Bantenois

Ajen Wewesen Ciri Pribadi Tangguh

| dilihat 166

Bang Sém

Berpijak pada kriteria tersebut, Banténois adalah seorang pemimpin yang selalu siap mengemban amanah secara bertanggungjawab, sebagai pemandu jalan menuju kebaikan dan perbaikan kondisi kehidupan masyarakat banyak.

Terutama kini, ketika manusia di dunia sedang menghadapi perubahan besar yang menyebabkan terjadi kegamangan, ketidakpastian, kompleksitas masalah dan kemenduaan (ambiguitas dan ambivalensia).

Suatu era yang memerlukan hadirnya manusia-manusia yang mampu memainkan peran dan fungsi sebagai pelopor dan bukan pengekor perubahan.

Pemimpin yang mempunyai kemauan dan kemampuan mewujudkan visi kolektif (termasuk mengatasi vision killer) masyarakatnya menjadi kenyataan, bukan sekadar rangkaian kata yang menjadi jebakan fantasi.

Artinya, Banténois bukanlah seseorang yang sibuk dengan mimpinya sendiri, kemudian membawa masyarakat atau kaumnya masuk ke dalam ilusi dan jebakan fantasi. Melainkan pemimpin mempunyai atensi besar melakukan perbaikan kehidupan yang lebih baik dari masa sebelumnya.

Dia berdiri tegak di atas realitas untuk memimpin dan melayani masyarakatnya dengan senantiasa menghidupkan simpati, empati, apresiasi, dan respek yang besar kepada masyarakat yang dipimpinnya.

Dengan kesadaran demikian, Banténois sebagai pemimpin sungguh mencintai rakyatnya, dan memiliki cara tepat membawa masyarakat yang dipimpinnya menuju ke tiga kondisi kehidupan:

Pertama, bahagia dan sejahtera di dunia, yang mewujud dalam wujud meningkatnya praktik keadilan, kualitas kesehatan, kualitas kecerdasan, kemampuan ekonomi masyarakatnya secara terukur;

Kedua, mampu menciptakan kondisi terbaik bagi seluruh masyarakat yang dipimpinnya untuk hidup dalam kemerdekaan sejati, bermartabat sebagai insan, yang memungkinkan tercapainya kebahagiaan dan kesejahteraan di akhirat;

Ketiga, mampu menciptakan kondisi yang menjauhkan masyarakat yang dipimpinnya dari bencana, baik malapetaka, terutama malapetaka sosial yang merampas nilai-nilai keinsanan.

Banténois sebagai pemimpin di masa kini dan di masa depan merupakan insan yang  bertanggungjawab, tidak berhenti hanya pada upayanya menggerakkan kesadaran kolektif dalam mencapai masyarakat adil makmur, melainkan juga masyarakat yang diridhai Allah Subhanahu wa Ta’ala. Terkait dengan kepemimpinan sosial politik, seorang Banténois beranggungjawab atas terwujudnya negeri yang baik – sejahtera dalam ampunan Ilahi.

Beranjak dari pandangan ini, Banténois tidak disibukkan oleh senioritas atau posisi struktural, karwena memahami dengan sesungguhnya, bahwa fungsi kepemimpinan jauh lebih utama. Sesuai dengan prinsip nista, madya, utama.

Adil dan Bijaksana

Banténois, dengan sendirinya merupakan elite yang sesungguhnya (bukan petinggi), yaitu manusia khashshash, yang bertanggungjawab mengamalkan seluruh pengetahuan, keilmuan, dan pengalamannya sebagai enlighter (pencerah) bagi masyarakat yang dipimpinnya atau seorang yang pantas menyandang kedudukan hakiki sebagai nuruddin, cahaya (teladan) dalam mengelola cara berkehidupan.

Kualifikasi demikian menjadi ciri bagi Banténois, karena masyarakat, negara dan bangsa senantiasa berhadapan dengan arus besar perubahan nilai akan selalu terus terjadi, karena setiap era menawarkan metode dan cara yang berbeda sesuai dengan tantangannya.”

Selaras dengan itulah, Banténois mesti memenuhi sejumlah syarat dan prasyarat berbasis ideologi dan nilai dasar budaya yang sesungguhnya, karena pribadinya berakhlak mulia (Ajen wewesen); Jujur sejujur-jujurnya (montong teuing ka nu sejen, ka dirina inyana sorangan oge tara bohong); Fair – adil, jauh dari sikap iri dengki dan jahat, serta mampu melihat masalah dari sisi positif dan proporsional (tara sirik, tara jail, tara hasud, najan ka na musuh); Efektif dan efisien (Pageuh keupeul lega awur); Disiplin, mampu menegakkan punishment dan reward secara tegas dan bijaksana (Teuas peureup lemes usap); Berbudi luhur dengan kemampuan akal budi yang memungkinkannya menempatkan pelayanan sebagai kemuliaan (Hade lampah, hade peta, hade ucap, hade budi); Mampu menghadirkan demokrasi sebagai cara mewujudkan harmoni dan tata kelola organisasi (pemerintahan, politik, sosial, ekonomi) yang mampu memberdayakan rakyat (Silih Asih, Silih Asah, Silih Asuh);  Adil bijaksana dalam memimpin (adil paramaarta); serta Mampu memahami realitas persoalan dan memberikan solusi terbaik bagi kemajuan rakyatnya setarikan nafas  (Pangaweruh jeung pangartina mudu mapadanan).

Beranjak dari nilai-nilai budaya demikian, dengan  cara pandang kekinian, sosok Banténois dapat dipahami sebagai insan cendekia yang berani menghadapi dan menyelesaikan masalah, mau dan mampu memuliakan rakyatnya sesuai prinsip kemerdekaan sejati, berbasis ajaran agama dan tradisi. Secara metaforis, dapat dideskripsikan, penerus perjuangan dari para peletak dasar kemuliaan Banten di masa lalu.

Banténois memimpin dengan tanggungjawab, laiknya seorang ibu dan bapak. Memberi arah dan ber­tanggung jawab sebagaimana bapak, dengan keandalan tata kelola organisasi sebagaimana tata kelola ibu (mudu ngaraksa sakumaha bapak, bari ngaraksa sakumaha emak).

Mengurus rakyatnya sebagaimana ibu mengurus rumah tangga (Mu­du ngurus kumaha indung), selalu mampu menciptakan kondisi yang kondusif dan favourable, tidak men­ciptakan kondisi peoples dis­satisfaction (Mudu mi­nangka kawah kanyaah, ulah minangka kawah kaca’ah, anu bedah di saban marah).  

Dengan sikap demikian, bergerak melanjutkan misi kepemimpinan para leluhur: menyejahterakan rakyat setara dengan rakyat yang maju di belahan dunia lain. Mau dan mampu mengelola keunggulan kompetitif dan komparatif yang dimilikinya. Mau dan mampu menyerap aspirasi rakyat dan mengelolanya sebagai inspirasi kolektif bagi seluruh rakyat untuk maju.

Banténois tawaddu’ dalam menjalankan nilai-nilai agama dan ideologi kebangsaan, cendekia dan visioner dalam menyikapi fenomena dan paradigma mutakhir dunia, kawasan, nasional, dan lokal. Mempunyai jati diri dan rasa percaya diri yang kuat karena kompetensinya (Aing salakina, pamajikan aing bikangna). Tidak semena-mena dengan kekuasaan (boga lengen teu sacabak-cabakna), mampu melihat realitas dengan jernih dan teliti (boga panon teu satempo-tempona), mampu memilih dan memilah informasi, sekaligus mampu melakukan verifikasi dan konfirmasi (boga ceuli teu sadenge-dengena). |

Editor : eCatri
 
Humaniora
04 Nov 21, 07:24 WIB | Dilihat : 336
Tolak Toleransi Zina di Kampus
13 Okt 21, 09:25 WIB | Dilihat : 624
Pendekar Mabuk di Tengah Coronastrope
05 Okt 21, 16:00 WIB | Dilihat : 412
Penista Nabi Muhammad Mati Dilahap Truk
03 Sep 21, 12:31 WIB | Dilihat : 259
Membaca Tantangan Abad 21 dan Hegemoni Pendidikan Global
Selanjutnya
Ekonomi & Bisnis
31 Agt 21, 19:09 WIB | Dilihat : 388
Pandemi dan Pemulihan Ekonomi Lokal
14 Mar 21, 23:46 WIB | Dilihat : 454
Sindroma Ambivalensia
16 Des 20, 07:56 WIB | Dilihat : 626
Peta Bank Syariah di Indonesia Berubah
Selanjutnya