ABBOTT Memang Abot

| dilihat 1866

AKARPADINEWS.COM – Sabtu (23/11/2013) Perdana Menteri Australia Tony Abbott membalas surat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang meminta penjelasan ihwal kelakuan pemerintah Australia yang gemar melakukan penyadapan. “Akan ada hari yang baik lagi,” ungkap dia tentang esensi suratnya itu kepada media di Australia.

“Akan ada hari baik dan yang lebih baik lagi. Namun, tujuan saya adalah untuk menjamin bahwa hubungan Indonesia-Australia berkembang baik dan hormat saya kepada Presiden Yudhoyono yang merupakan sahabat bagi Australia dan salah seorang sahabat terbaik yang kita punya,” ujar Abbott.

Abbott memang abot (dalam bahasa Jawa ngeyel). Seperti kepada parlemen di negerinya, Abbott hanya menyatakan ‘menyayangkan hal itu terjadi’ dan ‘bisa merasakan bagaimana suasana batin Presiden SBY dan keluarganya.’ Tapi, tak ada sedikitpun kesan, ia ingin meminta maaf.

Bagi Australia, sadap menyadap hal yang biasa dilakukan bagi pemerintah atas pemerintah lain. Ia tak menggubris berbagai pandangan seperti diberitakan media di Indonesia, yang memandang penyadapan itu sebagai tindakan diplomasi yang biadab.

Abbot berjanji, Australia akan tetap mempertahankan hubungan baik dengan Indonesia, meskipun Presiden SBY dan Menteri Luar Negeri Marthy Natalegawa telah menarik pulang Duta Besar RI untuk Australia, Nadjib Riphat.  Ia tak peduli dengan kritik dan tuntutan yang menyerangnya di dalam negeri maupun di Indonesia.

Mantan Perdana Menteri Australia, Julia Gillard yang digantikannya memandang, Abbot seharusnya meniru Presiden AS Barack Obama, ketika Jerman marah besar, karena telepon Kanselir Angela Merkel disadap. Ketika itu, Obama melakukan pendekatan pribadi dan meminta maaf dan berjanji akan mencegah pemerintahannya untuk tidak melakukan tindakan yang melanggar etika diplomasi itu.

Presiden Barack Obama secara khas juga pernah meminta maaf kepada Presiden SBY terkait hal ini, yang kemudian merebak saat disiarkan oleh Wikileaks, Sidney Herald Tribune, dan The Age, beberapa waktu lalu. Kasus penyadapan ini sebenarnya telah berlangsung beberapa waktu lalu dan mencuat ketika Wikileaks dan dua media Australia itu menista Presiden SBY dan keluarganya dengan menuduhnya terlibat dalam berbagai kasus yang terkait dengan korupsi di Indonesia.

Bisa diduga, substansi surat Abbott kepada Presiden SBY hanya berjanji tentang perbaikan hubungan kedua negara ke depan. Abbott juga, diduga akan bicara seputar goodwill dan friendship. Paling tinggi dia hanya akan menyatakan ‘menyesal.’

Usir Diplomat Australia

TINDAKAN penyadapan atau wiretapping merupakan noda hitam dalam konteks diplomasi. Hal itu bisa terjadi karena kultur diplomasinya memang demikian, ceroboh, dan bagian dari aksi mata-mata. Sikap Abbot yang menganggap hal itu sebagai aksi intellijen, tetapi dengan membocorkannya lebih dulu kepada Wikileaks dan media dapat dipandang sebagai aksi intelligence failure. Hal ini akan menimbulkan hubungan disharmonis secara bilateral dan multilateral. Karena itu, Presiden Russia – Putin, segera merespon dan memberikan dukungan kepada Presiden SBY.

Dalam konteks kasus Wikileaks, Sidney Morning Herald, dan The Ages, Presiden SBY pernah mengemukakan, intelligence failure itu sangat berbahaya karena akan menimbulkan policy design dan kebijakan yang salah dalam konteks hubungan bilateral.

Tindakan penyadapan yang amoral itu, merupakan aksi diplomasi yang gegabah dan kasar. Materi penyadapan tidak selalu akurat dan bila dianggap sebagai fakta, tanpa konfirmasi akan menimbulkan korban. Apalagi dengan menggunakan berbagai isu yang sangat sensitif bagi Indonesia, seperti korupsi, abuse of power dan sebagainya.

Penelusuran Akarpadines.com terhadap berbagai kasus sejenis, mengandung bahaya diplomasi. Antara lain, karena badan intelijen negara yang melakukan penyadapan hanya mendapatkan raw materials yang tidak lengkap dan preliminari. Konteksnya juga confuse, samar-samar.

Bila Abbott meniru Obama, seperti yang disampaikan Julia Gillard, akan ada upaya untuk meluruskan dan mengklarifikasi posisi pemerintahnya. Tapi, dengan sikap Abbot yang memang abot, justru akan menimbulkan persoalan. Terutama, karena mereka sudah dengan sengaja merusak nama Presiden SBY dan keluarganya, juga merusak nama sejumlah menteri dan pejabat tinggi lainnya, yang mereka sadap. Damage has been done !

Reaksi masyarakat Indonesia terhadap aksi intelligen itu sangat responsif. Masyarakat yang melakukan unjuk rasa di depan Kedutaan Besar Australia, menuntut pemerintah Republik Indonesia mengusir diplomat Australia. |

Editor : Nur Baety Rofiq
 
Seni & Hiburan
31 Jul 21, 04:03 WIB | Dilihat : 179
Mata Maut
03 Mar 21, 06:38 WIB | Dilihat : 418
Industri Game Naik Saat Pandemi
Selanjutnya
Humaniora
04 Nov 21, 07:24 WIB | Dilihat : 336
Tolak Toleransi Zina di Kampus
13 Okt 21, 09:25 WIB | Dilihat : 624
Pendekar Mabuk di Tengah Coronastrope
05 Okt 21, 16:00 WIB | Dilihat : 412
Penista Nabi Muhammad Mati Dilahap Truk
03 Sep 21, 12:31 WIB | Dilihat : 259
Membaca Tantangan Abad 21 dan Hegemoni Pendidikan Global
Selanjutnya