
N. Syamsuddin Ch. Haesy
SALAH satu hal yang mungkin tak dianggap penting dan dipandang sepele oleh pemimpin, pengurus, kader, dan bahkan simpatisan adalah melekatnya 'elang' dalam atribut partai. Sejak badge Elang yang sedang siap 'mendarat' di lambang Bintang Mercy - Partai Demokrat (selepas Kongres II Bandung) menjadi bagian dari atribut partai, saya termasuk orang yang menduga, akan terjadi perubahan pesimistik di tubuh partai ini.
Dalam konteks imagineering (rekacita), melekatnya Elang pada badge partai, setidaknya menandai dua hal.
Pertama, menurunnya pamor Partai Demokrat ke titik lungguh. Yaitu, stepdown fase, yang sangat cepat. Dan terbukti, citra partai ini mengalami penurunan drastis, hanya karena orang-orang semaca, Nazaruddin, Anas Urbaningrum, Andi Mallarangeng, Angelina Sondakh, Sutan Batugana, Jero Wacik dan lainnya. Partai yang dielu-elukan pada Pemilihan Umum 2004, ternyata mengalami kelengahan dan kelelahan saat menghadapi fase 'storm und drang' kekuasaan. Adalah fakta, pada Pemilu 2014, partai ini relatif mengalami image damaging (penghancuran citra). Terutama, karena segelintir kader itu, menjadi noktah bagi luasnya 'jalur samodera' tempat 'bintang merah putih' - nasionalisme religius ditegakkan. Bahkan, kemudian, melalui eksplorasi media besar-besaran, merampas political identity : politik cerdas, bersih, dan santun.
Kedua, tantangan besar melakukan transformasi Elang, perubahan dramatik secara total, multi dimensi, dan multi platform. Transformasi yang harus dilakukan melalui perubahan alamiah elang. Transformasi Elang, disebut juga sebagai transformasi berdarah-darah. Dalam melakukan perubahan untuk membersihkan kutu yang berada di balik bulu-bulu pada sayap dan tubuhnya, Elang melakukan aksi naluriah: mematuki dan mencabuti bulu-bulu itu hingga berdarah-darah, sampai akhirnya tumbuh bulu-bulu baru yang menambah segak, pesona, dan kemampuannya terbang. Selepas itu, Elang melakukan perubahan dramatik atas paruhnya, antara lain dengan membenturkan paruhnya pada kayu dan karang, sampai paruh itu copot dan berdarah-darah untuk mendapatkan paruh baru lebih kokoh. Sesudah itu, Elang mencakar-cakar batang kayu keras dan dinding karang, sehingga kuku-kuku itu tanggal dan berdarah, sampai tumbuh cakar baru yang lebih kokoh dan tajam. Sesudah itu, selama berbulan-bulan Elang menghadapi panas dan dinginnya alam.

Ketiga, Elang adalah jenis hewan yang cenderung 'alone.' Ketika berjaya, segak dan pesonanya mengundang siapa saja untuk menjadi bagian dari gerak terbangnya, dan ketika harus melakukan perubahan, Elang terbang sendiri (the lonely eagle). Dalam konteks politik praktis, sudah terbukti dengan nyata, Partai Demokrat sungguh menjadi The Lonely Eagle dalam membenahi dirinya.
Kongres IV Partai Demokrat, dilihat dari metafora transformasi Elang, masih merupakan bagian dari perubahan yang berdarah-darah, apapun risikonya. Sekaligus menegaskan, Partai Demokrat sudah, sedang, dan terus melakukan ikhtiar nyata melakukan perubahan itu: membuang kutu dari tubuhnya, mengganti bulu dan sayap-sayap lusuh, mengganti kuku dan cakar. Hal ini harus dilakukan, karena momentum strategis untuk terbang kembali dengan segak, pesona, dan kharismanya (seperti periode 2004-2009) memerlukan kejelian, akurasi, dan integritas yang sungguh kokoh dan kuat.
Bagi Partai Demokrat, Transformas Elang kini adalah keniscayaan. Tanpa transformasi yang pedih dan berdarah-darah itu, Partai Demokrat hanya akan menjadi kenangan dan sulit untuk bangkit. Dalam konteks itulah jelas, Kongres IV Partai Demokrat perlu dan wajib memilih tokoh yang berani melakukan transformasi tersebut. Pemimpin yang senantiasa mampu mengenali, membaca, dan menentukan peran diri secara fungsional dan profesional di dinamika fenomena sosial ekonomi dan budaya di tengah rakyat.

Artinya Partai Demokrat, melalui Kongres IV di Surabaya (11-13/5/2015) harus mampu berfikir keras, bekerja cerdas, dan bertindak tegas dalam melakukan transformasi itu. Kemauan, kemampuan, keberanian, dan kesadaran para pendiri, pemimpin, pengurus, dan kader berbenah diri, harus tampak dengan nyata. Kekeliruan yang terjadi pada Kongres II Partai Demokrat di Bandung, harus menjadi pelajaran sejarah, bagaimana momentum strategis itu justru dihancurkan sendiri. Dan kini, seluruh kader -- khususnya pemimpin cabang Partai Demokrat, harus dengan tegas dan bulat menutup pintu bagi siapapun yang pernah menjadi bagian dari proses penghancuran partai itu. Apapun risiko yang harus dihadapi.
Selebihnya, bila Kongres IV Partai Demokrat ini dipandang sebagai ajang untuk recovery memasuki proses party development, tak bisa tidak, seluruh elemen kader partai ini, harus mau, mampu, dan berani menanggalkan fase itu. Termasuk dengan menanggalkan emblim yang merupakan metafor masa sulit sejarah kelam. Biarkan bintang mercy merah putih itu, lebih menonjol dan tak tereduksi oleh dual perception yang justru membingungkan konstituen. Dalam konteks itu, maka Kongres IV sekurang-kurangnya harus mengambil keputusan tentang formula, platform, dan program partai yang lebih mampu memperkuat fundamental partai. Baik secara struktural, fungsional, dan profesional.
Dalam konteks itu, Prof. Dr. Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) harus merekrut kader-kader militan, realistis, sekaligus visioner, yang sudah tidak punya masalah lagi dengan dirinya, baik secara ekonomi, sosial, dan kultural. |
N. Syamsuddin Ch. Haesy, pemimpin The Imagineering Institute dan Akarpadi Training Center.