
AKARPADINEWS.COM | PRESIDEN Jokowi tak menghabiskan kunjungan kerjanya sesuai jadual. Kabar dari kalangan istana yang mengikuti kunjungan kerja Jokowi ke Amerika Serikat mengabarkan, mantan Walikota Solo itu membatalkan agenda : bertemu dengan sejumlah kalangan pebisnis (Apple Inc, Google, Microsoft, Facebook, dan lainnya) di Silicon Valley – San Fransisco di west coast Amerika Serikat.
Jokowi meninggalkan Washington DC – Selasa (27/10) waktu setempat dan akan masuk ke wilayah Indonesia, Kamis (29/10) waktu Indonesia Barat.
Jokowi memilih kembali ke Indonesia dan menugaskan sejumlah menteri untuk menelangkai (memfasilitasi) pertemuan bisnis sejumlah pelaku bisnis digital economy (GoJek, Tokopedia, Traveloka) di sana. Dikabarkan juga, Jokowi tidak langsung menuju ke Halim Perdanakusumah – Jakarta, sebagaimana lazimnya. Melainkan akan menuju ke kota terdampak asap, bisa di Kalimantan atau Sumatera. Tentu, kalau tingkat kepekatan asap memungkinkan bagi penerbangan resmi kepresidenan.
Jokowi sendiri mengatakan, dia menugaskan Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara, Menteri Perdagangan Lembong, Kepala BKPM Franky Sibarani, dan Kepala Badan Ekonomi Kreatif Triawan Munaf untuk bertemu para chief executive officer (CEO) perusahaan-perusahaan digital itu.
Di wisma negara Amerika Serikat – Blair House, Washington DC – Jokowi mengemukakan, dari komunikasi intensifnya dengan Menko Polhukam Luhut Panjaitan, Jokowi mendapat informasi titik api pembakaran hutan di Sumsel dan Kaliteng belum lagi reda. Di Kalteng terdapat 366 titik api dan di Sumsel sebanyak 146. Jumlah titik api itu bertambah pula di Jawa, Maluku, dan Papua.
Daerah-daerah terdampak paparan asap beracun akibat pembakaran hutan, itulah yang menyebabkan Jokowi segera memutuskan pulang ke Indonesia. Artinya, Jokowi pulang lebih awal, karena banyaknya keluhan dari masyarakat berkaitan dengan dampak kesehatan dan dampak sosial.

TIM MANAJEMEN GE DIPIMPIN VICE CHAIRMAN GENERAL ELECTRIC (GE) JOHN RICE BERTEMU PRESIDEN JOKOWI DI BLAIR HOUSE - WASHINGTON DC. NAMPAK MENKO PEMBANGUNAN MANUSIA & KEBUDAYAAN PUAN MAHARANI MENYIMAK PERBINCANGAN MEREKA|
Dia mengatakan, mengikuti perkembangan asap dari jam ke jam (ketika di Halim, Jokowi mengatakan akan memantau dari menit ke menit). “Jam ke jam saya ikuti terus untuk memastikan pelayanan di bidang kesehatan. Agar penanganan korban berjalan baik, saya menuju Kalteng dan Sumsel,”katanya.
Maknanya, Jokowi berkesimpulan, penanganan korban di daerah terdampak paparan asap beracun – yang dia tugaskan kepada Menko Polhukam Luhut Panjaitan, Menteri Lingkungan Hidup, Kehutanan Siti Nurbaya Bakar, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan, dan Menteri Kesehatan Nila Moeloek tak sebaik yang dia bayangkan. Itu sebabnya, dia harus ada dan terjun langsung di lapangan. Inilah yang oleh para pembantunya selama ini disebut sebagai representasi “Negara hadir ketika rakyat memerlukan.”
Sebelum meninggalkan Halim Perdana Kusuma menuju ke pangkalan USA Airforce 1 – Andrews Air Platform – Maryland dekat Washington DC reaksi negatif kalangan masyarakat sudah merebak. Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra – Ketua Umum Partai Bulan Bintang mengatakan, mestinya Jokowi malu pergi ke Amerika Serikat ketika paparan asap beracun akibat pembakaran hutan sedang membara. Sejumlah masyarakat Riau, juga protes atas kunjungan Jokowi ke Amerika Serikat itu.
Di Washington DC, Jokowi bereaksi. Ketika berdialog dengan sekitar 1.250 warga dan diaspora Indonesia di Amerika Serikat, Jokowi juga menyinggung soal bencana asap beracun yang sedang mengepung kehidupan sebagian rakyat Indonesia. Jokowi menjelaskan, bencana asap itu sudah ada sejak 18 tahun lalu, dan setiap tahun selalu ada. Hanya saja tahun ini menjadi bencana terbesar, lantaran adanya El Nino, panas yang sangat kering sekali. Selain itu, juga karena pemberian konsesi lahan gambut yang mencapai 4,8 juta hektar.
“Ini yang kemarin sudah dilaporkan ke saya, ada tiga yang sudah dicabut, karena dipastikan (hal) itu keliru. Tapi, kalau kita mencabut sembarangan, juga nanti dituntut balik. Kita betul-betul harus teliti,”kata Jokowi dalam dialog di Wisma Tilden – KBRI Washington DC, Minggu (25/10).

PRESIDEN JOKOWI DI HADAPAN WARGA NEGARA INDONESIA DAN DIASPORA INDONESIA DI WISMA KBRI WASHINGTON DC
Jokowi menjelaskan, kini sudah ada 154 tersangka pembakaran hutan, baik dari korporasi maupun masyarakat. “Saya sudah perintahkan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan untuk yang terbakar langsung dicabut (izinnya), ambil alih lagi untuk negara. Saya sudah perintahkan dan langsung dikerjakan,”jelas Jokowi. Tapi, di Jakarta, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar, mengatakan, tidak akan membuka kepada publik korporasi milik siapa saja yang menjadi tersangka.
Jokowi juga menjelaskan, pemerintahannya dibantu oleh Russia, Malaysia, Singapura, dan Australia untuk memadamkan api pembakaran hutan. Tapi api (di lahan gambut) tak bisa padam, karena bara api berada pada lapisan gambut antara 3 sampai 5 meter. Lalu, Jokowi bercerita tentang pembuatan kanal bersekat, kanal blocking. Tapi, insinyur kehutanan lulusan Universitas Gadjah Mada yang pernah berbisnis mebel, ini mengatakan, untuk membangun kanal semacam itu diperlukan waktu tiga tahun.
“Bukan kanal, tapi kanal bersekat. Kalau kanal itu justru mengeringkan, dibuat kanal tapi bisa dibuka tutup untuk air, sehingga gambut selalu basah,”cerita Jokowi. Jokowi bertemu masyarakat dan diaspora Indonesia di Amerika Serikat, itu ditemani Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, Kepala Staf Kepresiden Teten Masduki, Kepala BIN Sutiyoso, Menteri ESDM Sudirman Said, Menteri Perdagangan Thomas Lembong, Menko Perekonomian Darmin Nasution, dan Menkominfo Rudiantara.
Selain bertemu warga dan diaspora Indonesia di Amerika Serikat, dalam kunjungannya di Washington DC, Jokowi juga bertemu dengan Executive VP Chevron James Johnson, karena CEO Chevron John S. Watson berhalangan. Setelah bertemu selama 20 menit, di ruangan yang sama, Lee Drawing Room – Blair House, Presiden Jokowi menerima Vice Chairman General Electric (GE) John Rice yang mewakili Chairman/CEO GE Jeff Immelt. Dalam pertemuan itu, Jokowi didampingi Menteri ESDM Sudirman Said.

PRESIDEN JOKOWI MEMUTUSKAN PULANG LEBIH CEPAT, ALASANNYA: ASAP BERACUN PEMBAKARAN HUTAN TAK JUGA PADAM SEPERTI INFORMASI VIA TELEPON YANG DITERIMANYA DARI JAKARTA
Dalam keterangan pers, Sudirman Said mengemukakan, Chevron yang sudah 90 tahun berada di Indonesia, ingin terus melanjutkan komitmennya. Menurut Sudirman Said, di Indonesia, Chevron mempunyai 40 ribu karyawan, 97 persen di antaranya adalah putera-puteri Indonesia. Mereka kommit terus membangun kemampuan SDM (sumberdaya manusia) di Indonesia. Mereka menyiapkan beberapa proyek, termasuk Indonesia Deep Water Development (IDD), karena harga minyak kurang baik.
Menurut Sudirman Said, Presiden Jokowi menekankan perlunya berpikir jangka panjang. Alhasil, pemerintah Indonesia mengapresiasi kehadiran Chevron yang sudah cukup lama di tanah air.
Dalam pembicaraan dengan salah satu dari 15 wakil chariman/CEO Chevron, itu juga dibahas kasus kriminalisasi karyawan Chevron di Indonesia terkait bioremediasi. Kasus itu kini sudah samopai ke tahap kasasi di Mahkamah Agung.
Akan halnya pertemuan dengan wakil GE, Sudirman mengemukakan, perusahaan ini sudah lama di Indonesia, bahkan bekerjasama dengan PLN. Dalam pertemuan itu, GE akan terus berinvestasi terutama dalam proyek listrik 35 ribu MW, yang menurut Menko Maritim dan Sumberdaya Rizal Ramli, tak masuk akal. Yang paling cepat, GE akan membangun mobile genrator pembangkit ukuran 25 MW, bisa ditempatkan di daerah remote, dan dipindahkan ketika sudah ada jaringan nasional.
Dalam waktu 9 bulan, jelas Sudirman, sudah bisa terpasang 500 MW karena punya yang sudah ready stock. GE juga akan mensupport health care technology. Saat menerima orang layer kedua dari manajemen Chevron dan GE itu, Jokowi juga didampingi oleh Menko Pembangunan Manusia & Kebudayaan Puan Maharani dan Dubes RI Budi Bowoleksono.
Kepulangan Jokowi lebih cepat ke Indonesia dikesankan karena tanggungjawab luar biasa terhadap bencana asap beracun yang sedang ‘menerkam’ Indonesia, akibat pembakaran hutan. Bukan karena faktor lain, misalnya, bukan karena kecewa karena agenda ekonomi dengan kalangan industri Amerika Serikat masih bersifat normatif.. Asap beracun membuat Jokowi pulang lebih lekas.| Bang Sem