin dari Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dan Kementerian Kesehatan (Kemenkes).

Sang pemilik klinik, bernisial MGT pun diboyong penyidik ke Bareskrim Mabes Polri sebagai tersangka. Mirisnya, MGT menggunakan gelar profesor dari perguruan tinggi St John University Singapura. Gelar itu hanya alat tipu dayanya untuk menarik pasien.

"Pemilik dari klinik, profesor tidak jelas karena ini tipu muslihat supaya (pelanggan) tertarik," ujar Kepala Bareskrim Polri, Komisaris Jenderal (Komjen) Polisi Ari Dono Sukmanto di Jakarta, seperti dikutip Antara, Rabu (14/9).

Klinik abal-abal ini juga menggunakan produk kecantikan dari luar negeri dengan tujuan menyakinkan pasiennya. Asal obat itu sebagian besar dari Eropa, Jepang, dan China. Polisi juga memeriksa beberapa saksi antara lain lima karyawan, tiga dokter, dan seorang pasien.

Dari penggeledahan, polisi mengamankan barang bukti berupa 30 jenis produk kecantikan yang diduga illegal. Nilai barang bukti itu ditaksir seharga Rp1 miliar. Di klinik tersebut juga terdapat bahan kecantikan seperti untuk memutihkan wajah. Sedangkan praktik bedah hidung, sedot lemak, operasi dagu, dan tubuh langsing, dilakukan di klinik utama. Setiap harinya, klinik tersebut rata-rata melayani 15 pasien.

Mayoritas pasien berpenghasilan menengah ke atas, bahkan ada salah satu artis yang berinisial M. Daftar harga untuk perawatan itu bervariasi. Untuk memperindah hidung diketok biaya Rp9,5 juta, kemudian belah dagu Rp9,5 juta, dan kantong mata Rp11 juta. Sementara memperkecil perut atau sedot lemak punggung, biayanya dari Rp40 sampai Rp70 juta.

Atas kasus tersebut, tersangka dijerat pasal berlapis. Pertama pasal 197 jo pasal 106 ayat (1) Undang-Undang (UU) Kesehatan, pasal 62 ayat (1) jo pasal 8 ayat (1) UU Perlindungan Konsumen,  dan pasal 80 ayat (1) jo pasal 42 UU Praktek Kedokteran. Tersangka terancam hukuman maksimal 15 tahun penjara dan denda Rp2 miliar.

Bisnis klinik kecantikan memang menjanjikan untung besar. Pasarnya terbentang luas karena banyak wanita yang membutuhkan perawatan kecantikan. Bagi wanita, penampilan cantik seolah menjadi keharusan. Bukan hal aneh, banyak kaum hawa rela mengeluarkan banyak uang dan menghabiskan waktu berjam-jam di salon dan klinik kecantikan hanya untuk memoles penampilannya agar lebih menawan.

Inilah yang kemudian menjadikan klinik kecantikan makin banyak bertebaran. Peluang bisnis itu pun menjadi sasaran pelaku kejahatan, dengan cara membuka praktik klinik kecantikan abal-abal. Pelaku mampu menjerat para korban lantaran iklan-iklan yang menyakinkan. Banyak perempuan yang ingin cantik, tergiur penawaran perawatan kecantikan yang harganya murah.

Praktik klinik kecantikan abal-abal di Sunter bukan pertama terungkap. Di tahun 2015 lalu, Janice Sowolino, dokter kecantikan palsu ini menjadi sorotan media lantaran membuka praktik kecantikan dengan bahan kimia yang akhirnya merusak wajah korban. Ironisnya, Janice membuka praktik ilegalnya di toilet sebuah mal.

Anehnya, banyak perempuan tergiur dengan harga murah untuk mendapatkan suntik awet muda yang ditawarkan dokter palsu ini. Ternyata, Janice hanya lulusan sekolah menengah atas (SMA). Namun, dia begitu berani menjalani praktik ilegal selama dua tahun. Mulai dari suntik kecantikan, tanam benang, memperbesar bokong, atau buah dada dengan tarif Rp6 juta. Lantaran praktik ilegal itu, lima perempuan yang menjadi pasein Janice, wajahnya bernanah, gatal-gatal, dan berdarah setelah disuntik oleh Janice.

Praktik klinik kecantikan abal-abalan dapat beroperasi lantaran kurangnya informasi yang diterima masyarakat, khususnya perempuan sehingga mudah menjadi korban. Agar terhindar jebakan klinik kecantikan palsu itu, jangan mudah terkecoh perawatan kecantikan yang mengatasnamakan dokter ahli kecantikan.

Dokter kecantikan yang benar tentu mengantongi lisensi atau surat izin praktik (SIP). Jangan sekali-kali tergiur dengan penawaran paket perawatan kecantikan yang disampaikan lewat pesan singkat (short massage service/SMS), iklan online, atau selebaran yang ditebar di jalan.

Jangan percaya pula perawatan kecantikan yang harganya murah dan menjanjikan hasil yang instan. Misalnya, membuat kulit menjadi lebih putih. Harus dikritisi betul obat yang digunakan. Jangan sekali-kali menggunakan kosmetik yang labelnya tidak populer, mencatut merek tertentu, atau percaya dengan klaim pengelola klinik telah memoles wajah artis terkenal, menjadi lebih cantik dengan harga murah.

Pasien patut jeli. Bahan kandungan produk perawatan kecantikan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan, dapat menyebabkan iritasi kulit, gatal-gatal, peradangan kulit, kulit bernanah, hingga kanker kulit. Bahkan, yang paling ekstrem, mengubah struktur wajah. Tentu, dampak itu sangat menakutkan.

Wajah menjadi lebih buruk dari sebelumnya. Karenanya, ingin cantik bukan dengan coba-coba. Jangan tergiur penawaran obat dan klinik kecantikan yang sembarangan. Lakukan riset dan bersikap lebih kritis sebelum menjadi pasien klinik kecantikan.

Ratu Selvi Agnesia

Editor : M. Yamin Panca Setia
 
Sporta
23 Agt 20, 12:51 WIB | Dilihat : 387
Anggur Hijau Douro untuk Bayern Munchen
22 Okt 19, 13:15 WIB | Dilihat : 1304
Pertamax Turbo Ajak Konsumen ke Sirkuit F2 Abu Dabi
03 Sep 18, 12:41 WIB | Dilihat : 2183
Olahraga dan Pelukan Pemersatu
Selanjutnya
Energi & Tambang