Aceh dalam Sekeping Memori Hidup Saya

| dilihat 273

Bang Sém

ACEH tak hanya tanah tempat di mana mereka yang berjumpa saling mengucapkan "saleum," tempat rindu dan renjana saling mengucapkan "po haba." 

Aceh adalah titik temu tempat do'a Rabi'ah al Adawiyah dari Basrah bertemu bahtera dengan syair Perahu Syeikh Hamzah Fansuri. Tempat Hikayat Prang Sabi (Tgk. Chik Pante Kulu) bertemu kisah Ainul Mardhiah, berlanjut dalam komitmen berhukum dan beradat, seperti tersirat dan tersurat dalam Hadih Maja. Saling mempertemukan cahaya kearifan dan kecerdasan.

Aceh adalah lantunan abadi dendang lagu nina bobo Dô dô da idi bak ruas bertemu buku dengan ungkap lirih pertaubatan insan : astagfirullahaladzim min kulli dzanbin adzim laa yaghfiru dzunuba illa rabbul alamin, memaknai malam sejak maghrib hingga isya' di meunasah, berlanjut pada runduk tunduk jiwa dalam qiyamul lail, hingga terdengar tahrim menyambut tiba kumandang adzan subuh penyembuh pedih luka sejarah.

Aceh, bagi saya adalah irama percakapan puitik penuh aroma para sahabat dan kerabat dari Meulaboh, Takengon, dan Lhokseumawe. Pesona persona penuh warna para sahabat dan kerabat di Lho' Nga, Lamno, Sigli dan Bireun. Aroma berkah tanah rahmah Langsa, Tapaktuan dan Sinabang. Pun, hening dan lengang Kutacane, Pulau Teunom, Breueh, dan Rabiah. Pertemuan lara dan gembira di Banda Aceh.

Aceh bagi saya adalah rangkai cerita penuh makna hikayat masa ke masa dari Tiro hingga Glee Gapui, tak hanya kisah tentang Gunongan, Meukeutop, Linta Baro - Daro Baro busana penambah pesona persona Agam dan Inong, atau takaran emas mahar berbilang mayam.

Tak juga sekadar Rencong dan pedang, pun tak sekadar para Johan dan Inong Balee, tak juga sekedar aneka kisah heroik dan patriotik di balik perjuangan Teuku Umar, Tjik Di Tiro, Tjoet Nja' Dhien, Tjoet Meuthia, Laksamana Malahayati, Abu Daud Beur'euh, Ayah Ali Hasymi dan para ulama dan cendekiawan mulia yang tercatat dalam sejarah panjang Aceh.

Aceh bagi saya, pun tak hanya masjid-masjid kokoh dalam perlindungan Allah yang tak terempas diterjang arus gelombang tsunami 26 Desember 2004 atau enam abad sebelumnya. Bahkan tak sekadar tewasnya Mayor Jendral Belanda Johan Harmen Rudolf Köhler di halaman masjid Baiturrahman, tempat pokok geulumpang ditanam dan bertumbuh deangan segala ceritanya, sehingga pohon itu diberinama Köhler Bloom.

Aceh adalah muara peradaban berbagai bangsa dengan perspektif global, jauh sebelum istilah globalisasi dengan segala percik rima-rimanya menjadi hiasan retorika pidato politik para petinggi negeri. Dimensi peradaban global yang membentuk bangsa Aceh -- oleh banyak orang lantas digutak-gatuk dengan terintegrasinya darah Arab, China, Eropa, dan Hindi. Bangsa trader, yang sesungguhnya dalam banyak hal juga dipengaruhi oleh peradaban Mesopotamia, Persia, dan Kildan.

Dua belas tahun lalu, di tepi pantai, dekat bekas pos beacukai, depan pendopo bupati Aceh Pidie yang sederhana, Bupati Pidie (kala itu) Nurdin Abdul Rachman (AR), allahyarham, berbagi imajinasi tentang globalisasi ( masa itu sedang gemar orang bicara kapitalisme global yang di dorong George Soros selepas rontoknya tembok Berlin melalui gerakan philantropi politik ke berbagai belahan dunia), pun semangat tentang 'Aceh mengglobal' ( belakangan, muncul glokalisasi sebagai istilah dari begawan marketing Philip Kotler).

Di bukit savana Gee Gapui (seluas 100 hektar) yang kemudian berubah menjadi Jabal Gafur tempat 'global university' di lingkungan perdesaan - Universitas Jabal Ghafur, allahyarham Bang Nurdin bicara, "Di sini kita mulai pembangunan pusat peradaban baru, tempat manusia-manusia unggul bervisi masa depan kita tempa."

Di tepian jalan Banda Aceh - Medan, sambil bersila di atas kursi plastik, di halaman kedai kopi, dengan kancing baju terbuka dan membiarkan rambut kribonya disapu angin, allahyarham Bang Nurdin bicara tentang human capital dan human investment, yang mesti ditempa memanusiawikan ilmu pengetahuan dan teknologi. Keseimbangan antara ilmu, teknologi, budaya dan agama. Sebelumnya, kami bertandang ke meunasah tua di Garot dan masjid tua Potemeureuhom, Labui.

Pandangan allahyarham Bang Nurdin, terasa aksentuatif, ketika Ibrahim Kadir, penyair dari Takengon - Gayo, bergumam dô dô da idi. Universitas Jabal Ghafur kala itu, seolah jawaban atas senandung ibu kepada anaknya, karena tak bisa memberi sesuatu sebagai modal, kecuali spirit heorisme patriotik untuk mengusir kapé-kapé (penjajah).

Allah hai dô dô da idi / Boh gadông bi boh kayèe uteun / Rayek sinyak hana peu ma bri / ‘Ayéb ngön keuji ureueng dônya kheun / Allah hai dô dô da idi// ( Buah gadung dan bebuahan dari pohon di hutan / Cepat besar anakku, tapi tak ada yang dapat ibu berikan / Aib dan keji dikata orang)

Allah hai dô dô da idang / Seulayang blang ka putôh taloe / Beurijang rayek muda Seudang / Tajak bantu prang tabila nanggroe / Allah hai dô dô da idang // ( Layang-layang di sawah telah putus talinya / Cepatlah besar anakku, oh, Banta Seudang! / Ikut bantu berperang untuk membela bangsa)

Masa depan Aceh saya maknai adalah ketika rencong berubah rupa menjadi ilmu pengetahuan dan teknologi dalam kebersihan tauhid yang sekaligus menjernihkan siasat (politik). Seperti dulu Orida (Oeang Repoeblik Indonesia Daerah Aceh) yang dicetak di Banda Aceh, menegaskan Republik Indonesia masih ada secara monetasi, kala Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Moh Hatta ditangkap Belanda di Yogyakarta, dan Jendral Soedirman masih memimpin gerilya.

Kala itu juga saya teringat sahabat saya sesama aktivis, allahyarham Ghazi M. Yusuf - Ketua MPM (Majelis Permusyawaratan Mahasiswa UI) yang diwariskan oleh koran Atjeh Post, oleh ibunya, yang tak sempat dihidupkannya lagi. Koran perjuangan, bersama dengan koran Waspada dari Medan.

Ingatan saya kala itu, terusik oleh gumam Ibrahim Kadir, melanjutkan syair dô dô da idi berikutnya:

Wahé aneuek bek taduek lé / Beudöh saré tabila bansa / Bèk tatakot keu darah ilé / Adak pih maté poma ka rèla //  (Bangunlah anakku, janganlah duduk kembali / Berdiri bersama pertahankan bangsa / Jangan pernah takut walaupun darah harus mengalir / Sekiranya engkau mati, ibu telah rela).

Pesan kebangsaan dari nurani dan keikhlasan seorang ibu, ditingkah oleh fungsi utama ibu sebagai al madrasah al ula (pendidik pertama dan utama), selain fungsi regeneratif, yang tersirat dan tersurat dalam bait berikutnya:

Jak lôn tatèh, meujak lon tatèh / Beudoh hai aneuek tajak u Acèh / Meubèe bak ôn ka meubèe timphan / Meubèe badan bak sinyak Acèh // (Mari ibu latih kamu berjalan / Bangunlah anakku, mari pergi ke Aceh / Sudah tercium wangi daun dari timphan / Seperti wangi tubuh anak Aceh)

Deskripsi simbolik diri orang muda laksana perahu dalam syair Perahu - Syaikh Hamzah Fansuri, dengan segala perangkat, tantangan, peluang, disertai dengan indikator kelemahan -parameter jernih, sehingga mampu merumuskan kekuatan baru menghadapi zaman yang terus berubah, tak pernah tertambat di suatu masa, apalagi kembali ke masa lampau. Di situ nilai Islam sebagai ad dhien, way of life menjadi penting, walau dalam pelaksanaan secara muamalah banyak yang tergelincir, dan tersuruk.

Gambaran masa depan dengan perjuangan keilmuan lewat pengembaraan jauh menuntut ilmu ke berbagai kota di Indonesia dan di mancanegara, kian terimajinasikan, ketika Bang Ibrahim Hassan, Gubernur Aceh kala itu meluncurkan program 'malim mulia,' beasiswa untuk anak-anak Aceh.

Dan, tanoh Aceh tanoh lon Sayang, nibak tempat nyan, lon udep matee (tanah Aceh, tanahku sayang, tempatku hidup dan mati) -- seperti syair lagu -- selalu menjadi titik kerinduan anak-anak Aceh di rantauan. Seperti mengalir dalam bait lain syair nina bobo dô dô da idang, itu.

Allah hai Po Ilahon hak / Gampông jarak h’an trôh lôn woe / Adak na bulèe ulon teureubang / Mangat rijang trôk u nanggroe (Allah Sang Pencipta yang punya kehendak / Jauhnya kampungku tak sampai untuk ku kembali / Seandainya -- aku -- punya bulu -- sayap -- untuk terbang / Supaya lekas sampai ke nanggroe (Aceh))

Kerinduan yang tak kan bertukar dengan apapun, karena nanggroe Aceh adalah 'ibu' yang senantiasa menanti anak-anaknya. Ibu yang selalu berkata dengan tatapan mata penuh cinta :

Allah hai jak lôn timang preuek / Sayang riyeuk jisipreuek panté / ‘Oh rayek sinyak nyang puteh meupreuek / Töh sinaleuek gata boh haté // (Kemarilah, nak, agar ibu dapat menimang engkau / Sayangnya ombak memecah pantai / Jika anak(ku) yang putih ini sudah besar / Di manakah engkau akan berada nanti, anakku?)

28 Desember 2003, saya datang lagi ke Banda Aceh, menghabiskan waktu Maghrib sampai Isya' di Masjid Baiturrahim. Beberapa hari kemudian, pada malam tahun baru, saya agak terpana saat menyaksikan anak-anak belia merayakan malam tahun baru, tak hanya di jalan sekitaran Masjid Baiturrahman, depan stasiun radio Flamboyan  (milik Alwin Abdullah, tempat Harris Thayeb dan saya sempat jadi tamu dalam siaran jelang pergelaran safari budaya Nusantara, beberapa tahun sebelumnya). Ada sesuatu yang berubah.

Saya tak sempat bertanya soal perubahan budaya yang terjadi saat itu dengan allahyarham Tuanku Abdul Jalil yang biasanya saya kunjungi di kediamannya, sekitaran Mata Ie. Setahun kemudian (26 Desember 2004) bencana gelombang tsunami menghempas Aceh. Beberapa sahabat mengisahkan peristiwa itu dengan suara lirih. Namun tak hanyut dalam kesedihan, meski siaran televisi berhari-hari menayangkan irama musik sendu.

Saya minta tolong allahyarham Taufik Ahmad untuk mendapatkan seat bagi beberapa teman dari Malaysia yang akan datang membawa bantuan dari Aceh. Agak susah. Beberapa bantuan harus dibawa melalui darat dengan sangat ketat penuh perhitungan.

Tiga tahun kemudian (dua tahun berturut-turut) saya datang lagi ke Aceh, memberikan pelatihan komunikasi (people relations) dan imagineering mindset. Tahun lalu, bersama pimpinan Majelis Adat Betawi, lagi saya berkunjung ke Banda Aceh. Di salah satu dinding saya membaca tulisan, petikan ucapan Sultan Iskandar Muda ketika menghukum puteranya sendiri Meurah Pupok untuk keadilan sebagai manifestasi kebudayaan.

"Matee aneuk meupat jeurat, gadoh (matee) adat pat tamita" - Bila anak mati, kita tahu di mana makamnya. Bila Adat (hukum, budaya) yang mati ke mana 'kan cari gantinya. |

 

Jakarta, 28.12.20

Editor : delanova
 
Seni & Hiburan
26 Jan 21, 20:24 WIB | Dilihat : 79
Linda Kiani Sang Kejora
24 Jan 21, 22:26 WIB | Dilihat : 113
Rubaiyat Kiamat
27 Des 20, 21:12 WIB | Dilihat : 234
Nyanyian Ombak
26 Des 20, 14:10 WIB | Dilihat : 136
Apa Kabarmu Ibu
Selanjutnya
Polhukam
27 Jan 21, 08:20 WIB | Dilihat : 68
Impeachment Memburu Donald Trump
26 Jan 21, 18:47 WIB | Dilihat : 95
Rasisme Adalah Kejahatan Kemanusiaan
07 Jan 21, 23:59 WIB | Dilihat : 505
Presiden Sumber Masalah Krisis Politik
07 Jan 21, 11:15 WIB | Dilihat : 214
Presiden Bangor Hasut Pendukungnya Melawan Suara Rakyat
Selanjutnya