Polisi Zionist Israel Menyerang Brutal Prosesi Pemakaman Shireen

| dilihat 277

TINDAKAN biadab dan anti kemanusiaan, lagi ditampakkan polisi dan serdadu zionis Israel, Jum'at (15/5/22), di kawasan Kota Tua, Palestina.

Mereka tak cukup puas telah membunuh Shireen Abu Akleh (51), jurnalis Al Jazeera saat meliput pendudukan serdadu Israel atas pemukiman warga Palestina di Jenin (Rabu, 13/5/22).

Iring-iringan jenazah bergerak dari Rumah Sakit Perancis di lingkungan Syeikh Jarrah di Jerussalem Timur, menuju pemakaman Katolik di bukit Sion. Shireen akan dimakaman di sebelah makam orang tuanya.

Lebih dari seribu pelayat mengiringi jenazah Shireen, yang sebelumnya mendapat penghormatan kemuliaan sebagai martir, dari Presiden Palestina Mahmoud Abbas di Kompleks Kepresidenan Palestina - Ramallah (Kamis, 14/5/22).  

Mahmoud Abbas menganugerahkan Bintang Al Quds atau Bintang Palestina saat upacara penghormatan terakhir kepada Shireen, sebelum ambulans membawanya menuju ke wilayah Kota Tua Jerussalem.

Jum'at jelang petang, setelah berlangsung misa di Katedral Kabar Sukacita dipimpin Pastor Fadi Diab,  peti mati Shireen diusung tinggi-tinggi. Mereka mengelu-elukan jenazah dengan berulang kali menyebut nama Shireen dalam proses menuju Gerbang Jaffa yang menuju ke Bukit Sion.

Sambil mengangkat peti jenazah Shireen tinggi-tinggi, mereka berseru dalam irama serempak yang beraturan: "Zionis Yahudi menembaknya. Umat Islam menggelar prosesi pemakamannya. Dan orang-orang Kristen menguburkannya.. Shireen.. Shireen.. Shireen."

Anak-anak pramuka Palestina merentangkan tangan mereka, menjaga suasana tenteram sebagaimana laziumnya prosesi jenazah. Namun, saat bersamaan, helikopter Israel meraung-raung di udara.

Polisi dan serdadu Israel dengan senjata lengkap, mengawasi mereka dengan ketat disertai tatapan mata tajam menimbulkan suasana provokatif.

Seketika botol-botol minuman kosong terlontar ke udara. Polisi Israel menghadang prosesi. Para pelayat dan pengiring jenazah dari kalangan umat Islam dan Kristen, meminta jalan. Tapi, polisi Israel justru melakukan aksi mencari tahu siapa pelontar botol minuman plastik kosong itu.

Polisi Israel segera merangsek. Ketika itulah batu-batu terlontar ke arah mereka. Pengusung dan pengiring peti jenazah Shireen terdesak ke belakang.

Prosesi pemakaman Shireen seketika berubah kacau. Sejumlah pelayat dan pengiring peti jenazah melakukan perlawanan dengan menggunakan batu, membalas aksi polisi yang menggunakan tongkat dan granat kejut.

Beberapa saat, peti jenazah sempat merosot dan nyaris jatuh ke atas pedestrian, ketika polisi terus menyerang, menerjang secara membabi buta.

Sebagian pengiring dalam prosesi itu berlarian, terpencar, menghindari aksi polisi zionis Israel yang semakin ganas.

Pramuka Palestina berseragam yang sebelumnya menjaga kehidmatan prosesi disepanjang jalan Patriarkat Katolik, tak mampu menciptakan suasana tertib di pedestrian tempat serangan polisi berlangsung. Mereka  berlarian pula ke berbagai penjuru arah.

Suasana khidmat dalam rangkaian penghormatan terakhir atas jenazah Shireen, segera buyar.

Kamera Al Jazeera Arabic merekam aksi brutal polisi Israel, ketika mereka memukul dan menendang pelayat di sebelah peti mati Shireen. Beberapa pelayat  mengalami perlakukan kasar, dipukuli dengan tongkat polisi secara ganas.

Situasi kemudian berangsur pulih. Tapi suasana tegang terus mengikuti prosesi pemakaman yang pilu di zona yang selama ini menjadi pusat ketegangan antara polisi dan serdadu Israel dengan penduduk setempat.

Zionis Israel telah berulangkali merangsek dan menduduki zona itu, merampas rumah penduduk dan membiarkan warga Palestina pemilik rumah pergi mengungsi, tanpa sempat membawa harta benda yang mereka dapatkan dengan bersusah payah.

Tempat pemakaman Shireen oleh komunitas internasional memang dimasukkan ke dalam kategori wilayah pendudukan penjajah biadab Israel.

Seperti biasanya, polisi zionis Israel berkilah, bahwa yang mereka lakukan merupakan tindakan pencegahan berlangsungnya penghasutan nasionalis Palestina. Tapi, rekaman video peistiwa itu justru menjelaskan fakta yang sebenarnya.

Polisi juga merekam botol-botol plastik dalam video, untuk mengimbangi fakta yang sebenarnya terjadi. Termasuk, video terpisah tak bertanggal yang menunjukkan beberapa batu di tanah. Tidak ada indikasi yang jelas kapan atau bagaimana batu-batu itu mencapai tempat itu.

Polisi zionis Israel yang memberlakukan politik apartheid atas penduduk Palestina, sejak Kamis (12/5/22) sudah mendatangi keluarga Abu Akleh, dan 'menekan' mereka, agar tidak menampilkan “bendera dan slogan” di pemakaman Shireen, seperti dituturkan Ahmad Tibi, seorang anggota Palestina dari Knesset, Parlemen Israel - kepada wartawan Jerusalem Post.

Tekanan atas keluarga Abu Akleh, itu tidak bisa mencegah warga Palestina yang hendak mengekspresikan kesedihan mereka dengan bendera dan teriakan yel.. yel.

"Yahudi menembaknya. Umat Islam menggelar prosesi pemakamannya. Umat Kristen menguburkannya.. Shireen.. Shireen.."

Yel.. yel dan seruan yang menunjukkan kebersatuan bangsa Palestina, sesuatu yang melekat di dalam jiwa dan tindakan Shireen sebagai jurnalis srikandi Palestina.

Mereka memang berbeda agama dan keyakinan, namun satu bangsa, yang sedang menghadapi penjajah Israel, yang tanpa henti menduduki dan merampas tanah air mereka.

Video yang disiarkan Al Jazeera dan tayang di berbagai stasiun televisi internasional, menunjukan, pada satu titik selama pemakaman, seorang pria memegang karangan bunga berdiri di antara pengusung jenazah dan polisi.

Lantas, seorang polisi zionis Israel terekam merobek tiga bendera Palestina dan melemparkannya ke tanah, video menunjukkan.

Video itu juga merekam gambar, saat pelayat berteriak serempak, “Dengan jiwa kami, dengan darah kami, kami berkorban untukmu, Shireen.” Suara lonceng gereja terdengar sayup dalam atmosfer video itu.

Atas tindakan brutal polisi zionis Israel, Naftali Bennett - seorang juru bicara Perdana Menteri Israel menolak berkomentar, begitu pula juru bicara menteri keamanan publik Israel, Omer Bar Lev, yang mengawasi polisi.

Mendiang Shireen Abu Akleh yang berpendidikan arsitek dan memilih jalan jurnalisme untuk ikut memperjuangkan kemerdekaan bangsanya, memang milik Palestina.

Ia jurnalis pemberani yang memandang peristiwa pendudukan Israel harus diwartakan ke seluruh dunia, tak peduli kecil atau besar peristiwanya. Hal itu sudah dilakukannya sejak 25 tahun terakhir.

 Jutaan pemirsa di seluruh dunia, telah melihat laporan dia dari wilayah tersebut di saluran berita yang paling banyak ditonton di dunia Arab dan internasional.

Pemirsa hafal dengan  penyampaian tenang reporter ikonik dengan kata-kata : “Ini Shireen Abu Akleh, Palestina.”

Berbagai laporan jurnalis, seperti Hiba Yazbek dari Nazareth, Israel, Iyad Abu Hweila dari Kota Gaza, Patrick Kingsley dan Raja Abdulrahim melaporkan dari Yerusalem memberikan gambaran, kematian Shireen di ujung peluru serdadu Israel yang menembus bagian belakang kepalanya, begitu menghentak kesadaran kemanusiaan.

Shireen menjadi ikon jurnalisme pembebasan kemanusiaan dan kemerdekaan bangsa Palestina di abad ke 21.

Dalam wawancara tahun 2017 dengan saluran televisi Palestina An-Najah NBC, dia ditanya, apakah pernah takut ditembak?

"Tentu saja aku takut," katanya. “Pada saat tertentu Anda melupakan ketakutan itu. Kami tidak melemparkan diri kami ke kematian. Kami pergi dan kami mencoba menemukan di mana kami bisa berdiri dan bagaimana melindungi tim bersama saya, sebelum berpikir tentang bagaimana saya akan tampil di layar dan apa yang akan saya katakan.”

Mohammed Daraghmeh, kepala biro Ramallah untuk outlet berita berbahasa Arab Asharq News, yang berteman dengan Shireen selama bertahun-tahun, mengatakan dia tetap berkomitmen untuk meliput semua masalah yang mempengaruhi Palestina, besar dan kecil.

Terakhir, Shireen berbincang dengan Mohammed Daraghmeh, dua hari sebelum peluru merenggut nyawanya, dan mengatakan kepadanya, bahwa dia tidak berpikir peristiwa di Jenin cukup penting untuk diliput oleh seorang jurnalis senior seperti Shireen.

"Tapi dia tetap pergi. Dia meliput peristiwa dengan cara yang seharusnya dia lakukan.”

Peristiwa serangan polisi zionis Israel pada Jum'at petang itu, disoroti banyak rekan dan petinggi di berbagai belahan dunia, seraya membayangkan, seperti apa rasanya bagi orang Palestina yang hidup di bawah pendudukan Israel.

Bahkan, Esawi Frej, salah satu orang Arab pertama yang menjabat sebagai menteri ( Menteri Kerjasama Regional) Israel, menulis di aku Twitter-nya, "Hari ini polisi Jerusalem menodai memori dan pemakaman Shireen Abu Akleh.”

Frej menyebut, “kebrutalan dan semangat polisi untuk merebut setiap bendera Palestina” menghasilkan “pergolakan yang tidak perlu,” tulisnya. “Polisi tidak menunjukkan rasa hormat kepada para pelayat dan tidak memahami perannya sebagai organisasi yang bertanggung jawab untuk menjaga ketertiban, bukan pelanggarannya.”

Diplomat Uni Eropa (UE) menyebut polisi Israel tak perlu berkilah. “Hari ini, UE dan mitra yang berpikiran sama menghadiri pemakaman Shireen Abu Akleh di Yerusalem Timur yang diduduki,”

Delegasi Uni Eropa untuk Palestina dalam komentar yang diposting di Twitter, mengungkapkan, “Terkejut dengan kekerasan di kompleks Rumah Sakit St Joseph dan tingkat kekuatan yang tidak perlu yang dilakukan oleh polisi Israel selama prosesi pemakaman.”

Perwakilan AS Rashida Tlaib, satu-satunya warga Palestina-Amerika anggota Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat, menulis di akun Twitter-nya, bahwa serangan itu menunjukkan tindakan “dehumanisasi” yang terus berlanjut atas Shireen, setelah kematiannya.

Rashina meminta Kementerian Luar Negeri AS mengutuk tanggapan polisi  Israel. Dia bertanya, "apakah menjadi orang Palestina membuat Anda kurang Amerika?"

Di Gedung Putih, sekretaris pers Jen Psaki menggambarkan rekaman kekerasan dalam proses pemakaman Shireen, sebagai "sangat mengganggu." dan berkata, "Kami menyesalkan intrusi ke dalam apa yang seharusnya menjadi prosesi damai."

Editor Jerusalem Post, Yaakov Katz, menulis di Twitter: “Apa yang terjadi di pemakaman Shireen Abu Akleh mengerikan. Ini adalah kegagalan di semua lini.”

Dalam tweet kedua yang ditulis dalam bahasa Ibrani, Yaakov Katz mengkritisi polisi Israel, dan mengingatkan: “Apakah ini bukan waktunya untuk akuntabilitas?”

Kementerian luar negeri Qatar, menyalahkan polisi Israel atas pembunuhan Shireen Abu Akleh dan mengatakan bahwa pihak berwenang “terus meneror warga sipil dan peserta pemakaman sampai tempat peristirahatan terakhirnya.”

Berbagai sumber lain menyebut, peristiwa penembakan Shireen dan aksi brutal pada prosesi pemakamannya, tak bisa dilepaskan dari serangkaian peristiwa brutal polisi dan serdadu Israel, sejak Ramadan 1443 (Maret 2022) lalu di kawasan Masjid al Aqsa.

Dan.. tak bisa menyangkal, siapapun yang mengaitkannya dengan tindakan brutal tahunan, setiap kali akan tiba Hari Nakba. Hari bersejarah yang diperingati oleh warga Palestina setiap tahun pada tanggal 15 Mei, mengenang dan mengingat pengusiran 700.000 warga Palestina dan pendudukan yang terus berlanjut, sejak Yahudi mendirikan negara Israel.. | Yasmeen, Jeehan

Editor : delanova | Sumber : AlJazeera, 24NewsRec,JerusalemPost, dan sumberlain
 
Sporta
Polhukam