Catatan Lingkungan Hidup Bang Sem (15)

Tak Pernah Bosan Mencemari Air

| dilihat 2640

DALAM  kisah para sufi, air bahkan bisa meng­antarkan seorang perempuan pendosa ke surga.  Bahkan Allah SWT menggunakan air (sungai) se­bagai metafor untuk men­deskripsikan surga. Kisah seorang perempuan pendosa di tengah padang pasir dalam kehausan. Setelah berjalan jauh dan tiba di oase yang juga hampir kering, ia hanya bisa mengisi sedikit saja kantung airnya. Tapi, belum lagi sempat meneguk air itu untuk menghilangkan dahaganya yang tak alang kepalang, seekor anjing melolong kehausan. Pelacur itu memberikan air itu kepada sang anjing, ia sendiri tak pernah lagi merasakan bagaimana nikmatnya air untuk selamanya.

 Air sangat berperan besar dalam kehidupan manusia.

Ilustrasi di atas menggambarkan bagai­mana kita seringkali mengabaikan pentingnya air, lalu membuat kerusakan di bumi, yang menyebabkan datang meng­hampiri kita sebagai bencana. Air selalu memberi ke­manfaatan bagi kehidupan manusia, meski merupakan benda cair, ketika tidak memiliki manfaat bagi kehidupan manusia, nama­nya bukan lagi air. 

Dalam realitas ke­hidupan sosial umat manusia, perkembangan peradaban bermula ketika suku-suku atau puak masyarakat tradisional mem­bangun per­mukiman di daerah aliran sungai. Hal ini terus ber­kembang hingga kehidupan modern, dan kelak pada masa pasca modern, sebagaimana diprediksi Daniel Bell.

Dalam sistem peribadatan agama-agama samawi dan ardhi, air juga memegang peran yang sangat penting. Tak satupun agama yang dianut manusia di atas muka bumi ini tidak berhubungan dengan air.

Bagi umat Islam, air men­jadi syarat dalam bersuci, bahkan kualifikasinya sangat jelas: suci me­nyucikan. Parameternya juga tegas: air yang ber­ubah warna, berbau, dan atau berubah rasa, tidak ter­masuk sebagai air yang suci menyucikan. Karena itu tidak dapat dipergunakan untuk bersuci (wudhu’ atau janaba, misal­nya).

PANTAI CINTA - MARISSA - POHUWATO - GORONTALO

Allah SWT secara khusus menciptakan air abadi yang tak pernah kering, mengandung mineral, me­nyembuhkan, dan khas rasanya, yaitu zam zam. Inilah air yang secara spesifik diciptakan Allah SWT sebagai imbalan langsung atas keikhlasan Siti Hajar, dan kesalehan Ismail alaihis salam.

Pada kehidupan ekonomi modern, air juga me­rupakan hal utama untuk budi daya pertanian, industri, pembangkit listrik, dan transportasi. Kita membangun begitu banyak waduk-waduk dan bendungan-bendung­an untuk tujuan kemaslahatan hidup.

Disamping untuk me­ningkatkan dan me­melihara produksi pertanian dan per­ikanan darat, juga memenuhi berbagai keperluan lagi. Untuk kepentingan itu kita mengerahkan dana yang sangat besar.

Air memang berkaitan langsung dan tidak langsung dengan kesejahteraan dan kemakmuran hidup manusia. Namun, ketika air tidak lagi kita perhatikan, tidak kita perlakukan dengan sebaik-baiknya, maka wajar kalau ke­mudian air berubah menjadi bencana. Ya, mungkin semua orang ber­harap, air di­perlakukan secara arif sebagai bahan yang sangat bernilai, dimanfaatkan dengan bijak­sana, dan dijaga dari pencemaran. Karena dengan demikian, air kian bermanfaat bagi manusia.

Kebutuhan kita terhadap air bersih untuk segala ke­perluan hidup kian hari kian bertambah. Kebutuhan air standar di Indonesia adalah 60 liter/orang/per hari. Namun yang baru bisa di­penuhi hanya rata-rata 10 liter/orang/per hari.  Hal itu terjadi karena tidak seimbangnya ketersediaan dan kebutuhan air.

Pada tahun ini, Indonesia mengalami surplus defisit air sebesar 334.739,4 juta M³, bila dilihat ketersediaan air rata-rata per tahun sebesar 691.314,6 juta M³ dan kebutuhan rata-rata per tahun sebesar 356.572,2 juta M³. Namun, bila dilihat dari masing-masing pulau, tercatat Pulau Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara Timur akan mengalami defisit. Pulau Jawa akan mengalami defisit hingga -134.102,8 juta M³ per tahun, Bali defisit hingga – 27.651,7 juta M³ per tahun, dan Nusa Tenggara Timur hingga – 4.545,9 juta M³, Sulawesi hingga – 42.517,7 M³ per tahun.

SALAH SATU ANAK SUNGAI YANG MELINTASI JAKARTA DI CENGKARENG

Ironisnya, kita tidak pernah berhenti men­cemari air. Ketidak-mampuan kita mengelola hutan telah ber­akibat berubahnya air menjadi bencana. Pulau Jawa yang luasnya 13.405.500 Ha sedang menanti bencana di masa depan. Kondisi lingkung­an dan hutan Jawa hanya tinggal 4% dari seluruh luas Pulau Jawa. Padahal titik keamanan minimum yang disyaratkan adalah 30%. Yang dimaksud­kan titik aman adalah kondisi lingkungan dan hutan yang harus diper­tahankan di mana kawasan lindung terjaga dan ter­pelihara dengan baik, sehingga dapat melestarikan sumber-sumber air dan mencegah erosi. Kondisi ke­rusakan lingkungan di hampir semua puncak gunung di Jawa sangat mempri­hatinkan.  Semuanya nyaris tidak lagi memiliki tutupan vegetasi.

Sejarah banjir di Jawa selalu sama penye­babnya, yaitu: terjadinya penggundulan hutan di daerah hulu dan pe­nyumbatan oleh kotorangan di sungai-sungai dan jaring­an saluran air, dari daerah tebing hingga ke muara. Peng­gundulan hutan, bahkan tidak hanya membawa banjir, karena meng­angkut juga lumpur, dan kemudian men­dangkalkan waduk-waduk yang dibangun untuk serapan air, dan kemudian limbah beracun dari aneka pabrik.

Banyaknya pabrik-pabrik dan permukiman kumuh yang pada umumnya terbangun di daerah aliran sungai (DAS),  serta secara tidak ber­tanggung ­jawab membuang limbah­nya secara langsung ke sungai-sungai, telah me­nye­babkan terjadinya pen­cemaran di se­panjang pantai utara Jawa. Sebagai misal beberapa DAS di Jawa Barat, seperti Ciliwung, Ci­tarum, Cimanuk, Citanduy, dan Cipunagara mengalami kondisi yang mengkuatirkan. Banjir yang sering me­nenggelamkan pantai utara Jawa Barat adalah bukti paling kongkret di depan mata.

Akibat buruk yang terjadi kemudian adalah meningkat­nya berbagai masalah, seperti: kekeringan, sawah puso dan gagal panen yang berakibat pada krisis pangan, serta, krisis kekurangan air bersih untuk rakyat. Mudah-mudahan waduk Jatigede dan semua waduk yang dibangun kini dan kelak akan membuktikan kesadaran kita.

PANTAI CARITA - PANDEGLANG - BANTEN

Kondisi itu bisa terjadi akibat pe­mikiran kita yang kumuh. Karena pikiran sudah kumuh, maka kita merasa tidak lagi memerlukan lingkungan hidup yang sehat. Prinsip-prinsip hidup sehat bisa dilihat dari ter­sedianya air bersih, pengelolaan persampahan dan pen­cemaran yang selama ini terabaikan.

Banyak dampak yang ditimbulkan oleh ke­kurangan air bersih. Hampir separuh penduduk dunia yang hidup di negara-negara berkembang, kekurangan air bersih me­nyebabkan penderitaan bagi penduduk.

Pada daerah-daerah yang ke­kurangan air, wabah penyakit mudah me­nyerang. Sebagiannya merupakan penyebab kematian yang tidak kalah ganasnya dengan penyakit lain. World Health Organization (WHO) mencatat, lebih dari 2 miliar orang di dunia saat ini mengalami penyakit diare dan muntaber yang disebabkan oleh air dan makanan. Penyakit ini merupakan penyebab utama kematian lebijh dari 5 juta anak-anak setiap tahunnya.

Banjir yang melandas ibu kota negara Jakarta, termasuk rob limpahan dari laut ketika pasang, meng­ingatkan kita tentang realitas buruk­nya akhlak terhadap sumber daya alam. Tidak hanya karena sungai-sungai dirampas fungsinya menjadi perkampungan kumuh. Lebih dari itu, inkonsistensi terhadap tata ruang kawasan utara Ibu Kota menunjukkan kenyataan pahit tahunan. Aneh­nya, meski siklus bencana itu selalu terjadi, tetap saja kita membiarkan perilaku tak berakhlak ter­hadap sumber daya alam.

Reklamasi pantai utara Jakarta, tak mempertimbangkan, kelak pada masanya, semua kemewah­an yang menjadi mimpi indah hari ini di pantai utara Jakarta, akan berubah menjadi mimpi buruk. Terutama, ketika perubahan iklim terjadi, dan gunung - gunung es di kutub utara mencair. Lantas gelombang pasang, dengan ketinggian di atas rata-rata lima meter menerjang. Kita mencatat lebih dari 5 (lima) juta penduduk miskin di kawasan pantura Jawa Barat. Padahal mereka hidup di daerah lumbung padi dan pantai. Mereka juga mengalami persoalan ketersediaan air bersih. |

Editor : sem haesy | Sumber : CAWANDATU N. SYAMSUDDIN CH. HAESY (BANG SEM)
 
Sainstek
27 Okt 21, 17:41 WIB | Dilihat : 256
Waspadai Kabar Palsu Artis Meninggal di Media Sosial
20 Nov 19, 13:05 WIB | Dilihat : 1970
Rumah Ilmuwan Bukan di Menara Gading
Selanjutnya
Budaya
07 Okt 21, 09:26 WIB | Dilihat : 381
Cindai Kebangsaan yang Koyak dan Lusuh
05 Okt 21, 15:01 WIB | Dilihat : 281
Mengingat Siti Quburi di Tengah Arus Deformasi
30 Sep 21, 11:10 WIB | Dilihat : 259
Alih Rupa Sejarah
15 Sep 21, 11:09 WIB | Dilihat : 335
Prespektif Transformasi Budaya Betawi dari Setu Babakan
Selanjutnya