Mafi Fulus Mamfus... Haiiyyyyaaaaaa

| dilihat 6526

LUNG sedang sibuk melayani pelanggannya yang berkerumun di kedai. Wajahnya berseri-seri. Hari ini, dagangannya relatif laris. Dia tak peduli apa yang sedang terjadi di negeri ini, karena yang terpenting baginya: makin laris dagangan, makin cepat nyicil utang ke bank.

Bila setoran ke bank lancar, bank tak akan bermasalah, dan  bisnis bisa terus bergulir.

Satu persatu pelanggan meninggalkan kedainya. Lung bersiul-siul, seolah ingin menyanyikan Hua Tian Cuo yang dipopulerkan Wang Lihong. Ketika matanya memandang jauh ke ujung lorong pasar, siulannya tersendat.

Dia melihat isterinya, Ling jalan bergegas diikuti kakaknya, Koh Yang. Terlihat dari kejauhan, keduanya berbincang tak biasa. Lung berfikir ada yang salah dengan dirinya, sehingga Ling harus membawa kakaknya, Yang. Tapi, setelah dia pikir-pikir lagi, tak ada peristiwa yang buruk dalam kehidupannya sebulan terakhir.

“Lung… maap, oe ganggu sebentar,”ujar Yang begitu tiba di depan kedai.

“Ada apa Koh? Kelihatannya lagi galau..”

“Bukan galau, Koh Yang lagi kesal,” sela Ling.

“Kesal sama siapa?”

“Ama politisi..” jawab Koh Yang.

“Ada urusan apa dengan politisi? Sejak kapan Koh Yang berpolitik?  Ada calon menteri idola Koh Yang kena stabilo merah dan kuning?”

Koh Yang menggeleng. Ling mencoba menjelaskan. Lung menyimak penjelasan isterinya. Koh Yang kesal lantaran sepasang anak Koh Yang, keponakan mereka, mendadak tak mau lagi sekolah.

Anak pertamanya yang semula bercita-cita masuk Akademi Militer, sontak membatalkan cita-citanya semula. “Coba lu bayangin, apa gua gak kesal? Udah bener-bener punya cita-cita jadi soldadu, karena dia memang pintar dan kuat jasmaninya, eh dia gak mau lagi..”

“Terus dia maju jadi apa? “

“Dia mau masuk partai kayak  si Aseng.”

“Bagus dong. Supaya bisa jadi politisi.”

“Ya, tapi dia bercita-cita jadi anggota satgas partai.”

Lung tertawa.

“Kenapa lu ketawa? Gua lagi kesel.”

“Terusin keselnya koh.. Terusin..”

“Belon sempet kesel ama yang sulung, eh yang bungsu bikin tambah kesel.”

“Kenapa lagi?”

“Dia minta berhenti sekolah. Dia mao dagang ikan di pasar.”

Ling menjelaskan, anak sulung Koh Yang ngebet mau menjadi anggota Satgas Partai, supaya bisa jadi Presiden. Terus anak bungsunya, mau berhenti sekolah SMK-nya, supaya bisa jadi Menteri.

Lung tersenyum. Dia paham sekarang. Dia maklum.

Di jaman ketika pembangunan manusia dan kebudayaan sedang dijadikan jargon dan spirit negara bahari sedang dijadikan tema besar, apa yang dilakukan kedua anak Koh Yang, memang bisa bikin jengkel.

“Tapi, ngapain kudu jengkel, Koh? Gak apa-apa, suruh aja dia kuliah sampai jadi sarjana, terus izinkan dia aktif di partai jadi anggota satgas. Ajarin dia baris berbaris dengan baik, sambil merintah-merintah.. Cengengesan juga boleh kok..”

“Maksud lu biarin aja dia ganti cita-citanya?”tanya Koh Yang. Lung mengangguk. Percakapan mereka terhenti sesaat, karena datang Wan Apud.  Sobat kental yang biasa mengepul batik dari para pengrajin itu dilibatkan Lung membicarakan kekesalan Koh Yang.

Wan Apud tersenyum. “Lung bener, Koh Yang. Dulu, sekolah berhubungan dengan cita – cita, sekarang kan jaman udah berubah, udah berevolusi, jadi gak apa-apa kalo cita-cita anak Koh Yang mental ke sono atawa ke sini.”

“Maksud Wan Apuh?” tanya Ling.

“Sekarang ini yang menentukan hidup anak-anak kita adalah nasib dan takdir, keberuntungan dan kesempatan. Bener kata Lung, banyak jalan jadi Presiden, termasuk lewat jalur Satgas Partai. Banyak juga jalan menjadi menteri, termasuk dengan berhenti sekolah, mengepul ikan, terus lompat jadi wirausahawan sukses. Yang penting kerja, kerja, kerja, seperti dulu sering diserukan Dahlan Iskan.”

“Jadi,” tanya Koh Yang.

“Gak usah pusing.. jalanin aja hidup. Buat kite-kite pedagang, jalanin aje happynomic atau happolitic, happy-happy bernilai ekonomi atau cengangas-cengenges berdampak keuntungan politik. Jangan kebanyakan ngomel. Ude tua.. Ntar kena stroke lagi..  Biarin aje anak-anak idup di jalan impiannye kendiri.“ Ling memandang Lung, Koh yang terlongong. “Yang penting ade fulus, Koh.. fulus.. mafi fulus, mamfus.. Punya fulus, Koh Yang bisa jadi investor, donatur atawa bandar politik..!”

Lung tertawa. Ling tersenyum. Koh Yang mesem. Wan Apud terbahak.. Haiyyaaa…|

 

Editor : N Syamsuddin Ch. Haesy
 
Budaya
30 Agt 26, 07:03 WIB | Dilihat : 327
Menyambut Lembaga Adat dan Kebudayaan Betawi
19 Agt 26, 19:43 WIB | Dilihat : 502
Gema Bumantara Siti Nurhaliza dan Refleksi Pemikiran STA
23 Jun 26, 22:10 WIB | Dilihat : 839
Jakarta Ruang Lebih Luas Bagi Budaya dan Seni
01 Jun 26, 21:47 WIB | Dilihat : 784
AGI Sosok Artistik yang Bergerak
Selanjutnya
Energi & Tambang
31 Agt 26, 07:54 WIB | Dilihat : 250
Jebolan Pertamuda Pertamina Bantu Nelayan dengan Iwak
28 Agt 26, 17:30 WIB | Dilihat : 293
PHE Perkuat Kemitraan Masyarakat
18 Agt 26, 18:17 WIB | Dilihat : 459
PHE Pertegas Komitmen Jaga Ketahanan Energi Nasional
17 Jul 26, 17:25 WIB | Dilihat : 439
Monetisasi Gas Sengeti Dorong Investasi Baru di Jambi
Selanjutnya