Benar Kata Ibu

| dilihat 838

Cerpen Agustian

Aku yang pernah tinggal di alam rahim ibu, hidup berkecukupan tanpa kekurangan nutrisi dan kaya protein. Aku adalah pemenang dari ratusan juta sel sperma yang terus melesat pada dinding ovum.

Aku di sana berkat ayah yang berhasil melakukan koitus dengan ibu dengan  rasa cinta yang sedang disimbolisasikan. Aku yang mewarisi karakter penyumbang sperma dan ovum dengan 23 kromosom dari satu sel yang terus hidup dalam bilangan 46 kromosom.

Aku yang terus hidup dan tumbuh berkat darah yang dialirkan lewat plasenta milik ibu. Aku bahagia dan nyaman di sana.

Tetapi kebahagiaan ku terusik. Sayup-sayup aku mendengar doa dari ibu di luar kelaziman.

 

                        “ Gusti Pangeran

                        Hamba haturkan doa dengan perasaan dan kesungguhan untuk

                        masa depan anak hamba

                        Engkau Maha Pencipta

                        Lahirkan anak hamba ke dunia ini tanpa memilki kedua belah tangan

                        Lahirkan ia tanpa kemampuan berjalan

                        Engkau Yang Maha Tahu

                        Janganlah Engkau berikan penglihatan

                        Janganlah Engkau berikan pendengaran kepada anak yang hamba kandung ini

                        Engkau Penguasa Alam Semesta

                        Bisukan Mulutnya

                        Perdayakan alat kemaluannya

                        Kabulkanlah doa hamba mu ini

                        Demi keselamatan anak hamba ”

Begitulah ibu berdoa siang dan malam sepanjang aku tinggal dalam rahimnya, ketika hari perpindahan alam tiba. Ternyata aku terlahir sempurna.

Punya dua bola mata yang satu bola matanya mengandung kurang lebih 125 juta sel yang berbentuk mirip baksil dan sekitar 6 juta sel berbentuk konikal.

Punya indera pendengar dengan kemampuan tidak melebihi batas frekeunsi 20.000 per 1/60 detik. Punya kemampuan motorik dan otak yang ku gunakan untuk berpikir. Dan aku berkelamin laki-laki. Doa ibu ternyata bualan saja.

Saat pertamakali aku keluar dari rahim ibu, aku menangis sekencang-kencangnya berharap ibu segera memeluk dan menyegerakan memberi puting susunya, ibu hanya diam saja aku menduga ibu kecewa karena aku terlahir sempurna. Aku pun tak mau menyerah begitu saja, kugunakan menangis  sekeras-kerasnya dan berlama-lama sebagai senjata untuk memperdaya ibu. Akhirnya luluh juga, ibu menyegerakan menyusui dan untuk pertamakali dalam sejarah aku memulai kehidupan di atas muka bumi.

Melihat aku terlahir sempurna dengan jenis kelamin laki-laki lengkap dengan kemaluan dan testis, ibu menangis sejadi-jadinya.

Air matanya terus jatuh tanpa putus melewati muka dan jatuh menetes mengenai kedua telapak kakinya. Aku terus didekapnya, aku hangat dalam tubuhnya, aku yang terus tumbuh dengan air mata ibu yang terus jatuh mengenai kedua belah tapak kakinya.

Menangis tanpa suara dan kata-kata.

Ketika masa kanak-kanak tiba. Aku mempertunjukan kemampuan psikomotorik di hadapan ibu. Bukan kelucuan yang ia rasakan lagi-lagi ibu menangis. Semakin aku berkelakuan petakilan semakin banyak air mata yang tumpah.

Ibu selalu menangis dan menangis entah alasan apa yang membuat ibu selalu menangis.

Seiring meningkatnya hormon testosteron. Aku mulai tumbuh dewasa, kuberanikan diri untuk bertanya kepada ibu kenapa ia selalu menangis. Kenapa ibu tidak bangga terhadap aku yang cerdas lagi tampan.

Ibu selalu diam seribu bahasa. Ibu tak pernah mau untuk mengungkapkan misteri airmatanya. Semakin dicecar dengan pertanyaan? ibu pasti menangis.

Ibu menemui takdirnya saat aku sudah merasakan tumbuh menjadi manusia dewasa. Aku ditinggalkan dengan nasehat air mata tanpa kata-kata. Aku dibesarkan dengan air mata tanpa penjelasan dan alasan-alasan. Ibu pergi dengan doa-doa yang tidak dikabulkan Gusti Pangeran.

Usia ku terus berjalan dan memasuki masa penghentian. Di depan pusara ibu kini aku menangis sejadi-jadinya. Air mata dengan kata-kata. Lama aku menyadari akhirnya terungkap juga.

Aku yang memiliki kedua belah tangan telah bertindak mempergunakan untuk memperdaya kaum rendahan. Menandatangani surat-surat keputusan  yang menimbulkan penderitaan dan kesengsaraan. Mereka tergusur dari tanah-tanah yang mereka miliki secara turun-temurun.

Begitu pun kedua kaki ku, berjalan atas nama kekuasaan dan kekuatan. Aku akan menyepak siapa saja yang berani melawan!, menyingkirkan siapa saja sampai mereka duduk bersimpuh memohon ampun sambil mencengkeram atas kedua kaki yang kokoh ini.

Mulutku liar memaki, menghina dan mencerca siapa saja yang aku anggap makhluk Tuhan yang paling sial, ku rendahkan derajatnya, ku permalukan harga dirinya.

Pendengaran, penglihatan dan kemaluan ku … ? Aku tak sanggup menguraikannya di sini.

 

Aku yang sudah menjadi penindas.

Aku yang pandai melakukan korupsi uang Negara.

Aku yang mencuri tiap butir nasi pada piring-piring kemiskinan.

Aku yang mengabaikan rasa kemanusiaan.

Aku yang selalu menebar berita fitnah.

Aku yang selalu pura-pura berpihak kepada kaum miskin.

Aku yang selalu kasar terhadap perempuan.

           

Benar kata Ibu ku,

Mestinya aku lahir tanpa kedua belah tangan

Tanpa kemampuan berjalan

Tanpa mulut

Tanpa mata

Tanpa telinga

Dan tanpa kemaluan.

 

Kini giliran aku yang menangis

Air matanya jatuh tapi tak mengenai kedua belah kakinya. |

 

 

Editor : sem haesy
 
Ekonomi & Bisnis
07 Mei 18, 12:45 WIB | Dilihat : 2761
Soal TKA Yang Diperlukan Cara Bukan Alasan
25 Apr 18, 01:49 WIB | Dilihat : 768
10 Alasan Perusahaan Gagal Dalam Layanan Prima
23 Apr 18, 12:58 WIB | Dilihat : 676
ICPF2018 Jendela Industri Kreatif dan Budaya
Selanjutnya
Energi & Tambang
05 Des 17, 20:09 WIB | Dilihat : 576
Kelola Sumberdaya Alam secara Efisien
19 Des 16, 10:43 WIB | Dilihat : 995
Perlu Kesadaran Kolektif untuk Efisiensi Energi
15 Des 16, 21:23 WIB | Dilihat : 1254
Pertamina Serius Investasi di Hulu
Selanjutnya