
Bang Sem
USIA manusia terbatas, dan kematian adalah pintu menuju keabadian. Cinta adalah hamparan jalan yang tertinggal dalam kenangan tak terlupakan.
Wafatnya Farid, bagi Farida sang istri, bukan hanya sekadar jalan menuju keabadian cinta. Melainkan jalan menuju gerbang makna kesetiaan cinta.
Meskipun selama masa pernikahannya, Farida lebih banyak menghabiskan waktu sebagai ibu rumah tangga, ketika menjanda selepas wafatnya sang suami, Farida menemukan tantangan besar untuk membuktikan betapa pentingnya kesetiaan. Baginya, Farid tak sekadar suami. Lelaki a yang dikenalnya saat bermukim di Old Jeddah, itu merupakan pecinta yang mencintainya amat tulus.
Mata Farida selalu berkaca-kaca, acap bercerita tentang Allahyarham Farid. “Ia adalah berkah Tuhan yang tak tergantikan oleh siapapun,” tuturnya suatu ketika.
Bagi Farida, Farid tak hanya meninggalkan seorang putera yang amat mencintainya sebagai ibu. Allahyarham Farid juga merupakan suluh yang terus memancarkan cahaya terang jalan hidupnya.
Itulah pengakuannya terdalam, setiap kali usai mendengar mempertanyakan kesetiaan cintanya yang teguh. Itu pula alasannya, mengapa Farida, hingga kini masih tetap menjanda. Meski para Sayyid, datang silih berganti hendak menyuntingnya sebagai isteri. Baik perjaka maupun duda.
Usaha para sayyid, itu agak sia-sia, memang. Farida bertahan dengan imajinasinya: “tak kan pernah ada lelaki lain yang mampu menggantikan posisi Farid.”
Meski hidupnya kini jauh lebih keras: bertarung dan berkompetisi memenangkan asa kehidupan, dengan berbagai ikhtiar halal.
Ya, sejak menjanda, Farida memang harus sering meninggalkan rumah, mengolah daya, mencari nafkah. Sesuatu yang tak terbayangkan sebelumnya.
Begitulah memang. Sejak menjadi ibu rumah tangga selama hampir dua dasawarsa, kini ia harus melangkah di tengah kompetisi hidup yang sedemikian ketat.
Dulu, ia memang piawai sebagai seorang marketer. Kini, ia mesti bersaing dengan para marketer muda. Persaingan yang sesungguhnya tak imbang. Apalagi, ketika usia Farida tak bisa lagi dibilang muda, meski kemolekan masih tampak pada sosoknya.
Adalah kesetiaan cinta pada Farid dan keyakinan diri untuk terus mengekspresikan cintanya kepada Faruq anaknya sematang wayang, yang mendorong rasa percaya diri dan tanggung jawab, menjadi energi baru bagi Farida.
Perempuan molek yang selalu tersipu acap disebut ‘nurunnisa’ oleh para pengagumnya, itu sampai pada keyakinan, “kedalaman cinta seorang perempuan adalah fondasi penting untuk terus berkarya.” Meskipun, keyakinan itu sesungguhnya, bisa berlaku untuk setiap lelaki.
Norma hidup yang mewujud dalam sikap dan laku Farida, yang berakhlak baik, menunjukkan, betapa bagi seorang perempuan, cinta adalah kekuatan ruhaniah bermakna dalam, dengan dimensi yang luas. Cinta tidak berhenti sebagai kegandrungan belaka.
Inilah yang kemudian menjadi tulada bagi anaknya. Farida tak sanggup menjaga perasaan, ketika buah cinta dari pernikahannya dengan Farid, berbisik: “Bunda, engkau adalah matahari cinta.., kesetiaan cintamu pada ayah, memanduku ke jalan pemahaman cinta”.
Nilai kesetiaan cinta Farida kepada Farid, selalu nampak di hadapan Faruq, setiap kali keduanya berziarah ke pusara Farid. Bulir-bulir air mata Farida selalu menetes, membasahi pipinya yang merona tersengat mentari.
Farida tak berusaha menghapus tetes air matanya itu. Baginya, itulah bulir-bulir kesetiaan yang tak pernah henti memberi makna atas cinta. |