Warga Singapura yang Terinfeksi Virus Zika Bertambah

| dilihat 1805

SINGAPURA, AKARPADINEWS.COM | JUMLAH orang yang terpapar virus Zika di Singapura terus bertambah. Selasa (30/8), 15 orang dilaporkan positif terinfeksi virus yang berasal dari nyamuk Aedes Aegypti dan Aedes Albopictus tersebut. Dengan demikian, penderita virus Zika di Singapura mencapai 56 orang.

Sebagian besar dari mereka adalah pekerja dan warga yang tinggal di kawasan Aljunied Crescent dan Sims Drive. Kawasan itu diketahui menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk (Baca: Waspada, Virus Zika Mewabah di Singapura). Dari 15 orang itu, tujuh di antaranya masih dirawat di Rumah Sakit Tan Tock Seng dan berpotensi menular. Karenanya, petugas terpaksa mengisolasi. Sementara sisanya dinyatakan telah pulih.

"Mereka tidak diketahui telah melakukan perjalanan ke kawasan yang terkena dampak Zika baru-baru ini. Karena itu, kemungkinan (mereka) telah terinfeksi di Singapura," kata Kementerian Kesehatan Singapura dalam pernyataannya.

Petugas masih berupaya mematikan wabah virus di Aljunied Crescent dan Sims Drive. Himbauan juga disampaikan lewat pengumuman tentang bahaya virus Zika dan pencegahannya. Pemeriksaan juga dilakukan kepada para pekerja konstruksi yang tinggal di kawasan itu.

Badan Lingkungan Hidup Singapura menyampaikan telah membersihkan sekitar 3.600 titik dari 6.000 titik di kawasan yang menjadi tempat berkembangbiaknya nyamuk, termasuk membunuh 36 habitat berkembang-biaknya nyamuk.

Lembaga itu juga melakukan pemeriksaan di asrama dan tempat tinggal warga di Kranji Road, Senoko South Road, Lor 101 Changi, Toh Guan Road East, dan Joo Chiat Place. Salah satu peternakan di Kranji juga dihancurkan. National Environment Agency (NEA) juga telah memeriksa 900 tempat di Sembawang Drive, mendeteksi dan menghancurkan satu peternakan, melakukan fogging termal, dan penyemprotan ruangan dengan insektisida.

Menteri senior bidang Sumber Daya Lingkungan, Air, dan Kesehatan, Amy Khor, juga berharap kerjasama warga untuk membantu lebih dari 200 petugas NEA yang dikerahkan. "Ini sangat penting dan mendasar dalam upaya mengurangi risiko penyebaran lebih lanjut dari virus Zika," tulis Khor di akun facebook-nya.

Dia juga mengingatkan warga untuk tetap waspada dan mengambil tindakan pencegahan berkembang biaknya nyamuk di rumah dan lingkungan sekitar. "Mari kita semua menjaga diri kita sendiri, dan hati-hati untuk satu lain."

Virus Zika masuk pertama kali ke Singapura pada Mei lalu saat seorang pria yang usai mengunjungi Brasil, mengalami demam dan gatal-gatal sehingga harus dirawat di rumah sakit.

Selain Singapura, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan, Indonesia, Thailand, Vietnam, dan Filipina beresiko terjadinya transmisi endemik setelah ditemukan bukti adanya infeksi Zika nyamuk secara lokal di tahun 2016.

Pusat Perlindungan Kesehatan (CHP) Hong Kong juga melaporkan, kasus pertama terdeteksi dari seorang perempuan berusia 38 tahun usai mengunjungi Karibia awal Agustus lalu. Perempuan itu merasakan nyeri sendi dan mata merah. Dia sudah dalam kondisi stabil dan diisolasi di sebuah rumah sakit.

"Mengingat baru-baru ini, kasus yang diimpor pertama di Hong Kong, kita menghadapi risiko impor kasus (penyebaran Zika)," kata juru bicara CHP. Lembaga itu menghimbau semua pihak meningkatkan upaya pengendalian nyamuk. Masyarakat juga harus menggunakan penolak serangga untuk melindungi diri, keluarga, dan masyarakat.

Di Indonesia, Lembaga Biologi Molekuler Eijkman yang berbasis di Jakarta, akhir Januari lalu mendeteksi satu kasus infeksi Zika di Jambi. Virus itu terdeteksi dari seorang laki-laki berusia 27 tahun. Namun, dia tidak pernah bepergian ke luar negeri. Peneliti Eijkman menyimpulkan, gejala demam berdarah dan gatal-gatal yang menyerang lelaki itu ternyata bukan berasal dari virus yang mengakibatkan demam berdarah. Peneliti belum mengetahui penyebab laki-laki itu bisa tertular virus Zika.

Penyebaran virus Zika perlu diwaspadai. Gejala awal yang dimunculkan memang tidak begitu luar biasa. Hanya demam, bintik-bintik merah pada kulit, nyeri sendi, dan mata merah. Karenanya, mereka yang umumnya diduga terinfeksi virus Zika, merasa tidak perlu ke dokter untuk mengecek kondisi kesehatannya.

Namun, bila virus Zika menyusup ke tubuh perempuan hamil, maka dampaknya sangat luar biasa. Bayi yang lahir dari rahim perempuan yang terinfeksi virus Zika, bisa mengalami cacat lahir berupa microcephaly atau kelainan pada kepala, di mana ukuran kepalanya lebih kecil dari ukuran normal. Di Brasil, tercatat 3.893 kasus microcephaly sejak Oktober 2015 lalu akibat virus Zika.

Bahkan, virus itu dapat menyebabkan cacat otak, cacat mata, kurang pendengaran, gangguan pertumbuhan pada bayi, dan dapat meningkatkan sindrom Guillain-Barre, yang menyerang sistem saraf di bagian yang terinfeksi.

Terkait penyebaran virus Zika di Singapura, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia meningkatkan kewaspadaan seperti yang dilakukan di Batam, yang letaknya tak jauh dari Singapura. Batam menjadi jalur transit orang-orang yang datang dari Singapura atau sebaliknya.

Menurut Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes, Mohamad Subuh, untuk mencegah dan mendeteksi penularan Zika, setiap penumpang yang masuk ke Indonesia dari Singapura akan diberikan health alert card di setiap pintu masuk bandara dan pelabuhan. Mereka yang datang dari Singapura jika dalam waktu 10 hari di rumah, mengalami demam dengan ciri-ciri demam tinggi, ada ruam atau bercak pada kulit, harus segera melapor ke petugas kesehatan yang ada di Puskesmas atau rumah sakit, dengan membawa kartu tersebut.

Dengan menggunakan health alert card, memudahkan petugas dalam memonitor warga yang diduga terinfeksi virus Zika. Petugas juga melakukan screening dan pemeriksaan melalui thermal scanner. Penggunaan thermal scanner baru akan optimal dilakukan kepada orang yang terinfeksi apabila sudah masuk masa inkubasi 7-10 hari. "Kalau misalnya ada orang yang sudah terinfeksi tetapi baru masuk hari ke-5 ini belum menunjukkan ada gejala demam, sehingga akan underutilize untuk kita pantau atau monitoring," ujar Subuh seperti dikutip dari laman Kementerian Kesehatan, Senin (29/8). Masyarakat juga dihimbau segera melaporkan bila merasakan gejala seperti akibat virus Zika.

Virus yang berasal dari hutan Zika di Uganda itu pertama kali ditemukan tahun 1947 pada seekor monyet. Lalu, di tahun 1950-an, menyebar ke Afrika dan Asia. Sepanjang tahun 2007 sampai 2016, virus itu melintasi Samudra Pasifik hingga ke kawasan Amerika Latin seperti Brasil, Kolombia, Ekuador, El Salvador, Argentina, Chili, Barbados, Guatemala, Guyana, Haiti, Honduras, Martinique, Meksiko, Panama, Paraguay, Puerto Rico, Saint Martin, Suriname, dan Venezuela.

April 2016, penularan Zika juga terdeteksi di Perancis, Italia, Selandia Baru, dan Amerika Serikat. Studi filogenetik menunjukkan, virus yang menyebar di Amerika Latin identik dengan genotipe Afrika, namun terkait erat dengan strain Asia yang beredar di Polinesia Perancis selama tahun 2013-2014.

Penularan Zika juga dapat lewat hubungan seks laki-laki dan perempuan. Di tahun 2011, seorang ahli biologi University of Colorado, Brian Foy yang telah digigit nyamuk lantaran mempelajari nyamuk di Senegal, mengalami gejala terinfeksi. Lalu, dia melakukan hubungan seks dengan isterinya tanpa kondom. Isterinya, tak pernah pergi ke luar dari AS sejak tahun 2008. Akibatnya, istrinya pun mengalami gejala infeksi.

Di tahun 2014, Zika diketahui dapat tumbuh di sperma selama dua hingga 10 minggu setelah seorang lelaki mengalami demam. Di awal Februari 2016, Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan Dallas County juga melaporkan, seorang pria asal Texas yang tidak bepergian ke luar negeri, terinfeksi setelah melakukan hubungan seks secara anal sehari setelah timbulnya gejala terinfeksi.

Karenanya, pada Maret 2016, Pusat Pengawasan dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC), merekomendasikan agar seseorang lelaki yang mengalami gejala Zika, harus menggunakan kondom atau tidak berhubungan seks penetratif selama minimal enam bulan setelah gejala muncul. Himbauan itu juga ditujukan kepada orang-orang yang tinggal dan melakukan perjalanan ke daerah yang mewabah virus Zika.

Laki-laki yang telah melakukan perjalanan ke daerah yang terjangkit virus Zika, tetapi tidak menunjukan gejala Zika, harus mempertimbangkan menggunakan kondom atau tidak berhubungan seks minimal selama delapan minggu.

Lalu, pada April 2016, dua kasus penularan Zika diketahui akibat transfusi darah ditemukan di Brasil. Virus Zika menular ke dua orang yang mendapat transfusi darah dari seseorang yang telah terinfeksi Zika. Namun, peneliti mengingatkan, penularan virus Zika sebagian besar akibat gigitan nyamuk. Penularan virus melalui transfusi darah sangat langka.

Hingga saat ini, tidak ada vaksin yang dapat mengobati Zika. Meski demikian, parasetamol (acetaminophen) dapat membantu menekan gejala yang timbul. Cara terbaik untuk mencegahnya adalah melindungi diri sendiri dan keluarga dari gigitan nyamuk. Misalnya, cara yang paling mudah, mengenakan kemaja dan celana panjang, kelambu, dan perlu ada pendingin ruangan. Bisa juga dengan mengunakan pencegah serangga yang terdaftar Environmental Protection Agency (EPA) sesuai aturan pakai.

Namun, jangan menggunakan penolak serangga untuk bayi berusia dua bulan. Jangan pula digunakan produk yang mengandung minyak lemon eucalyptus atau para-mentana-diol pada anak-anak berusia tiga tahun.  Zika juga dipengaruhi perubahan curah hujan dan suhu. Kenaikan suhu akan memungkinkan vektor memperluas jangkauannya yang memungkinkan virus itu mengikuti.

Pada Januari 2016, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) menerbitkan panduan perjalanan bagi warganya di negara yang terkena dampak, termasuk peningkatan upaya pencegahan. Pedoman itu juga memperingatkan wanita hamil agar menunda perjalanan. Sementara otoritas di Kolombia, Republik Dominika, Puerto Rico, Ekuador, El Salvador, dan Jamaika menyarankan, perempuan untuk menunda kehamilan.

Pemeriksaan secara intensif juga dilakukan kepada orang-orang yang datang dari area yang diketahui ditemukan kasus infeksi virus Zika. Bagi pasien yang belum pulih akibat terinfeksi virus Zika, disarankan untuk menghindari gigitan nyamuk karena virus Zika dapat bertahan lama di darah sehingga memungkinkan terjadinya penyebaran.

M. Yamin Panca Setia

Editor : M. Yamin Panca Setia | Sumber : Channel News Asia/CNN/VOA/Reuters/CDC
 
Lingkungan
Humaniora
12 Agt 19, 11:00 WIB | Dilihat : 373
Umrah Digital
11 Agt 19, 13:59 WIB | Dilihat : 310
Bertemu Cinta Sesungguh Cinta di Arafah
10 Agt 19, 17:28 WIB | Dilihat : 265
Hari Arafah
07 Agt 19, 13:12 WIB | Dilihat : 489
Mbah Mun dan Hakikat Pernikahan
Selanjutnya