Oase Musik Melayu di Tengah Ibukota Jakarta

| dilihat 922

SELASA malam adalah “malam Melayu” di Al Jazeera Signature, Jalan Johar No. 8 – Menteng – Jakarta Pusat. Di resto yang berada dalam kendali pengusaha Saleh Elwayni, itu nafas Melayu di ibukota negara terus berembus.

Di lantai empat resto dengan menu khas masakan arabia, ini tersedia leve3l untuk live music. Di situlah, Seroja Band (Butong, Tom Salmin, Darmansyah, dan kawan-kawan) unjuk kebolehan. Sekali sekala, tampil bintang tamu, Rani Dahlan dan Maxi.

“Kami menyajikan Melayu yang mampu berinteraksi dengan genre musik apa saja, khasnya musik Latin,” ungkap Tom Salmin, gitaris yang sekaligus vocalis bersuara khas.

Tom Salmin benar. Sejumlah pengunjung yang ambil bagian menyumbangkan suaranya, bebas menyanyikan lagu dari daerah rumpun Melayu mana saja. Beberapa kali, lagu Melayu Deli, seperti Mak Inang, Tanjung Katung, Rentak 106 memancing pengunjung untuk mengekspresikan kerinduan pada kampung halaman sambil bergembira. Terdengar juga lagu Lancang Kuning, Seroja, Bunga Melur, Patah Hati, Gurindam Jiwa, dan lain-lain.

Pun begitu ketika mereka mendendangkan lagu Paris Barantai dan Ampar-ampar Pisang khas Banjar. Atau ketika mendendangkan lagu Minang, seperti Ayam Den Lapeh, Ubek kan Denai, dan sejenisnya. Lagu Rasa Sayang Sayange, juga terdengar dan berinteraksi dengan pengunjung.

Untuk mereka yang hendak menyegarkan batin dan kesadaran insaniah mereka, sejumlah lagu yang relevan dengan itu, seperti Budi, Selasih, dan berbagai lagu karya Mashabi, Husein Bawafie, Kasma Bouti, Said Effendi, P. Ramlee, SM Salim, Ahmad Jaiz, Sam Saimun, Los Marenos, dan lainnya, juga bisa menikmati.

Ada resonansi baik, antara pengunjung dengan musisi untuk terus menghidupkan musik Melayu di tengah dinamika kehidupan ibukota yang kian metropolis.

“Sebisa-bisa dan dengan optimistis, kita hidupkan teruslah musik Melayu, Bang,” ungkap Darmansyah, vocalis bersuara merdu.

Ke tempat inilah para peminat dan perindu musik Melayu di Jakarta berkunjung Selasa malam, selepas bersibuk diri bekerja di berbagai bidang profesi.

Bagi Butong, tempat ini, merupakan tempat untuk menguatkan silaturahmi dan pelepas rindu pada pecinta musik Melayu dari berbagai generasi. Mulai dari kalangan belia, sampai yang sudah berusia di atas 80-an tahun.

Sejumlah tokoh ternama, baik kalangan politisi, cendekiawan, mantan aktivis mahasiswa, pergerakan kaum Melayu dan Melayu Betawi sering tampak di sini. Selain berjoget memadukan olah rasa dan olah raga. Juga mengharmonikan pikiran dan jiwa dalam sajian musik yang khas. Kadang ritmik, kadang melodius.

Geisz Chalifah salah satu promotor musik melayu dan produser Jakarta Melayu Festival, sering tampak di sini. Sekali sekala, tampak juga tokoh pecinta musik melayu, Ferry Mursidan Baldan dan Irgan Chairul Mahfidz.  Tampak juga wartawan senior Kamil Shahab yang masih lincah joget Melayu, pun demikian juga dengan mantan penyiar TVRI era 60-70an, Rusdi Saleh. Pernah tampak juga tokoh pencak silat H. Eddy Nalapraya, yang meski sudah berusaha di atas 80 tahunan, menikmati dendang Melayu yang syairnya begitu dalam.

Dari kalangan muda, nampak sejumlah profesional dan pengusaha yang menikmati musik Melayu sambil berbincang bisnis. Tentu sambil menikmati sajian sejumlah pengunjung menghadirkan kembali Ronggeng Melayu, Serampang 12, dan sejenisnya.

Sajian musik Melayu secara reguler, setiap Selasa malam, itu boleh jadi selaras dengan semangat Gubernur Anies Baswedan dan Wakil Gubernur Sandiaga S. Uno, untuk menghidupkan soliditas dan solidaritas sosial untuk mewujudkan motto: Maju Kotanya, Bahagia Warganya.. | Gus Saleh

Editor : sem haesy
 
Energi & Tambang
05 Des 17, 20:09 WIB | Dilihat : 576
Kelola Sumberdaya Alam secara Efisien
19 Des 16, 10:43 WIB | Dilihat : 995
Perlu Kesadaran Kolektif untuk Efisiensi Energi
15 Des 16, 21:23 WIB | Dilihat : 1254
Pertamina Serius Investasi di Hulu
Selanjutnya
Seni & Hiburan
10 Jul 18, 10:28 WIB | Dilihat : 415
Anggi.. Lepaskan
09 Jul 18, 16:34 WIB | Dilihat : 469
Ketika Polisi Berpuisi di Watulumbung
26 Jun 18, 11:26 WIB | Dilihat : 1157
Percakapan di Lereng Bukit
19 Jun 18, 15:10 WIB | Dilihat : 627
Gegauan Sate Buntel
Selanjutnya