Sosok

Karen Melangkah ke Panggung Dunia

| dilihat 4632

N. Syamsuddin Ch. Haesy

GALAILA Karen, begitu orang tua memberinya nama ketika lahir pada hari Minggu,19 Oktober 1958 di Bandung. Puteri pasangan Dr. Sumiyatno dengan R. Asiah. Ayahnya, Presiden Direktur di Biofarma, perusahaan produsen vaksin Indonesia yang ternama hingga kini, dan utusan pertama Indonesia di organisasi kesehatan dunia, World Health Organization – Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB).

Perempuan tomboi yang sejak belia senang naik sepeda motor -- meski belum punya SIM -- ini melanjutkan studi di jurusan Teknik Fisika – Institut Teknologi Bandung (ITB) dan lulus pada 1983. Di SMA Negeri 3 Bandung, Karen dijuluki “Ratu Bangor Toloheor.”  Ia pernah memboyong teman-temannya sekelas, menyantap pempek di Jalan Setiabudi, pada jam sekolah.

Pasalnya? Ia tak suka, guru kimianya diganti dengan guru baru. Akibatnya, sekolah memanggil ayahnya, padahal sang ayah sedang bertugas di Austria. Ia disuruh minta maaf. Bila tidak, dia terancam tak bisa mengikuti ujian akhir SMA. Karena ulahnya itu, ia dimarahi ibunya, R. Asiah Hamimzar.

Gadis tomboy ini mulanya hendak menjadi arsitek. Tapi, ayahnya menghendaki dia menjadi dokter, sedangkan kakaknya (Lily Dahlia) menganjurkan dia mengambil studi bidang energi.  Karen mengikuti kemauan ayahnya, masuklah dia ke Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran, Bandung. Hmmh…, karena tak kuat melihat darah dan tak suka menghafal rumus, ia keluar. Lalu masuk jurusan Teknik Fisika ITB.

Sang ayah tak keberatan. “Kamu lahir telanjang, keluar dari rumah ini juga telanjang, kecuali dengan ijazah yang kamu bawa,” pesan ayahnya kepada Karen.

Di ITB ini juga dia bertemu jodoh, Herman Agustiawan dan beroleh amanah, tiga orang anak.

Setelah lulus dari ITB, Karen berkiprah di Mobil Oil Indonesia hingga 1996, saat perusahaan itu diakuisisi Exxon Mobil. Di Mobil Oil Indonesia, Karen menapaki karir, mulai dari menjadi analis dan programmer dalam pemetaan sistem eksplorasi, sampai menjadi seismic processor dan seismic interpreter untuk beberapa proyek mancanegara di markas Mobil Oil, Dallas – Amerika Serikat.

Karirnya terus berkembang. Karen menjadi product manager G&G and data management applications di CGG Petrosystems Indonesia, 1998.  Lantas, menjadi spesialis pengembangan pasar dan integrated information management (IIM) di landmark Concurent Solusi Indonesia. Di perusahaan ini juga dia menjadi manajer pengembangan bisnis untuk beberapa klien, seperti ExxonMobil, Pertamina, BP Migas, dan Ditjen Migas Departemen ESDM, 2000. Kehebatannya membawa Karen menjadi commercial manager for consulting and project management (2002-2006) pada perusahaan konsultan Migas Halliburton Indonesia.

Lepas dari itu, dia dipercaya sebagai Direktur Hulu PT PERTAMINA (PERSERO), 2008 –2009. Sejak 5 Februari 2009, dia menjabat Direktur Utama Pertamina (Persero) sampai mengumumkan mundur hari ini.

Selama menjabat Dirut Pertamina, melalui program kemitraan dan bina lingkungan, dia memusatkan perhatian pada pendidikan anak-anak. Tak jarang, Karen terlihat mengekspresikan diri sebagai sesosok ibu sekaligus pendidik. Ia memang terpikat dengan dunia pendidikan dan mengajar. Itulah sebabnya dia mendirikan Pertamina Corporate University. Sekaligus mengirim para manajer dan direksi Pertamina ke Harvard University.

Karen terinspirasi oleh film favoritnya, To Sir with Love yang berkisah tentang seorang guru (diperankan Sidney Poitier) mendidik anak-anak bangor toloheor di Bronx – New York. Itulah sebabnya, dia senang ketika diminta memberi kuliah umum di Universitas Indonesia, Universitas Gajah Mada, Universitas Diponegoro, bahkan anak-anak SMA.

Suatu ketika, saya bertanya pada Karen, “Kapan punya waktu mengurus suami dan anak-anak?” Karen terdiam, kemudian dia menengok suami dan tiga anaknya.

“Bang Sem tanya sendiri deh sama mereka..,” ulasnya sambil senyum.

Bagi saya, karen adalah perempuan hebat di BUMN. Tak hanya sekadar hebat dalam memimpin. Tapi dalam mengembangkan potensi manajer dan staf. Keberaniannya mewujudkan visi Pertamina sebagai korporasi energi terdepan berkelas dunia, patut dipujikan.

Aksi korporasinya membeli ladang minyak di Irak dan beberapa belahan dunia lainnya, luar biasa, ketika Indonesia terancam deposit minyak bumi berbasis fosil. Lalu menentukan arah, gas sebagai masa depan. Konsisten pada visi, Karen konsisten menegakkan good corporate governance, termasuk pakta integritas yang ketat. Tapi, para pemilik kuasa politik, sering senang memaksanya.

Sayang, dia harus menghadapi mitra kerja yang tak berwawasan luas seperti dia. Akibatnya, dalam dengar pendapat dengan DPR, ia sempat di-bully anggota parlemen yang berwawasan cekak.

Ketika menjadi juri untuk memilih CEO terbaik BUMN, bersama Tanri Abeng, Said Didu, hermawan Kertajaya, Robby Johan, Ilham Habibie, dan lainnya, saya sering mengulik Karen tentang komitmennya pada pengembangan potensi sumberdaya manusia sebagai energi yang terus terbarukan bagi bangsa.

Karen, perempuan luar biasa yang diakui dunia internasional. Kini, dia pergi meninggalkan Pertamina, untuk fokus mengurus keluarga (suami dan anak-anaknya) dan menyumbangkan ilmu dan pengalamannya di Harvard University. Kita (mustinya) kehilangan dia. Kehilangan orang hebat, hanya karena tak pandai mengenali kehebatannya..

Dan Karen, meninggalkan pertanyaan, seperti yang dia tanyakan kepada siswa SMA Negeri Cikampek tahun lalu : ”Siapa yang mau jadi Direktur Utama Pertamina?”

Karen, teruslah melangkah, teruslah berprestasi, di panggung dunia. | bang sem

 

Editor : Web Administrator | Sumber : Catatan Pribadi dan berbagai sumber