Menduniakan Kopi Indonesia

| dilihat 2903

AKARPADINEWS.COM | BARU tahun ini, organisasi kopi internasional (international coffee organization) menetapkan 1 Oktober sebagai Hari Kopi Sedunia. Sebanyak 75 negara, termasuk Indonesia, yang menjadi anggota organisasi kopi internasional itu, memperingatinya dalam acara World Expo Milano 2015, di Milan, Italia.

Para pecinta kopi tidak hanya memperingati hari kopi sedunia untuk kali pertama ini tak sekadar menikmati potongan harga di beberapa coffee shop spesial dan menikmati cita rasa kopi lokal dan luar negeri. Namun, khususnya untuk masyarakat menengah di Indonesia, menjadikan momen tersebut sebagai bagian dari gaya hidup. Nongkrong sembari ngopi. Menyerumput kopi dapat membuat tubuh berenergi, menambah semangat kerja otak, dan manfaat lainnya.

Peringatan hari kopi sedunia tidak hanya dimaknai sebagai ruang pertemuan antarpecinta kopi. Namun, menjadi momen menyikapi masalah yang dihadapi dalam proses produksi kopi, khususnya dari Indonesia. Beberapa masalah itu itu mulai dari kualitas bahan baku, kesejahteraan petani kopi, hingga mendongkrak pasar kopi Indonesia untuk menjadi kopi terbaik di pasar dunia. Indonesia merupakan salah satu negara penghasil biji kopi dengan kualitas terbaik, dengan menepati urutan ketiga yang memproduksi kopi terbesar dan terbaik di dunia.

Di Indonesia, beberapa daerah penghasil kopi terbaik antara lain: Gayo (Aceh), Sidilakang (Sumatera Utara), Toraja (Sulawesi Selatan), Flores (Nusa Tenggara Timur), Jawa, Liwa (Lampung), Wamena (Papua), dan Kopi Kintamani (Bali). Setiap jenis kopi memiliki karakter yang berbeda-beda, baik aromanya maupun rasanya. Semakin tinggi kualitas biji kopi dan benar cara mengolahnya, maka akan makin tinggi pula cita rasa kopi tersebut.

Beberapa jenis kopi di Indonesia yang dikenal pencinta kopi antara lain Arabica, Robusta, Liberika, dan Exelsa. Tanaman kopi pertama kali ditanam oleh masyarakat Ethiopia pada abad ke-9. Ekspansi perdagangan yang dilakukan oleh bangsa Arab, turut memperluas sebaran komoditas ini hingga ke Afrika Utara, Eropa dan beberapa negara lainnya, termasuk Indonesia. Arabika adalah varian kopi yang pertama kali masuk ke Indonesia pada tahun 1696, yang diperkenalkan oleh Komandan Pasukan Belanda, Adrian Van Ommen.

Menurut Joko Soemarno, Konsultan Pusat Penelitan Kopi dan Kakao (Puslitkoka) Indonesia, kopi terbaik tumbuh di lereng gunung. Biasanya, terdapat hamparan hutan perkebunan kopi Arabika yang subur di ketinggian 1000 mdpl. "Daerah yang berhawa dingin ini unggul menghasilkan kopi jenis spesial.” tuturnya saat diwawancarai.

Kopi itu tumbuh, kata dia, awal kalinya tatkala petani mengambil biji kopi yang jatuh hingga tumbuh jadi bibit. "Karena lahan yang subur, jatuhnya buah kopi, bisa tumbuh.” ujar Joko. Dalam perjalanannya, kopi pun kemudian diproduksi petani, hingga menjadi minuman yang bernilai ekonomis.

Sayang, di balik lahan yang subur, tidak sebanding dengan nasib petani kopi. Jika di era kolonialisme Belanda, petani dirugikan oleh sistem tanam paksa, maka saat ini, nasibnya tak berubah lantaran ulah tengkulak dengan sistem ijon.

Petani dihadapi kesulitan untuk menjual kopi ke pasaran guna mendapatkan untuk lumayan. Mereka pun terpaksa menjual kopi ke tengkulak sehingga tidak memberikan keuntungan yang diharapkan. Dengan sistem ijon, tengkulak memberikan iming-iming peminjaman uang 3-4 bulan sebelum panen. Tengkulak hanya mementingkan margin keuntungan dan membeli kopi dengan standar mutu yang rendah. Buah kopi yang berwana hijau, jelek, kecil, belum kering, tidak menjadi masalah untuk tengkulak, asal ada selisih harga dengan petani. 

Dari kajian Puslitloka, ditemukan jika menemukan masalah itu lantaran minimnya pengetahuan dan kesejahteraan petani sehingga turut menyebabkan rendahnya produktivitas kopi di Indonesia. Keuntungan yang kurang sesuai harapan, menjadi penyebab petani tidak begitu produktif memproduksi kopi.

Produksi kopi di Indonesia masih rendah yakni rata-rata 760 kilogram per hektar, kalah dibandingkan Brazil yang tingkat produktifitas mencapai 6-7 ton per hektar dan Vietnam yang berkisar 3-4 ton per hektar. Rendahnya produksi tersebut juga disebabkan minimnya pengetahuan petani. Tanaman kopi kurang mendapatkan perawatan.

Petani jarang melakukan pemangkasan, sementara pohon kopi yang bagus adalah kopi yang pendek dan tingginya tidak melebih tinggi manusia. Puslitloka lalu membuat program pelatihan pemangkasan, pemberian pupuk, dan meminimalisir hama. Berbeda dengan tanaman padi, kopi tidak baik jika tumbuh tanpa tanaman penaung.  Produksi kopi juga harus didukung pengolahan yang baik karena dapat mempengarui citarasanya.

Sedangkan untuk masalah tengkulak, solusi yang terbaik adalah membangun kemitraan dengan eskportir. “Karena rutenya panjang, kita langsung memotong langsung ke ujungnya, minimal dari sisi harganya dan ada nilai tambahnya ke petani” ucap Joko. 

Dia juga menyatakan, jika kopi dikelola dengan baik, maka dapat meningkatkan ekonomi daerah dan negara, termasuk untuk mensejahterakan petani kopi. Kopi Indonesia diekspor ke lebih 80 negara. Beberap negara yang menjadi pasar kopi Indonesia antara lain Jerman, Amerika Serikat, Jepang, Belgia, Italia, Inggris, Afrika, Timur Tengah dan negara-negara ASEAN seperti Philipina, Malaysia, dan Singapura.

Sayang, di Indonesia, hanya tiga daerah penghasil yang sudah mempunyai sertifikasi di antaranya Gayo, Kintamani, dan Bajawa (NTT). Bila seluruh stakeholder saling bekerjasama untuk meningkatkan kuantitas produksi dan kualitas cita rasa, bukan tidak mungkin, kopi Indonesia menjadi kopi terbaik di dunia, mengalahkan Brazil.

Ratu Selvi Agnesia 

Editor : M. Yamin Panca Setia
 
Ekonomi & Bisnis
08 Agt 26, 19:08 WIB | Dilihat : 341
Bukan Karena Wangsit
28 Jul 26, 00:07 WIB | Dilihat : 632
Destry Pjs Gubernur BI
22 Jul 26, 23:27 WIB | Dilihat : 672
AirBorneo Kebanggaan Rakyat Negeri Sarawak
Selanjutnya
Lingkungan
05 Sep 26, 11:26 WIB | Dilihat : 380
Hutan Kalimantan Membara Jerebu Kepung Sarawak
24 Agt 26, 19:51 WIB | Dilihat : 400
Angin Selatan Hantar Jerebu ke Serawak dan Brunei
19 Jun 26, 11:49 WIB | Dilihat : 691
Penang
07 Jun 26, 12:42 WIB | Dilihat : 779
Jakarta Baur Budaya
Selanjutnya