Derita Rohingya Belum Berakhir

| dilihat 3551

AKARPADINEWS.COM | BERAGAM derita dialami etnis Rohingya Myanmar. Mereka menjadi korban kekerasan berbau rasial dan dipaksa menyingkir dari tanah kelahirannya. Mereka meninggalkan kampung halaman tercinta untuk menyelamatkan diri. Tak sedikit di antara mereka yang tewas menggenaskan saat berlabuh ke negara lain lantaran kelaparan. Mereka juga terombang-ambing di tengah lautan lantaran perahu ala kadarnya kehabisan bahan bakar. Dan, di antara mereka ada yang terdampar di perairan Aceh, Indonesia, akhir pekan lalu.

Beruntung, ratusan imigran itu diselamatkan dua kapal kayu nelayan Indonesia pada 10 Mei lalu. Kebanyakan dari mereka adalah perempuan dan anak-anak. Perahu sesak yang mereka tumpangi diderek oleh kapal nelayan Aceh setelah sebelumnya terombang-ambing di laut akibat kapal yang mereka tumpangi kehabisan bahan bakar.

Menurut pihak berwenang, beberapa dari mereka  telah meninggal dunia di perjalanan akibat kelaparan dan dehidrasi selama terombang-ambing di lautan. Kondisi mereka yang selamat juga memprihatinkan. Sekitar 50 orang dibawa ke rumah sakit di Desa Matang Raya, Kabupaten Baktya, Aceh Utara.

Kepada Reuters, seorang imigran Rohingya, Mohammad Juned mengatakan, mereka pergi meninggalkan kampungnya menuju Malaysia. Para tekong boat yang memfasilitasi mereka telah menjanjikan pekerjaan di Negeri Jiran. Belakangan mereka ditipu, karena kapal yang disediakan para tekong ternyata rusak.

Mereka kemudian terombang-ambing di tengah lautan selama berhari-hari tanpa makanan. Hingga akhirnya, mereka terdampar di perairan Aceh Utara. Sebelum ditemukan, kapal mereka berada sekitar 7-10 mil dari pantai Aceh. Juned mengatakan, 84 rekan mereka dalam kapal itu tewas akibat kelaparan dan dehidrasi selama terombang-ambing di lautan. Sebab, mereka tak kunjung tiba di daratan. Jenazah mereka pun dibuang ke laut.

Derita etnis Rohingya bagai badai yang tak pernah berlalu. Mereka yang sebenarnya sudah sangat menderita karena diusir dari negaranya, kemudian menelan derita yang lebih parah. Banyak dari mereka menjadi korban penyelundupan imigran oleh pihak lain. Mereka terpaksa pergi jauh lantaran mimpi meraih hidup yang lebih baik.

Nasib mereka kini bergantung dari belas kasih pihak Indonesia. Para imigran Rohingnya itu ditampung di Gedung Olahraga Lhoksukon, Kabupaten Aceh Utara. Mereka akan diserahkan ke pihak Imigrasi dan Organisasi International Urusan Migrasi untuk penanganan lebih lanjut. Pemerintah setempat juga sudah membentuk tim untuk menangani imigran gelap tersebut, termasuk mengurus kebutuhan makanan mereka.

Menurut Badan Pengungsi PBB, UNHCR, jumlah pengungsi Rohingya kali ini lebih banyak dua kali lipat dibanding periode yang sama pada tahun lalu. Diperkirakan sekitar 300 orang tewas di laut dalam kuartal pertama tahun ini akibat kelaparan, dehidrasi, bahkan mereka juga menerima berbagai siksaan dari kru kapal.

Korban yang selamat di Indonesia itu tak lain bagian dari ribuan etnis Rohingnya yang kabur ke berbagai negara di Asia Tenggara. Di Malaysia, ada sekitar 1.018 pengungsi asal Bangladesh dan Rohingya. Mereka ditemukan setelah tiga perahu yang mereka tumpangi tiba di Malaysia Senin awal pekan ini. Imigran itu ditemukan tepat sehari setelah 600 etnis Rohinya terdampar di perairan Aceh.

Seperti yang dilansir CNN, Kepala polisi di Pulau Langkawi, Harrith Kam Abdullah menyatakan, ribuan pengungsi tersebut tiba di Langkawi dengan tiga perahu pada tengah malam. Namun, pihak berwenang hanya dapat menemukan satu perahu yang terjebak di dalam bangunan pemecah gelombang.

Para pengungsi itu berasal dari 555 warga negara Bangladesh dan 463 etnis Rohingya. Sebagian dari mereka terdiri dari 99 perempuan dan 54 anak-anak. Abdullah menambahkan, seluruh pengungsi itu tiba di Malaysia secara ilegal dan akan diserahkan ke departemen imigrasi.

Sejak pecahnya krisis komunal yang terjadi sepanjang tahun 1990, 2001, 2003, hingga terakhir yang terjadi di distrik Rakhine 2012 lalu, lebih dari 100 ribu Muslim Rohingya hidup tanpa status kewarganegaraan. Mereka memutuskan untuk melarikan diri dari kekerasan dan kemiskinan di Myanmar. Negara seperti Malaysia, Thailand, dan Indonesia menjadi tempat bagi mereka untuk menyelamatkan diri.

Begitu tragis, karena sebagian besar di antara mereka mempertaruhkan nyawa dengan menaiki perahu penyelundup manusia menuju Thailand. Tapi, kemalangan yang justru mereka dapat. Para penyelundup menyandera mereka dan meminta uang tebusan. Awal Mei lalu, polisi Thailand menemukan setidaknya 30 kuburan yang diyakini milik imigran dari Myanmar dan Bangladesh. Di antara Thailand dan Indonesia, nasib paling tragis etnis Rohingya justru dialami ketika mereka berada di Malaysia.

Karena, di Malaysia, imigran Rohingya tidak mendapat perhatian penuh oleh pemerintah dalam negeri mereka. Tidak seperti di Indonesia yang menyediakan tempat, makanan, bantuan non medis terhadap ratusan warga Rohingya yang terdampar. Pada akhir tahun lalu, banyak dari imigran Rohingya di Malaysia mengalami tindak penculikan, kekerasan, dan penganiayaan terkait kasus penyelundupan manusia yang terjadi di negeri Jiran tersebut.

Sejumlah kerabat dan saksi korban penculikan menyatakan, setidaknya tiga pengungsi Rohingya diculik di wilayah Penang saat berada di rumah, kedai kopi, bahkan di jalan pada periode 2013-2014. Selain itu, seorang pria Rohingya disiksa setelah dibawa oleh para penyelundup melalui Thailand. "Tiga dari empat kasus penculikan terakhir berujung pada tindak pembunuhan," kata salah satu kerabat korban yang diculik dan menolak disebutkan namanya, seperti dikutip Reuters.

Kebanyakan, pengungsi Rohingya ditahan para penyelundup di sejumlah penampungan kumuh di tengah hutan. Mereka baru dibebaskan setelah sanak kerabat membayarkan uang tebusan. Pengungsi Rohingya ini sebenarnya adalah orang-orang sederhana yang mendambakan hidup lebih baik di wilayah selatan Malaysia yang relatif makmur. Namun, derita mereka alami karena wilayah ini rawan kejahatan.

Etnis Rohingnya sejatinya adalah warga minoritas Myanmar beragama Islam. Mereka sebagian besar menetap di negara bagian Arakan, Myanmar, dekat perbatasan Bangladesh sejak abad 15 SM. Etnis Rohingya merupakan hasil akulturasi dan asimilasi bangsa Indo-Arya di India serta Bangladesh. Namun, peradaban yang muncul akibat peleburan budaya tersebut justru menimbulkan konflik yang dipicu sikap perlawanan mayoritas rakyat Sino-Tibet.

Menurut sejarah, etnis Rohingya adalah warga Muslim pertama yang menginjakkan kaki di Myanmar pada tahun 1430-an. Kala itu, penguasa Arakan yang beragama Buddha, Raja Narameikhla, mempersilakan warga muslim keturunan Bangladesh untuk bermigrasi ke Arakan dan merekrut mereka sebagai penasihat Kerajaan Arakan. Sepeninggal Raja Narameikhla, etnis Rohingya tetap tinggal di Arakan dan mengabdi kepada Kerajaan.

Pada 1785, daerah Arakan ditaklukan oleh warga Burma (Myanmar) beragama Budha. Dari wilayah selatan, mereka mengeksekusi seluruh pria muslim Rohingya serta mengusir etnis ini dari tanah Arakan. Sekitar 35 ribu warga Arakan terpaksa melarikan diri ke Bengali, kemudian menjadi bagian dari warga koloni Inggris, British Raj di India. Peristiwa penyerangan itu adalah embrio diskriminasi yang diderita etnis Rohingya hingga kini.

Kemudian, semenjak pergantian pemerintahan kolonial dari Inggris ke Jepang, nasib etnis Rohingya tak kunjung cerah. Bahkan, Setelah Perang Dunia II dan kudeta Jenderal Ne Win pada 1962, warga Rohingya mendambakan pembentukan negara sendiri di Arakan. Namun, mereka berhadapan dengan kekuasaan militer. Etnis Rohingya pun mengalami kekerasan yang luar biasa. Rezim militer menuding Rohingya sebagai separatis. Akhirnya, status kewarganegaraan Rohingya tak jelas.

Harapan etnis Rohingya untuk mendapatkan kehidupan lebih baik menjadi sia-sia ketika tahun 1982 Pemerintah Myanmar menolak status warga negara bagi mereka. Warga Rohingya juga tidak dimasukkan ke dalam 135 etnis yang diakui oleh otoritas Myanmar. Selama puluhan tahun ke depan, mereka menjadi orang-orang pesakitan di tanah kelahirannya. Perlakuan diskriminatif mereka rasakan. Mereka sulit mendapatkan pekerjaan, tidak bisa menikah di bawah otoritas negara, tidak bisa sekolah, hingga tidak bisa mendapat sertifikat kelahiran.

Tahun 2012 menjadi puncak penderitaan etnis Rohingya. Stigma negatif terhadap etnis Rohingya dimanfaatkan oleh kaum mayoritas Buddha untuk membakar isu Islamophobia di Myanmar. Paling utama adalah pembebasan pendeta Buddha radikal Ashin Wirathu yang kemudian membentuk Gerakan 969 yang menyebarkan sentimen Islamophobia.

Gerakan 969 yang dibentuk pada 2012, adalah gerakan yang menerbar sentimen rasialis. Gerakan itu menyebarkan kebencian jika umat Muslim yang hanya empat persen dari seluruh populasi Myanmar itu akan menjadi kelompok mayoritas di negara itu. Kerusuhan pun pecah. Pada 2012, bentrokan membesar hingga menewaskan 192 korban jiwa etnis Rohingya. Sisanya, sebanyak 192 ribu warga Rohingya mengungsi ke tempat yang sebenarnya juga tidak aman bagi mereka.

Dalam rentang waktu 2012-2104, sebanyak 86 ribu warga Rohingya mengungsi dengan menggunakan transportasi kapal. Sayang, beberapa dari mereka justru menemukan ajalnya di laut. Seperti dilansir Reuters, 1,328 warga diketahui tenggelam di perairan sekitar Asia Tenggara.

Lantas, bagaimana respons Pemerintah Myanmar atas tragedi kemanusiaan yang dialami Ronghingya ini? Sementara PBB telah mengutuk keras tindak diskriminasi terhadap etnis Rohingya. Bahkan, utusan PBB di Yangon menuding aparat keamanan Myanmar menyalahgunakan kekuasaan terkait kekerasan komunal antara umat Budha dan Muslim Rohingya.

Namun, kecaman pihak ototritas perdamaian dunia tertinggi itu diabaikan Pemerintah Myanmar. Menteri Luar Negeri Myanmar, Wunna Maung Lwin mengklaim pemerintah telah maksimal “menahan diri” dalam upaya mengakhiri kekerasan di Rakhine.

Rezim militer Myanmar yang represif dianggap menjadi biang kebijakan diskriminatif yang memicu tragedi kemanusiaan. Indikasinya, ketika lima pekerja untuk Badan Pengungsian PBB turut ditangkap bersama 858 orang yang ditahan aparat keamanan karena dianggap terlibat kerusuhan. Menteri Urusan Perbatasan Myanmar, Thein Htay mengklaim, para pekerja kemanusiaan itu mengambil bagian dalam kekerasan dan ikut membakar sejumlah desa.   

Namun, Pemerintah Provinsi Rakhine melalui Chief Minister of Rakhine State, U Maung Ohn berkomitmen membenahi nasib etnis Rohingnya yang tinggal di Rakhine. Ia juga memiliki keinginan untuk belajar dari pengalaman Pemerintah Indonesia, yang sukses mengelola konflik berbau etnis beberapa tahun silam. Namun, seperti angin lalu, komitmen itu akhirnya tak pernah terwujud.

Bagai menelan ludah sendiri, Pemerintah Myanmar justru melanggar komitmennya memberi hak dan suara kaum minoritas di negaranya. Pemicunya adalah protes besar-besaran kaum Buddha yang tidak setuju kaum minoritas Rohingya untuk terlibat dalam kegiatan politik. Ujungnya, pada Februari lalu, pemerintah Myanmar resmi mencabut kartu identitas warga minoritas.

Etnis Rohingya telah menjadi korban diskriminasi akut di negara kelahirannya sendiri. Sentimen rasial menjadikan mereka dihantui brutalisme massa seperti pemerkosaan, pembunuhan, hingga pembakaran rumah. Belum lagi masa depan anak-anak Rohingya yang diselimuti kegelapan karena bencana kelaparan, kekurangan gizi, dan jauh dari akses pendidikan. Sampai kapan derita itu berakhir? Etnis Rohingya adalah penghuni di dunia yang juga mempunyai hak yang sama dengan etnis-etnis lainnya.  

Adhimas Faisal

Editor : M. Yamin Panca Setia
 
Ekonomi & Bisnis
08 Agt 26, 19:08 WIB | Dilihat : 442
Bukan Karena Wangsit
28 Jul 26, 00:07 WIB | Dilihat : 737
Destry Pjs Gubernur BI
22 Jul 26, 23:27 WIB | Dilihat : 900
AirBorneo Kebanggaan Rakyat Negeri Sarawak
Selanjutnya
Humaniora
21 Okt 26, 22:16 WIB | Dilihat : 101
Hamdan Zoelva Gugah Kesadaran Kebangsaan
10 Okt 26, 19:36 WIB | Dilihat : 255
Pertamina Bantu Perajin Desa Adat Sade
09 Okt 26, 17:53 WIB | Dilihat : 313
Anne Carson Raih Nobel Sastra 2026
Selanjutnya