Presiden Hollande : Daesh Takfiri dan ISIS di Balik Teror Paris

Teroris Itu Musuh-Musuh Islam

| dilihat 3098

AKARPADINEWS.COM | DUKUNGAN kepada Presiden François Hollande atas tekadnya melawan teroris bagai air mengalir dari seluruh penjuru dunia. Usai rapat kabinet dengan para menterinya di Istana Élysée (Sabtu: 14/11/15), dia menginformasikan klaim kelompok radikal ISIS yang sering mengaku Negara Islam, yang bertanggungjawab  atas serangan di Paris (Jum’at: 13/11/45).

ISIS menempatkan Perancis sebagai prioritas utama serangan terornya. Beberapa bulan sebelumnya, serangan sudah mereka lakukan atas kantor tabloid Charlie Hebdo yang kerap menghina Nabi Muhammad dan Islam. Charlie diduga sebagai media kaum atheis yang terus menebar islamophobia di Perancis.

Kala itu, warga Paris – termasuk Presiden Hollande lebih cenderung membela Charlie Habdo. Hollande mengutuk keras aksi penyerangan ke kantor media yang memelihara sejumlah jurnalis dan kartunis pembenci Islam.

Terkait serangan Jum’at 13/11/15 – Pemerintah Perancis merilis, serangan kali ini diklaim ISI, dilakukan oleh “Tentara Khilafah” Negara Islam. Paris menjadi sasaran, karena ibukota berjuluk “Cahaya tak Pernah Redup,” itu merupakan ibukota kekejian dan penyimpangan, ibukota maksiat dan cabul.

ISIS melalui siaran video yang mereka rekam dan menampilkan bendera hitam bertulis syahadat, itu juga mengemukakan, bagaimana mereka telah memilih delapan orang terbaik dari “Tentara Khilafah,” dan dengan cermat mempelajari lokasi yang bakal diserang. Mereka menyebut, delapan teroris yang melakukan serangan sebagai pejuang, yang mengenakan sabut bom bunuh diri, dan senapan mesin.  serangan yang dilakukan oleh para pejuang mengenakan sabuk bunuh diri dan membawa senapan mesin.

PARA KORBAN DIPANDU POLISI MENINGGALKAN STADE DE FRANCE

"Delapan saudara membawa sabuk peledak dan senjata menyasar target di jantung ibukota Perancis yang secara khusus dipilih.” Mereka memilih Gedung teater Bataclan dan arrondissement 10, 11, dan 18 untuk mendapatkan efek serangan yang mendunia. Termasuk serangan ke resto Le’ Petit Cambodge di Paris arrondissement 11.

Serangan lain dilakukan di Stade de France selama pertandingan melawan Jerman, karena mereka tahu, Presiden Perancis François Hollande ada di stadion itu. Dari pernyataan ISIS, itu diketahui pelaku teros dari jalur ISIS Suriah.

Presiden Francois Hollande sebelumnya menyebut, serangan itu didalangi oleh kelompok teroris Daesh Takfiri. Hollande mengatakan, serangan itu sebagai isyarat kelompok ini menantang perang terbuka.  Tak lama setelah Hollande menyatakan hal itu, pemimpin Daesh Takfiri spontan menyatakan, mereka bertanggungjawab atas serangan yang memakan korban lebih dari 129 tewas dan 352 terluka dan 99 orang luka berat serius.

Hollande tak bisa menyembunyikan kegeramannya atas kelompok ISIS bersama kelompok teroris Daesh Takfiri dan “Tentara Khilafah” yang meneriakkan “Allahu Akbar,” kala menembaki pengunjung konser musik band rock Amerika, Eagle of Death Metal di gedung teater Bataclan. Hollande mengatakan, Perancis akan segera membalas serangan itu. “Kami bisa lebih kejam,” serunya.

Begitu nama ISIS disebut spontan sejumlah negara tetangga bereaksi dan bergerak. Pemerintah Belgia melakukan penangkapan kepada sejumlah orang di wilayah otoritasnya. Sejumlah orang yang dicurigai di Molenbeek Saint Jean pinggiran Brussels, mereka gerebeg.

Juru bicara Kementerian Kehakiman Belgia, Sieghild Lacoere mengatakan, di situ mereka menyita sebuah mobil sewaan (VW Polo) yang diduga dipakai kawanan teroris kabur memasuki wilayah Belgia, selepas mereka meledakkan Batalcan. Mereka diciduk dicegat di perbatasan Belgia – Perancis.

PRESIDEN PERANCIS FRANCOIS HOLLANDE

Dalam kontak intelijen Perancis – Belgia, mengemuka dugaan : salah satu kawanan yang dicokok di Molenbeek, terkait dengan peristiwa serangan atas Paris.  Pihak keamanan Belgia juga menyebut, seorang teroris berusia 30 yang meninggal di dekat Batalcan memiliki sejarah kriminal dan teridentifikasi sebagai penganut wahabisme radikal sejak 2010, seperti ungkap Jaksa Molins. Hal itu teridentifikasi dari sidik jarinya.

Dalam serangan itu, setidaknya dua orang warga negara Belgia menjadi korban tewas. Hasil identifikasi korban juga mencatat Gonzalez, 23 dari El Monte – California menjadi korban tewas. Gonzalez berada di Paris sedang studi desain. Dia juga terdaftar sebagai  mahasiswi California State University, Long Beach, kata sekolah.  Selain korban-korban tersebut, juga tercatat tiga orang korban tewas warga negara Chili.

Para teroris yang teridentifikasi merupakan tersambung dengan radikalis yang menyebut dirinya kelompok jihad di Suriah dan Irak. Kelompok ini menaruh dendam terhadap Perancis dan Amerika terkait serangan udara yang banyak menewaskan kelompok mereka. Usai penyerangan balik polisi atas para teroris, di Stade de France di saku salah satu teroris ditemukan paspor Suriah. Di lokasi lain, di zona Paris 11 di salah satu pakaian teroris ditemukan paspor Mesir. Tapi, diduga paspor itu palsu.

 Meskipun belum ada konfirmasi sahih terkait klaim ISIS yang disebut Hollande, terutama kaitan Daesh Takfiri dan ISIS, tapi pejabat senior intelligen Amerika Serikat kepada CNN meyakini, kuatnya kaitan antara Daesh Takfiri dengan ISIS. “Tidak ada alasan untuk meragukan pernyataan Presiden Hollande,”ungkap pejabat itu.

Pejabat senior intellijen itu menyatakan, pasti ada koordinasi antara ISIS dengan kelompok pengendali para teroris, itu. Koordinasi mereka lebih canggih dari apa yang dilakukan Al Qaeda. Jaringan teroris yang mengguncang Paris, itu dipandang lebih piawai.

Koordinasi dan kecanggihan serangan tersebut adalah bukti terbaru bahwa ISIS gerhana al Qaeda sebagai ancaman teroris global yang paling signifikan.

SUASANA KETIKA BERLANGSUNG EVAKUASI KORBAN DI PARIS 11

Paus Fransiskus menyebut serangan ini sebagai bagian dari  proses “sedikit demi sedikit” menuju Perang Dunia Ketiga. Serangan yang mengguncang hati nurani dunia.

Dari Jerman, wartawan Guardian – Ian Traynor mengabarkan korelasi peristiwa penyerangan Paris itu dengan penangkapan seorang warga Montenegro berusia 51 tahun yang ditahan di Jerman beberapa hari sebelumnya. Mobil lelaki itu, sarat dengan senjata dan bahan peledak, ketika ditangkap di Bavaria – dekat perbatasan dengan Austria, 5 November lalu.

Pistol itu ditemukan di bawah kap mesin VW Golf-nya. Otoritas Bavaria bekerjasama dengan Perancis untuk menyelidiki : seberapa jauh hubungan lelaki tua itu dengan peristiwa di Paris. Menteri Dalam Negeri Bavaria, Joachim Herrmann, mengatakan: "Ketika seseorang didapati mengangkut beberapa Kalashnikov, granat tangan, dan bahan peledak, tentu dia terkait dengan kejahatan serius.” Artinya, ada alasan untuk mencurigai lelaki itu terkait dengan rencana aksi terorisme dan pasokan senjata kepada teroris."

Apalagi, dari hasil pemeriksaan ponsel lelaki itu dan sistem GPS (Geographic Positioning System) menunjukkan, lelaki separuh baya itu, sedang dalam perjalanan ke Paris. Polisi menyita mobil VW Golf, itu dan sejumlah senjata otomatis, 200 gram TNT, granat tangan dan amunisi.

Seorang akademisi, Catherine Sakhdam merespon keterangan Hollande mengatakan, meskipun Daesh Takfiri dan ISIS mengklaim sebagai pihak yang berada di balik serangan atas Paris, itu jangan serta menebar islamophobia – ketakutan terhadap Islam.

Sakhdam mengatakan, kejahatan kemanusiaan itu bertentangan dengan ajaran Islam. Menurutnya, sekelompok kaum radikal mungkin menyebut diri mereka muslim, tetapi Islam dan muslim tidak demikian. Terkait dengan ditemukan data salah seorang pelaku merupakan penganut keras wahhabisme, Sakhdam mengatakan, sangat mungkin mereka bagian dari gerombolan Wahhabi, yang menganut kekerasan dengan ideologi yang menyimpang dari Islam.

CATHERINE SAKHDAM : TERORIS ITU MUSUH ISLAM

“Mereka memposisikan diri di luar mazhab dalam Islam, yang mencintai damai, kasih sayang, dan moderasi. Mereka menolak ajaran Islam – yang dianut Sunni dan Shiah -- dan bergumul dengan aksi-aksi kekerasan bersimbah darah.” Padahal, menurut Sakhdam, Islam adalah agama moderasi. Muslim harus baik, lemah lembut dan sangat ketat dalam beribadah.

Ekstremisme dan radikalisme, apa pun bentuk dan tujuan mereka, menurut Sakhdam, adalah gerombolan anti-Islam, merusak citra Islam. Mereka meniadakan perintah Allah kepada umat manusia, bahwa Islam adalah agama tengah – kesalehan, dan rahmat untuk semesta.

 Sakhdam berkesimpulan, serangan Paris dikomandoi dan dilakukan oleh musuh-musuh Islam. Para dalang kejahatan kemanusiaan itu telah menodai Islam dengan meneriakkan kata-kata suci yang memuja Allah. | JM Fadhillah

Editor : sem haesy | Sumber : BERBAGAI SUMBER
 
Budaya
30 Agt 26, 07:03 WIB | Dilihat : 326
Menyambut Lembaga Adat dan Kebudayaan Betawi
19 Agt 26, 19:43 WIB | Dilihat : 502
Gema Bumantara Siti Nurhaliza dan Refleksi Pemikiran STA
23 Jun 26, 22:10 WIB | Dilihat : 839
Jakarta Ruang Lebih Luas Bagi Budaya dan Seni
01 Jun 26, 21:47 WIB | Dilihat : 784
AGI Sosok Artistik yang Bergerak
Selanjutnya
Lingkungan
05 Sep 26, 11:26 WIB | Dilihat : 363
Hutan Kalimantan Membara Jerebu Kepung Sarawak
24 Agt 26, 19:51 WIB | Dilihat : 394
Angin Selatan Hantar Jerebu ke Serawak dan Brunei
19 Jun 26, 11:49 WIB | Dilihat : 676
Penang
07 Jun 26, 12:42 WIB | Dilihat : 770
Jakarta Baur Budaya
Selanjutnya