Menabung Empati di Sinabung

| dilihat 2486

SELEPAS subuh tadi, seorang famili di Brastagi menelepon ke rumah (maklum sudah beberapa hari ini, selular saya terendam air, saat mengatasi genangan air di halaman rumah).  Ia mengabarkan, beberapa famili yang tinggal di Kabupaten Karo terkena musibah letupan Gunung Sinabung.

Saya lega, kebiasaan masyarakat Karo yang senang ‘ngumpul’ dan ‘berbagi cerita’ mempermudah aksi untuk menggerakkan pengungsi menuju ke jambur-jambur untuk diselamatkan. Saya juga lega, karena koordinasi antara Pemerintah Provinsi, TNI, Polri, dan para aktivis LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) begitu sigap berkontribusi menyelamatkan masyarakat.

Mereka tak peduli dengan aksi ‘politisasi’ yang juga merebak di sana. Termasuk yang ‘kepingin’ dikunjungi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dengan aksi yang sesuai dengan selera jaman kini: protes.

Sudah ribuan pengungsi diselamatkan di berbagai jambur. Gubernur – Wakil Gubernur Sumatera Utara dan Bupati Karo, juga sudah sangat intensif bekerja. Tentu, bantuan masih sangat diperlukan. Apalagi, erupsi Gunung Sinabung kian menunjukkan tanda-tanda yang membahayakan bagi penduduk. Upaya untuk memotivasi pengungsi agar tak buru-buru kembali ke desa menyelamatkan ternak dan sayuran, juga sudah dilakukan.

Menurut cerita famili saya, erupsi Gunung Sinabung memang memerlukan aksi serempak seluruh warga bangsa ini untuk segera berkontribusi mengirim bantuan. Berbagai lembaga yang biasa menghimpun dana untuk membantu pengungsi sudah pula membuka berbagai akun sosial di berbagai bank. Prioritasnya memang pada tahap penyelamatan.

Meski demikian, tak ada salahnya, sebagian kita yang lain, perlu memikirkan bagaimana menabung program untuk tahap berikutnya: recovery. Saya pandang ini penting, agar ada kalangan yang memilih peran kontribusi pada fase berikut. Terutama BUMN (Badan Usaha Milik Negara). Aksi ini saya sebut ‘menabung empati.’ Jangan kuatir dengan pertanyaan dan wacana yang tak perlu.

Sejumlah BUMN khasnya yang bergerak di sektor logistik, perlu bergerak sekarang untuk membantu penyelamatan korban, demikian juga BUMN yang bergerak di sektor farmasi dan energi. BUMN yang bergerak di sektor perbankan, perlu menabung empati, sehingga program kemitraan dan bina lingkungan (PKBL) mereka bisa disiapkan untuk membuka akses masyarakat korban terhadap modal dan pasar. Hal ini penting, agar proses recovery, bisa berlangsung lebih cepat.

Demikian pula halnya dengan BUMN berbasis agroindustri dan agrobisnis, perlu menabung empati dengan menyiapkan program pasca penyelamatan. Tujuannya: mempercepat recovery kelak.

Bila para calon anggota legislatif (caleg) atau bakal calon presiden (CAPRES) mau menebar pesona dengan aksi simpati dan empati, silakan pada tahap ini. Tidak sekadar membagi-bagikan makanan instan, serta kaos dan selimut bertanda-gambar, melainkan membangun sarana-sarana khas di sekitar jambur. Umpamanya jamban, serta beragam aksi yang akan melekat abadi di dalam hati. Mau mengibarkan bendera dan spanduk, juga boleh, meski yang utama adalah menanam cinta di hati ladang sukma para korban.

Menabung empati di Sinabung memang harus direncanakan pada beberapa fase peran. Terutama karena para korban tak cukup hanya diselamatkan kini, ketika erupsi sedang berlangsung. Melainkan kelak ketika erupsi itu berlalu. Kehidupan ribuan korban yang kini mengungsi tak akan berhenti bersamaan dengan berhentinya erupsi.

Mereka harus hidup terus, bangkit dari situasi yang tak diharapkan. Termasuk membangkitkan kembali spirit hidup untuk kembali bekerja dan berkarya memenuhi hajat hidup. Terutama anak-anak mereka yang begitu erupsi selesai, harus kembali masuk ke sekolah. Terutama yang berusia belia, karena akan segera masuk masa ujian akhir.. |

Editor : Web Administrator