Obituari

Harry Sungguh Mengemban Amanah Sampai Akhir

| dilihat 315

Catatan Bang Sém

pemakaman di taman makam pahlawan adalah upacara wisuda termulia

kala jenazahmu bertoga kafan. kau bawa ijazah kebajikan dan kemuliaan husnul khatimah,

melampaui kualifikasi summa cum laude, saat jenazahmu dibaringkan di bumi-Nya,

bersandang gelar tertinggi Allahyarham.

maka tuntaslah seluruh proses pendidikan sepanjang hayat.

rasa kehilangan bergerak ke langit jadi gumpal kenangan abadi, sahabat.

tiba waktu, malaikat mengiring langkahmu menuju posisi tertinggi insan kami

menuju jannah-Nya, aku bangga kepadamu.

Rangkai aksara dan kata ini mengalir begitu saja dan mengendap di benak, Sabtu (18 Desember 2021), jelang tengah malam, menyusul kabar wafatnya Prof. Harry Azhar Azis, PhD, guru besar ke ke 24 di Fakultas Ekonomi dan Bisnis dan ke 475 Universitas Airlangga Surabaya. Harry menjadi guru besar dalam bidang Ilmu Ekonomi dan Bisnis, Spesialis Audit Keuangan Negara.

Saya jadi ingat momen kecil penuh makna pada 8 November 2018, selepas subuh. Harry mengirimkan ucapan selamat hari kelahiran untuk saya. "Jaga kesehatan, teruslah kreatif, badan rampingkan..," tulisnya dalam pesan whatsapp.

Beberapa hari kemudian, ia mengirim lagi pesan, mengabarkan, telah mengirim undangan untuk menghadiri pidato pengukuhannya sebagai Guru Besar, Senin 26 November 2018.

Saya senang mendapat kabar, itu. Saya telepon dia. Saya katakan kepadanya, saya bahagia beroleh kabar, itu. Apa yang dia cita-citakan menjadi kenyataan. Tapi, karena masih sibuk di jiran, Malaysia, saya tidak bisa memenuhi undangannya. Saya hanya memberikan ucapan selamat.

Harry maklum, meski agak masyghul. "Menjadi Profesor," adalah salah satu titik pencapaian yang sudah terbayangkan olehnya sejak masih menjadi aktivis mahasiswa.

Untuk pertama kali, Harry menyampaikannya asa-nya, ketika saya bermalam di kediamannya, di bilangan Rawamangun, Jakarta Timur.

Di setelempap kamar seorang mahasiswa yang mengekspresikan 'kegelisahan,' itu kami sering diskusi, melanjutkan diskusi panjang sambil bejalan kaki dari terminal bis Rawamangun.

Harry mengucapkannya saat memetik gitar sambil bersenandung, mengiringi saya baca puisi cinta, yang saya tulis seketika. Puisi itu saya peruntukkan, bagi seorang mahasiswi Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI) di Bandung, yang kemudian juga menyandang jabatan akademik sebagai Profesor.

Harry adalah sahabat yang membanggakan. Di masanya, ia adalah sosok pemimpin muda yang punya daya tahan luar biasa menghadapi storm und drang.

Saya bersahabat dengan Harry sejak sama-sama ikut Maperca (Masa perkenalan calon anggota) di lingkungan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) cabang Jakarta.

Ia merupakan salah seorang aktivis mahasiswa 70-an yang mesti 'diamankan' dalam rumah tahanan khas politik.

Persahabatan kami terus berkembang dan terpelihara. Kami tumbuh dalam dinamika persahabatan yang relatif unik dan dinamis: Harry, Tonny Ardie, Rum Alim, Afni Achmad, sering bersama dalam proses perkaderan HMI, masa itu. Kami bersama menjadi instruktur dan bergantian menjadi Master of Training. Pada masa, itu Tonny Ardie penyampai materi utama NDP (Nilai Dasar Perjuangan) mengubah metode penyampaian materi secara estafet di antara kami.

Pada masa-masa dikuntit para intel Laksus Kopkamtibda Jaya (Pelaksana Khusus Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban Jakarta Raya), saya sering bersama dengan Harry.

Selepas itu, kami terpisah dan berpisah karena kesibukan masing-masing. Sekali-sekala kami jumpa dan berdiskusi. Ketika kembali berjumpa di Jakarta awal dekade 90-an, saat saya memimpin operasional Televisi Pendidikan Indonesia (TPI) kami berbincang tentang sistem pendidikanm jarak jauh yang lebih kreatif.

Kala itu Departemen Pendidikan dan Kebudayaan sudah membentuk Pustekkom (Pusat Teknologi Komunikasi) Pendidikan, yang menjadi salah satu unsur berdirinya TPI, selain Departemen Penerangan.

Harry yang lahir di Tanjung Pinang, 25 April 1956, dan menyelesaikan studinya University of Oregon, Eugene, Oregon, Amerika Serikat, dan membawa pulang ijazah Master of Arts, beberapa kali berdiskusi intens dengan saya tentang pemikiran Ivan Illich, terkait dengan konsepsi deschooling society. Juga pemikiran Paulo Freire, ahli pendidikan Brazil. Konsepsi pendidikan orang merdeka.

Baik Illich maupun Freire berpijak pada kebijakan pendidikan yang menempatkan manusia merdeka sebagai kata kunci perubahan. Suatu sistem pendidikan alternatif yang membangun sikap kritis kaum yang tertindas, sebagaii kunci perubahan sosial.

Kami juga sering berdiskusi tentang konsepsi pendidikan yang menempatkaan manusia sebagai ahsanit taqwim, sebagaimana dipikirkan HOS Tjokroaminoto, Ki Hadjar Dewantara, dan Haji Agus Salim.

Harry dan saya sepaham tentang manifesto sistem pendidikan islam yang melandasi long life education. Saya banyak menyerap pemikiran konseptual dari Harry tentang manajemen bisnis, yang berpangkal pada kesadaran menegakkan prinsip-prinsip korporasi islami.

"Kau lebih paham bagaimana mendiseminasikan pemikiran semacam ini," katanya kala itu. Lantas hanyut pada nostalgia, ketika sebagai Ketua Umum PB HMI (hasil Kongres Medan), dia mesti sungguh membaca arus besar pusaran politik monoloyalitas, yang mengemuka lewat isu sentral 'satu asas' organisasi.

Saya mencermati dengan seksama bagaimana sikapnya dalam menyiapkan dan mesti menghadapi multi 'tekanan' di Kongres Padang (24-31 Maret 1986). Dalam sejumlah pertemuan, setiapkali mengingat rangkaian peristiwa pahit, mulai dari Maperca sampai mengakhiri kepemimpinannya di Kongres HMI Padang, Harry sering mengingatkan, bagaimana besarnya makna HMI dalam pembentukan pribadinya. Juga penguatan akses dirinya ke berbagai dimensi kehidupan, termasuk komitmennya menjadi dosen.

Suatu ketika, kami bertemu di kantor saya.  Harry cerita akan melanjutkan studinya di Oklahoma State University - Amerika Serikat. Kami bertukar pandangan dalam banyak hal, termasuk awal bergeraknya kapitalisme global yang diawali George Soros dengan pilantropi politik, menyusul robohnya Tembok Berlin. Suatu tanda besar meruyaknya kapitalisme, bahkan ke negara-negara Eropa Timur dengan segala fenomena yang terkait dengan perubahan besar politik dan ekonomi dunia, akibat gerakan reformasi perestroika Gorbachev, yang melantakkan Uni Soviet dan menimbulkan beragam persoalan di Balkan. Termasuk nasib umat islam kemudian. Harry ingin fokus pada beragam pemikiran filosofis tentang ekonomi berorientasi kesejahteraan umat.

Setelah melewati masa yang tak mudah, Harry menyelesaikan studinya dan pulang dengan menyandang kualifikasi sebagai Philosophy Doctor (Ph.D) dari Oklahoma State University.

Tahun 2000, kala sedang berlibur di Jakarta, kami bertemu dalam suatu momen yang tak terencanakan. Saya senang, ketika Harry cerita dia menjadi pensyarah di Universitas Tarumanegara, Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran, dan Universitas Indonesia.

Harry memberikan perhatian khas pada ekonomi akar rumput yang secara kuantitatif besar potensi dan besar masalah. Dia banyak berfikir keras tentang penguatan akses ekonomi umat lapisan terbesar dalam piramida kependudukan dan sosial.

Harry acap bicara tentang penguatan akses rakyat terhadap modal dan social security. Kami saling berkabar via email tentang proses perubahan sosial ekonomi di Malaysia, termasuk tentang Dasar Ekonomi Baru (DEB) Malaysia sebagai bentuk kebijakan politik negara penguatan pribumi (Melayu) untuk mencapai keseimbangan daya ekonomi antar kaum.

Lama kami berpisah. Harry memilih jalan politik sebagai jalur perjuangannya. Tercatat dia pernah menjadi salah seorang Tim Ahli Bidang Ekonomi PAH II BP MPR RI. Juga, anggota Komisi Konstitusi (MPR RI) dan anggota Badan Legislasi DPR RI. Di Partai Golkar, Harry Azhar dipercaya sebagai anggota Tim Ekonomi DPP Partai Golkar dan Wakil Ketua Balitbang DPP Golkar. Dia juga anggota bahkan kemudian Wakil Ketua Komisi Keuangan DPR RI.

Ketika saya kembali ke Jakarta dan menyiapkan materi insert program tentang Investasi di TVRI dan RCTI yang disiapkan oleh TriDi Communication yang bekerjasama dengan BKPM (Badan Koordinasi Penanaman Modal), saya rayu Harry menjadi narasumber dalam acara tersebut. Harry bersedia. Pandangan - pandangannya direspon positif banyak kalangan.

Sekali sekala kami ngopi sore, ketika itulah obrolan tentang keluarga mengemuka. Harry bercerita tentang isterinya, Amanah Abdul Kadir yang selain sebagai istri, juga sparring partner keilmuan dan dunia akademik. Dia juga bercerita tentang anak-anaknya, Mina Azhar, Hanifah Azhar, dan Ibrahim Azhar.

Di sela perbincangan kami berkelakar, termasuk bagaimana rikuhnya dia kala ingin menyatakan cinta kepada Amanah dalam penerbangan Ujung Pandang - Jakarta. Dia juga mengundang saya, ketika menghelat pernikahan puterinya.

Antara tahun 2007 - 2008 saya berbeda pandangan dengan Harry, yang dengan lantang mengeritik disertai intonansi marah kepada pemerintah. Saya terkejut, dan baru melihat kembali ekspresi kemarahannya, ketika dalam dengar pendapat, dia berseru, "Pemerintahan macam mana ini !" Harry menjelaskan, 'kemarahan' itu meledak, karena dalam benaknya terlintas index gini ratio yang memicu kesenjangan sedemikian lebar.

Dia berpandangan, perlu aksi governansi untuk mengatasi hal semacam itu. Tak cukup hanya dengan kebijakan KUR (kredit usaha rakyat) dan Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas). Perlu langkah lebih kongkret dalam kebijakan fiskal dan moneter, termasuk penguatan inklusi keuangan dan penajaman fungsi intermediasi bank.

Dalam suatu percakapan ngopi sore, dia berbisik, "Ingat kan? Dalam proses perjalanan karir kita, kita pernah mengalami kaderisasi, dan ketika itu kita makan nasi dan lauk pauk dari umat!"

Dalam pertemuan-pertemuan sporadis, Harry banyak mengemukakan berbagai pandangan dan gagasannya, terutama setelah dia menjadi anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).

Dia masyghul, ketika tak banyak petinggi yang memahami esensi tata kelola anggaran di kalangan pemerintah. Semua masih fokus dan bersukacita pada pencapaian kualifikasi audit BPK, WTP (Wajar Tanpa Pengecualian). Kualifikasi yang baru sampai trap pertama kemampuan administratif mengelola anggaran. "Anggaran belum berdampak kesejahteraan rakyat," cetusnya.

Suatu hari dia menelepon saya dan mengabarkan bukunya yang mengupas audit dengan kesejahteraan rakyat, baru saja terbit.

Ketika menjabat Ketua Badan Pemeriksa Keuangan, Harry membaca beberapa artikel saya tentang beragam siasat di balik angka-angka dalam tata kelola anggaran dan bisnis, baik di kementerian maupun BUMN. Khasnya dalam berbagai praktek penelitian, yang secara administrasi rapi, namun hanya menghasilkan penelitian lembaga pendidikan tinggi, yang tak terasakan manfaatnya secara langsung. Selain 'berubah judul, tanpa mengubah substansi,' juga tata kelolanya di lapangan.

Saya bertemu lagi dengan Harry di Kebun Raya Bogor, untuk pertama kali mengikuti jalan sehat alumni HMI. Harry dan saya didapuk bicara oleh Afni Achmad. Itu kali pertama Harry dan saya jalan sehat di Kebun Raya Bogor, kebetulan saya sedang pemulihan. Badan saya besar dan berat.

Farida Islahiati Sihite, alumni HMI-wati cabang Bandung mencatat, omongan Harry dan saya, "petama kalinya lagi saya mengunjungi Kebun Raya Bogor."

Kala itu Harry mengundang saya ke kantornya. Saya datang pada waktunya. Sambil makan siang dan kemudian ngopi kami diskusi banyak hal relasi audit dengan kesejahteraan rakyat, korelasi Good Governance, Good Corporate Governance, dengan God Governance (yang pernah dilansir Riawan Amins).

Saya bangga menyaksikan Harry mengembangkan pemikiran-pemikiran yang tersimpan sejak masa mahasiswa. Pemikiran tentang keseimbangan kinerja pemerintah dan BUMN dalam konteks pencapaian kesejahteraan rakyat. Perubahan konsep tata kelola institusi industri keuangan yang terkait dengan kehutanan, perkebunan, pertanian, pertambangan, kelautan, industri substitusi, industri olahan, logistik, transportasi, telekomunikasi, dan berbagai hal yang terkait lainnya, yang muaranya kepada pencapaian neraca keuangan negara yang paling sehat. Termasuk dalam melihat keseimbangan foreign direct investment, utang luar negeri, suku bunga, kebijakan fiskal dan moneter. Muaranya adalah politik ekonomi, pengelolaan sumberdaya alam berbasis konstitusi.

Sewaktu dia berulang tahun ke 60 dan menerbitkan biografinya, Amanah Sampai Akhir di sebuah kafé, di bekas Markas Angkatan Udara Pancoran, saya sengaja duduk di belakang. Ketika memberi selamat kepadanya, dia berbisik, "Tak semua hal ada di buku ini." Saya jawab dengan berbisik juga, "Tapi, buku ini menunjukkan salah satu indikator Insan Cita." Dia terbahak di antara teman dan sahabat lain seangkatan yang juga memperoleh buku itu.

Saat agak santai usai berdendang menikmati lagu Melayu, di Al Jazeera - resto di bekas gedung kantor saya, Harry mengundang saya ke kantornya. Begitu jumpa, dia bicara tentang dimensi audit lebih luas, termasuk audit lingkungan, yang dari situ kita bisa menilik lebih jauh bagaimana penguasaan sumberdaya alam yang tak terkontrol dan terkelola dengan baik, dapat menimbulkan persoalan lebih besar dan dahsyat. Tak hanya soal ketimpangan sosial dan kemiskinan persisten, tetapi jauh dari itu lagi: membuka konflik horisontal yang amat mengerikan, seperti digambarkan Jarde Diamond, yang melihat kerusakan ekologi dan ekosistem sebagai pemicu utama terjadinya failure state, negara gagal.

Kala itu, saya sempat bincangkan dengannya strategi diseminasi pemahaman antara tata kelola keuangan negara, sistem dan orientasi audit, dan aksi governansi yang tak hanya bersukacita pada pencapaian kualifikasi WTP. Harry merespon baik, saya dan beberapa teman, antara lain Sofhian Mile yang lama satu fraksi dengannya di DPR RI, sempat membincangkan secara teknis. Namun, tak pernah mewujud. Saya merasa berdosa (meski bukan sebagai penentu), karena pemikiran genial Harry tak mewujud, sampai dia wafat.

Pemikiran-pemikiran mendalam Harry, termasuk berbagai pemikiran yang berkembang dalam dialog-dialog kami, mengemuka dalam pidato pengukuhan guru besar dia, yang bertajuk, “Pemeriksaan Keuangan Negara: Upaya Mewujudkan Pengelolaan Keuangan Negara untuk Kesejahteraan Rakyat” yang saya terima kemudian.

Berbagai substansi pemikirannya mengemuka, khasnya terkait tiga prinsip dasar pengelolaan keuangan negara: transparansi, akuntabilitas, dan responsibilitas untuk mencapai sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat. Tak hanya dalam hal mazhab optimalisasi dalam pengelolaan uang negara.

Dalam pidatonya itu, Harry mempertemukan berbagai pemikiran sosio ekonomi dan ekonomi politik yang menarik, mempertemukan sosialisme berbasis investment (dalam makna luas dan berorientasi jangka panjang), kapitalisme sosialistik, dan sistem ekonomi islam (tak melulu dan melampaui batas pemahaman tentang ekonomi syariah). Berpulang pada paradigma pengenalan tentang rakyat yang mendorong kepatuhan, loyalitas, dan bermuara pada pertumbuhan ekonomi berdampak kesejahteraan berkelanjutan.

Ahad, 19 Desember 2021, saya berdo'a di depan jenazahnya. Saya tercenung, menyimak ucapan puterinya, Hanifah Azhar menjelang jenazah disalatkan di Masjid Baitul Hasib. Terutama tentang sikap istiqamah Allahyarham Harry Azhar Azis, memikirkan dan memperjuangkan kesejahteraan rakyat. Pun, akhlak yang terpeliharanya untuk hormat dan patuh kepada orang tua.

Beberapa saat sebelum itu, Amanah, istrinya ketika saya sambangi sempat berucap singkat, "Kami selalu ingat abang. Almarhum, sering membaca puisi abang, termasuk puisi pernikahan kami. Ma'afkan Almarhum ya bang.." Harry sungguh mengemban amanah sampai akhir hayatnya. Selamat jalan orang baik, pemimpin tangguh di masanya. |

 

Editor : Sem Haesy
 
Budaya
12 Jan 22, 08:56 WIB | Dilihat : 119
Cermin Adab di Jalan Tol
11 Jan 22, 09:20 WIB | Dilihat : 162
Pesona Masjid Rao Rao di Sungai Tarab Bungo Satangkai
17 Des 21, 07:31 WIB | Dilihat : 239
Membaca Zaman Edan dengan Isyarat Pantun Bogor
07 Okt 21, 09:26 WIB | Dilihat : 439
Cindai Kebangsaan yang Koyak dan Lusuh
Selanjutnya
Energi & Tambang
29 Mar 21, 20:15 WIB | Dilihat : 454
Pertamina Jamin Pasokan BBM Aman
28 Jan 20, 13:31 WIB | Dilihat : 1335
Komitmen Budaya pada Reklamasi Pertambangan
22 Okt 19, 12:46 WIB | Dilihat : 1542
Sinergi PHM dengan Elnusa Garap Jasa Cementing di Rawa
Selanjutnya