
AKARPADINEWS.COM | KAMIS, 27 Agustus 2015 malam di ruang perpustakaan kediamannya di Puri Cikeas – Gunung Putri, Bogor, Prof. Dr. Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) berdiskusi dan berbincang dengan sejumlah pemimpin redaksi media massa nasional. Perbincangan cerdas tentang kondisi mutakhir kondisi perekonomian dunia dan dampaknya terhadap Indonesia.
Dalam acara yang berlangsung hampir dua jam itu, nampak Rosiana Silalahi - Pemimpin Redaksi (Pemred) KompasTV, Najwa Shihab - Wapemred MetroTV, Uni Lubis - Mantan Pemred Antv, Asro Kamal Rokan - Mantan PU LKBN Antara/Pemred Republika, Titin - Pemred CNN Indonesia, Budiman Tanuredjo - Pemred Kompas, Wartawan Senior Teguh, Pemred RTV, Pemred Rakyat Merdeka, Newscaster TV One – Indah Rahmawaty dan lain-lain.
Di kediaman warga Cikeas yang juga Ketua Umum Partai Demokrat itu, juga nampak Wakil Ketua DPR RI – Agus Hermanto, Ketua Fraksi Demokrat – DPR RI Edhy Baskoro Yudhoyono, mantan Menteri Sekretaris Negara Sudi Silalahi, mantan Menteri Hukum & HAM Amir Syamsudin, mantan Sekretaris Kabinet Dipo Alam, mantan Juru Bicara Presiden Julian Pasha, mantan Menpora Roy Suryo, Sekjend DPP Partai Demokrat Hinca Pandjaitan, Anggota DPR RI Ruhut Sitompul, dan sejumlah pengurus DPP Partai Demokrat. Tampak juga, mantan anggota DPR RI Ramadhan Pohan.
Dalam kesempatan dialog yang diinsiasi Imelda – Ketua Departemen itu, Pemimpin Redaksi CNN Indonesia, Titin – menanggapi sikap kikuk SBY menyikapi situasi mutakhir perkembangan dunia yang berdampak kehidupan ekonomi di Indonesia, spontan bicara.
“Saya mendorong bapak, yang berpengalaman memimpin bangsa ini selama sepuluh tahun, untuk tidak ragu memberikan saran dan berbagi pengalaman kepada Presiden Jokowi bagaimana mengatasi masalah,”ujarnya.
Akan halnya Rosiana Silalahi mengemukakan, belajar dari pengalaman krisis 2008, mereka yang berwenang mengambil langkah untuk mencegah terjadinya krisis. Tetapi, ketika krisis berlalu, politisi – termasuk anggota parlemen – dan media menyatakan pada masa itu tak ada ancaman krisis.
Maka terjadilah kasus Bank Century yang akhirnya mengorbankan Sri Mulyani dan Budiono. Situasi demikian membuat sejumlah kalangan yang seharusnya bertindak mencegah terjadinya krisis, saat ini, menjadi ragu-ragu dan kadung takut mengambil keputusan.
Akan halnya Najwa Shihab bertanya, pandangan SBY terhadap pemerintahan kini. “Menurut Pak SBY, Presiden sekarang punya sense of crisis?”
Wartawan senior Teguh menyampaikan, kondisi Rupiah sekarang tidak ujug-ujug begitu saja mengalami pelemahan. Ia mengingatkan apa yang ditempuh SBY ketika terjadi pelemahan Rupiah pada 2013. Akan halnya Budiman Tanurejo memandang, pandangan-pandangan SBY penting dikemukakan kepada publik, terutama untuk membangkitkan kembali optimisme.
Dalam kesempatan itu, SBY berbagi pengetahuan dan pengalaman yang dilakukannya ketika menjabat Presiden Republik Indonesia selama sepuluh tahun. SBY mengemukakan, kalau dia menyampaikan saran dan usulan, termasuk kritik bukan karena celometan, melainkan karena tanggungjawab moral sebagai rakyat, sekaligus sebagai pemimpin partai keempat terbesar di Indonesia.
Menanggapi Titin, SBY mengemukakan, sejak 10 bulan terakhir, dia banyak menahan diri untuk muncul di masyarakat dan menyampaikan pandangannya. Ia ingin, seluruh kalangan termasuk masyarakat dunia, melihat realitas, bahwa Presiden RI saat ini adalah Jokowi, bukan dirinya.

IMELDA SARI, NAJWA SHIHAB, INDY RACHMAWATI, TITIN, UNI LUBIS, DAN ROSIANA SILALAHI USAI DISKUSI DI HALAMAN KEDIAMAN SBY | FOTO @Imeldasari
Meski sudah menahan diri, ternyata sejumlah negara, seperti Kerajaan Saudi Arabia masih mengirim kawat ucapan selamat Hari Kemerdekaan RI ke 70 kepada dirinya. Selain itu, ungkap SBY, kita membantu pemerintah dengan cara memberi kesempatan untuk menempuh cara menyelesaikan masalah. Supaya jangan salah paham.
Dia tak mau disangka mencampuri urusan. SBY mengaku, terakhir berkomunikasi dengan Presiden Jokowi sebulan lalu. SBY menyampaikan pandangan khusus terkait dengan penyelenggaraan Pilkada langsung, kala sedang berkembang isu tentang Perppu untuk mengatasi calon tunggal di daerah-daerah tertentu.
Menurut SBY, semua pihak, termasuk seluruh politisi dan pemimpin Partai Politik mesti menempatkan Presiden Jokowi sebagai Pemimpin bangsa ini. “Mataharinya harus satu, yaitu Pak Jokowi,” ungkap SBY bersungguh-sungguh.
Terkesan, SBY memberi kontribusi pemikiran dengan cara elegan dan cerdas. Antara lain, menggelar diskusi dengan para Pemred, mantan Menteri, Pengurus DPP Partai Demokrat, dan para sahabat lainnya. Tradisi ini, berlangsung selama sepuluh tahun SBY menjabat Presiden.
“Ruangan ini bikin kangen. Sudah lama tidak diskusi di sini,” ujar Uni Lubis, Mantan Pemred ANtv mengenang. Dia dan Rossy juga mengulang cerita, bagaimana SBY dan sejumlah menterinya antusias dan tak pernah kehilangan momen untuk membahas cara mengatasi masalah. Terutama, ketika situasi sedang menekan. Bahkan sampai di pesawat, ketika melakukan kunjungan kenegaraan ke luar negeri.
Menyikapi pertanyaan dan pandangan Najwa tentang pemanfaatan instrumen partai untuk mewujudkan dukungan kepada pemerintahan Jokowi – JK, SBY mengemukakan, Partai Demokrat selain mempunyai kader sebagai anggota parlemen, juga kepala daerah. “InshaAllah mereka berperan aktif dalam memberikan solusi dan berkontribusi membantu pemerintah mengatasi masalah,”ujarnya.
Selain semua itu, tentu SBY dan Bu Ani tak pernah lupa mendoakan agar bangsa ini mampu mewujudkan kondisi yang lebih sejahtera dan adil. Sejumlah pemimpin redaksi dan wartawan senior yang biasa peserta aktif diskusi dengan SBY, berhalangan, karena ada acara lain dengan salah seorang Menteri. | BANG SEM