
AKARPADINEWS.COM | KOTA Ramadi, Irak menjadi sepi. Penghuninya bergegas meninggalkan rumahnya setelah militan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) atau Negara Islam (Islam State/IS) menguasai kota itu. Warga mengungsi lantaran khawatir menjadi korban peperangan dan kebrutalan militan IS. Apalagi, terdengar kabar, tentara Irak bersama anggota milisi Sunni dan Syiah yang menjadi sekutunya, akan melakukan serangan balasan guna menguasai kembali Ramadi.
Militan IS berhasil menguasai Ramadi setelah terlibat pertempuran bersenjata dengan tentara Irak, pada Minggu (17/5). Mereka berhasil memukul mundur tentara Irak ke wilayah bagian barat, sekitar 160 kilometer dari Ramadi. Mereka mengibarkan bendera IS di kantor pusat pemerintah Ramadi. Militan IS melancarkan serangan sejak Kamis malam (14/5). Sebelum menguasai Ramadi, mereka berhasil menguasai kabupaten Jamiyah dan Albu Alwan.
Serangan pun berlanjut, hingga akhirnya mereka berhasil menguasai pusat pemerintahan di Ramadi. "IS kini menguasai pusat pemerintahan Ramadi serta mengibarkan bendera mereka di markas besar kepolisian Anbar," kata seorang mayor polisi kepada AFP, Selasa (19/5). Diperkirakan, militan IS akan terus melancarkan serangan hingga berhasil menguasai Baghdad.
Dikuasainya Ramadi oleh militan IS menjadi pukulan telak bagi pemerintah Irak, termasuk Amerika Serikat (AS) yang menjadi sekutu tentara Irak dalam memerangi IS sejak berbulan-bulan lamanya, termasuk di Baiji, sebelah utara Baghdad, Ibukota Irak. Ramadi, ibukota Provinsi Anbar, merupakan wilayah perbatasan yang menghubungkan Irak dengan Suriah dan Yordania. Kelompok jihad itu juga sudah menguasai Mosul, kota kedua terbesar di Irak dan ibukota dari provinsi tetangga, Niniwe.
Serangan itu memaksa AS untuk meningkatkan bantuan militer setelah Perdana Menteri Irak Haider al-Abadi meminta bantuan. AS berjanji akan mengirim pasukan keamanan ke Irak guna merebut kembali Anbar dari IS. Juru Bicara Gedung Putih, Eric Schultz mengatakan jatuhnya Ramadi ke kendali IS adalah suatu kemunduran. Karena sebelumnya, koalisi yang dipimpin AS telah melancarkan 32 serangan ke wilayah yang dikuasai IS, termasuk mempertahankan Ramadi. Karenanya, AS akan membantu tentara Irak untuk merebut kembali Ramadi. "Kami akan membantu Irak merebut kembali Ramadi," kata Schultz seperti dikutip Xinhua, Selasa (19/5).
Kota Ramadi, kini dalam kondisi sepi. Ribuan warganya telah meninggalkan kota itu. Dalam beberapa hari, sekitar 25 ribu orang telah meninggalkan kota yang berjarak sekitar 105 kilometer dari Baghdad itu. Tak sedikit warga yang tidur di tempat-tempat terbuka setelah meninggalkan rumahnya. PBB memperingatkan akan ancaman krisis kemanusiaan di Ramadi. Organisasi internasional itu mengklaim telah memberikan bantuan kepada warga sipil yang mengungsi. Namun, dana yang terbatas, mengakibatkan tidak semua pengungsi bisa ditangani. Tak sedikit warga yang masih bertahan di kota itu kesulitan mendapatkan makanan. Wakil Juru Bicara PBB Farhan Haq di Markas Besar PBB, New York, mengatakan, ribuan warga Ramadi telah mengungsi ke Fallujah dan Khalidiyah. Tak mudah para pekerja kemanusiaan mengerahkan bantuan karena ancaman serangan militan IS.

Peperangan diperkirakan akan berlanjut. Tentara Irak bersama sekutunya telah mengerahkan personil militer di wilayah yang berdekatan di Anbar. Mereka mempersiapkan serangan balasan besar guna merebut kembali Ramadi. Seorang kepala kepolisian Anbar, Kadhim al-Fahdawi mengatakan, jika pasukan telah ditempatkan di wilayah Husaybah, yang tidak begitu jauh dari Ramadi.
Daerah yang menjadi jantung warga Sunni Irak itu akan menjadi "titik awal" untuk operasi militer. Segala persiapan tengah dilakukan. "Operasi militer untuk membebaskan Ramadi dan Anbar tidak akan dimulai sampai semua persiapan terpenuhi," kata Fahdawi seperti dikutip AFP. Seorang warga setempat mengabarkan, jika pasukan Irak telah bergabung dengan suku Sunni untuk mengusir militan IS dan merebut Khaldiyah, kota di bagian barat Habbaniyah. Milisi Syiah, al-Hashd al-Shaabi juga diharapkan berperan dalam merebut kembali Ramadi dari IS, termasuk kota lain, Tikrit, sebelah utara Baghdad.
Untuk menghadapi serangan balasan itu, militan IS juga melakukan persiapan. Di kawasan bagian timur Ramadi, para militan IS berkumpul. Di antara mereka juga ada yang membangun benteng pertahanan dan menebar ranjau darat.
Setelah berhasil menguasai Ramadi, Jum'at (16/5) lalu, para militan juga bergerak merekrut simpatisan. Warga sekitar yang alergi dengan tentara Irak direkrut untuk memperkuat IS. Militan IS juga menyusup ke kantor-kantor polisi dan ke suku-suku yang pro-pemerintah agar berpihak kepada mereka, demikian pengakuan warga kepada AP. Militan IS juga menjanjikan kepada warga akan makanan, obat-obatan dan dokter. "Saya pikir mereka (militan IS) berusaha untuk mendapatkan simpati warga di Ramadi, memberi jaminan perdamaian dan kebebasan. Tapi, kami yakin ini hanya sementara. Kita akhirnya terjebak dalam peperangan ketika tentara pemerintah mulai melancarkan serangan kepada mereka (militan IS) untuk merebut kembali Ramadi," kata seorang warga.
Tak sedikit juga rumah rumah dan toko-toko milik warga Sunni pro-pemerintah dijarah dan dibakar. Jasim Mohammed, 49 tahun, pemilik toko pakaian perempuan diperintahkan seorang anggota Negara Islam agar hanya menjual hanya pakaian Islam. "Saya dilarang menunjukan manekin dan menggantinya dengan cara lain dalam menampilkan pakaian. Saya harus tidak menjual pakaian karena itu dilarang," katanya seperti dikutip Reuters, Selasa (19/5).
Para militan juga dilaporkan membebaskan ratusan tahanan di penjara Ramadi. Mereka juga mendatangi rumah-rumah warga dan memburu anggota polisi seraya mengatakan akan menegakan Syariat Islam. Namun, mereka kerap melakukan tindakan brutal kepada warga sipil. Sami Abed Saheb, 37 tahun, seorang pemilik restoran Ramadi mengaku melihat militan IS menembaki kaki sekitar 30 perempuan dan 71 laki-laki di tahanan yang berupaya melarikan diri.
Meskipun tentara Irak dan sekutunya dari Sunni maupun Syiah akan mengamankan Ramadi, sebagian warga mengaku takut karena melihat banyaknya militan IS. Keputusan Perdana Menteri Irak, Haider al-Abadi, yang berasal dari Syiah, yang akan mengirim milisi Syiah, Hashid Shaabi, guna merebut kembali kota yang didominasi Sunni itu, bisa menambah permusuhan sektarian di salah satu kota yang paling kejam di Irak itu. "Jika milisi Syiah masuk ke Ramadi, mereka akan melakukan hal yang sama seperti dilakukan oleh IS," kata Abu Ammar, warga Anbar yang memiliki toko kelontong di Ramadi. "Kita akan dibunuh atau mengungsi. Bagi kami, milisi dan militan IS ibarat dua disi mata uang yang sama." Pemerintah Abadi juga berjanji akan membekali dan melatih suku Sunni pro-pemerintah. Cara-cara serupa yang pernah dilakukan saat menghadapi gelombang serangan al-Qaeda, cikal bakal IS.

Selain Irak, Suriah juga kewalahan menghadapi serangan IS. Seruan internasional yang disampaikan pemerintah Suriah tak membuat IS menghentikan serangannya. Di Suriah, militan IS melakukan serangan ke wilayah Palmyra. Militer Suriah dipaksa untuk bertempur dengan militan IS di kawasan bagian timur kota kuno, Provinsi Homs. Jika IS berhasil menguasai Palmyra, maka akan memicu bencana kemanusiaan di Irak bagian Utara.
Suriah tak mampu mengendalikan kebrutalan IS lantaran dibelit perang saudara. Kelompok Syrian Observatory for Human Rights (SOHR) mencatat lebih dari 215.000 jiwa tewas akibat peperangan. Warga Suriah terpecah menjadi banyak kelompok, dari pasukan pemerintah, kelompok garis keras, pejuang Kurdi, dan gerilyawan moderat. Upaya diplomasi di Kota Aleppo dihadapi jalan buntu.
Perang terhadap IS di Suriah dan Irak telah menjadi perhatian internasional. Pasalnya, militan IS menebar teror lewat perilaku barbar yang tak berperikemanusiaan. Mereka menjadi algojo, yang begitu bengis membunuh orang-orang tak berdosa guna menunjukan eksistensinya. Mereka laksana mesin yang memproduksi teror, darah, dan air mata, yang memancing amarah dan emosi dunia.
Pergerakan kelompok radikal itu makin meluas. IS juga menciptakan benih-benih militan radikal untuk melanjutkan misinya memperluas kekuasaan Islam. Sampai-sampai, mereka pun merekrut anak-anak untuk dilatih bertindak barbar. IS mengklaim memiliki militan dari Inggris, Perancis, Jerman dan negara-negara Eropa lainnya, serta Amerika Serikat, dan negara-negara di kawasan timur tengah.
Dari hasil investigasi Komisi Hak Asasi Manusia (HAM) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), kelompok IS akan terus melancarkan serangan setelah menguasai sebagian wilayah Suriah bagian Timur dan Irak bagian utara dan barat. Komisi HAM PBB mendesak Dewan Keamanan PBB untuk menyeret pelaku ke Mahkamah Pidana Internasional (ICC). Sementara Pemerintah AS menjanjikan akan menghadiahi siapa saja yang dapat memberikan informasi keberadaan para pentolan IS hingga mencapai US$20 miliar. Petinggi IS yang diincar itu antara lain: Abd al-Rahman Mustafa al-Qaduli, Abu Mohammed al-Adnani, Tarkhan Tayumurazovich Batirashvili, dan Tariq Bin-al-Tahar Bin al Falih al-'Awni al-Harzi.
Cikal bakal IS awalnya merupakan organisasi bersenjata kelompok Sunni Jamaat Jaysh Ahl al-Sunnah wa-l-Jamaah (JJASJ) yang dideklarasikan tahun 2003 lalu. Kelompok radikal itu tujuannya hanya melakukan perlawanan terhadap invasi militer Amerika Serikat di Irak. Di tahun 2006, JJASJ bermetamorfosis menjadi Islamic State of Iraq (ISI) yang dipimpin Abu Umar al-Baghdadi yang meninggal tahun 2010 dan dilanjutkan Abu Bakar al-Baghdadi. Organisasi itu juga bertujuan mengusir militer AS. Setelah AS mengakhiri invasi di Irak, ISI kemudian mengarahkan perjuangan dengan melakukan perlawanan terhadap pasukan penguasa Suriah, Bashar al-Assad. Karenanya, ISI bermetamorfosis menjadi ISIS. Gerakan radikal itu diperkirakan makin memperluas wilayah serangan, bukan hanya di Irak dan Suriah. Karenanya, mereka bermetamorfosis menjadi Islamic State (IS).
M. Yamin Panca Setia