
AKARPADINEWS.COM | PERISTIWA tahun 1965 menjadi catatan kelam sejarah perjalanan bangsa ini. Tak sedikit korban tak berdosa kehilangan nyawa. Masih banyak fragmen-fragmen sejarah yang masih perlu ditelusuri agar peristiwa ini tak lagi danggap hanya sebagai propaganda yang dilakukan pemerintah di era Orde Baru.
Sebagai sebuah peristiwa sejarah, boleh jadi peristiwa 1965 yang dipicu Gerakan 30 September yang dimotori Partai Komunis Indonesia, menarik perhatian yang turut menginspirasi berbagai macam karya, baik dalam bentuk penulisan akademik hingga karya seni.
Salah satunya tampak dari ketertarikan Dewa Ngakan Made Ardhana. Dia tertarik memaknai peristiwa 1965 lewat karya-karyanya. Dalam pameran tunggalnya bertajuk Hana Tan Hana: Death and life of the Unknown, seniman kelahiran 4 Maret 1980 itu mencoba mengangkat isu dari suara-suara korban-korban peristiwa 1965.
Untuk menghadirkan situasi batin korban-korban itu, Ardhana memilih tema Hana Tan Hana. Tema itu berasal dari akar budaya Ardhana, yakni budaya Bali. Hana Tan Hana memiliki makna sesuatu yang ada, sekaligus tidak ada. Dengan bingkai konsep itu, Ardhana mencoba menghadirkan suara-suara korban peristiwa 65 yang ada di Bali.
Bagi Ardhana, keberadaan korban itu nyata adanya, namun keberadaannya seakan ditiadakan. Oleh sebab itu, pada pamerannya ini, seniman lulusan Institut Seni Indonesia (ISI) Bali tersebut mencoba menarasikan penafsirannya agar dapat dimaknai oleh pecinta seni yang memandang karyanya.
Secara keseluruhan, pagelaran Hana Tan Hana: Death and life of the Unknown dikonsepkan agar dapat memperlihatkan tiga tingkat interpretasi. Tiga tingkatan itu disajikan melalui kronologis peristiwa, bahasa metaforis dan simbolis serta menuju tingkatan refleksi dan realitas atas peristiwa 1965. Dengan tiga tingkatan itu, dalam memaknai karya-karya Ardhana, harus melihatnya sebagai kesatuan wacana.
Tiga tingkatan itu diaplikasikan dalam runtut karya Ardhana di pameran yang diselenggarakan REDBASE Foundation Bantul, Yogyakarta. Mulai dari serangkaian karya patung yang merupakan sebuah abstraksi peristiwa. Lalu, ke serangkaian karya lainnya yang menjadi gambaran interpretasi sejarah Ardhana akan peristiwa 1965 dan kumpulan lukisan yang mencoba menggambarkan dimensi nyata dari cerita yang tertanam tanpa pernah diungkap.
Dalam menyajikan karyanya, Ardhana mencoba untuk memberikan kebebasan kepada penikmat seni menafsirkan karyanya. Apa yang disajikannya dalam pameran yang berlangsung dari tanggal 28 Mei hingga 28 Juni 2016 itu merupakan interpretasinya yang dapat memberikan pemahaman-pemahaman kritis akan peristiwa sejarah seperti peristiwa 1965.
Apa yang dilakukan oleh Ardhana adalah sebuah bentuk alih wahana dari wacana sejarah. Peristiwa 1965 itu direkam dalam benak imajinya, kemudian diinterpretasikan ulang dalam karya-karyanya. Kiranya, Ardhana dalam pameran ini tidak serta merta menjustifikasi bahwasanya interpretasinya adalah kebenaran.
Hanya saja, Ardhana mencoba memberikan pandangan humanis bahwa korban-korban tak bersuara atas peristiwa 65 itu nyata dan perlu didengar agar dapat melengkapi fragmen-fragmen sejarah yang masih tercecer. Suara-suara korban itu kiranya dapat direnungi dalam tiap kumpulan karyanya sehingga dapat mengajak pengunjung dan penikmat seni menoleh dan merenungi kembali peristiwa 65.
Sebagai bentuk alih wahana sejarah, karya-karya Ardhana memerlukan pemaknaan mendalam. Tanpa itu, apa yang disampaikan Ardhana dalam karyanya tidak akan tersampai dengan baik. Dan, Ardhana memberikan kebebasan kepada penikmat seninya dalam menafsirkan dan menginterpretasikan karyanya.
Muhammad Khairil