Perhutani Serahkan Penghargaan Green Pen Award 3

Tumbuhkan Kecintaan Terhadap Lingkungan dengan Sastra

| dilihat 2335

AKARPADINEWS.COM | Rangkaian kegiatan Perhutani Green Pen Award 3 tahun 2016 telah berakhir. Pemenang di masing-masing kategori pun telah ditentukan (baca: Mlangun Menangkan Perhutani Green Pen Award 3).

Lomba ini diikuti oleh 1.100 orang. Meski jumlah peserta turun dari tahun lalu yang mencapai 1.500 orang, namun banyak nama-nama baru yang ikut dalam perlombaan tahun ini, khususnya kategori C untuk umum.

Untuk kategori A (SLTP dan sederajat), dimenangkan oleh Mahram Hafiz dari Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Dia menulis cerpen berjudul Khayal. Untuk kategori B (SLTA dan Mahasiswa), dimenangkan oleh Syahirul Alim Ritonga, mahasiswa Teknik Mesin Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, dengan cerpen berjudul Lelaki Yang Memakan Asap. Dan, untuk kategori C, dimenangkan oleh Nur Hadi asal Jepara, dengan cerpennya berjudul Mlangun.

Para pemenang itu ditetapkan berdasarkan hasil penilaian dewan juri yang berlangsung ketat. Di ajang Perhutani Green Pen Award 3, dewan juri terdiri dari cerpenis dan budayawan Indonesia, yakni Dr Budo Freehearty, Leila S. Chudori, Wina Bojonegoro, Soesi Sastro, dan N. Syamsuddin Ch. Haesy.

Mustoha Iskandar, Direktur Utama Perum Perhutani, memberikan apresiasi kepada para pemenang pada Selasa (12/4) di kantor pusat Perum Perhutani Gedung Manggala Wanabakti, Jakarta.

Ketiga pemenang utama itu berhak mendapatkan hadiah berupa uang tunai sebesar Rp3 juta untuk kategori A, Rp 4 juta untuk kategori B, dan Rp5 juta untuk kategori C. Para pemenang utama juga mendapatkan piala Perhutani Green Pen Award 2016 dan piagam.

Lomba penulisan cerpen yang diadakan oleh Perhutani ini patut diapresiasi. Sebab, melalui lomba ini, Perhutani menanamkan kesadaran pelestarian hutan dan lingkungan, sekaligus mendorong perkembangan dunia sastra.

Mustoha, dalam sambutannya, mengatakan, kegiatan yang sudah berlangsung tiga tahun berturut-turut ini diharapkan dapat bermanfaat positif bagi generasi muda dan perusahaan. Selain itu, dia mengatakan, lomba menulis cerpen ini penting untuk menumbuhkan rasa kecintaan masyarakat dalam menjaga kelestarian hutan dan lingkungan, melalui budaya sastra tulisan.

Saat dimintai komentar, Mahram Hafiz menjelaskan, dirinya mengetahui ada lomba cerpen tersebut dari website Perum Perhutani. Dia tertarik ikut komba karena hadiahnya cukup besar. Untuk menghasilkan cerpen juaranya, Hafiz mendapat ide cerita ketika berjalan di hutan di daerahnya.

“Perhutani menginspirasi saya untuk menulis, sekaligus mendorong saya membuat kelompok-kelompok kecil pecinta alam yang akan terus aktif menulis,” ucap Hafiz. Selain itu, Hafiz menambahkan, menulis cerpen ala Perhutani adalah salah satu bentuk perhatian pada hutan dan alam.

Sementara Nur Hadi mengatakan, dirinya tertarik mengikuti lomba karena memang seorang penulis. Kini, dia mulai lebih banyak menulis tentang kehidupan di hutan. “Menulis (tentang hutan) sangat menarik,” ungkapnya.

Sementara Syahirul, mengatakan, setelah memenangi lomba ini, akan mencoba meraih mimpinya sebagai sarjana teknik yang juga penulis. “Saya akan mencoba menjadi penulis beneran,” ujarnya.

Diselenggarakannya lomba Perhutani Green Pen Award ini bertujuan untuk mencari penulis-penulis muda berbakat, imajinatif, dan kreatif. Selain itu, lomba ini bertujuan untuk meningkatkan rasa cinta dan kesadararan generasi muda pada kelestarian hutan dan lingkungan hidup.

Perhutani Green Pen Award dapat menjadi wadah bagi generasi muda untuk menyalurkan daya imajinasi dan kreatifitasnya. Dengan begitu, mereka dapat lebih simpati, empati, dan peka terhaap hal-hal yang terjadi di sekitarnya, khususnya terkait upaya pelestarian hutan dan lingkungan hidup.

Generasi muda pada daarnya memiliki motivasi, daya imajinasi, dan kreatifitas. Sayangnya, potensi itu sering diaktualisasikan dengan cara yang salah. Akan lebih baik, jika aktualisasi imajinasi dan kreatifitas itu diaktualisasi dengan cara-cara yang benar seperti lewat mengikuti lomba yang digelar Perhutani ini.

Perhutani Green Pen Award mendorong lahirnya penulis-penulis muda berbakat, sekaligus membangun tradisi menulis di generasi muda. Hal itu penting karena tulisan yang mencerahkan akan meningkatkan kualitas peradaban umat manusia

Muhammad Khairil

Editor : M. Yamin Panca Setia
 
Budaya
07 Okt 21, 09:26 WIB | Dilihat : 389
Cindai Kebangsaan yang Koyak dan Lusuh
05 Okt 21, 15:01 WIB | Dilihat : 286
Mengingat Siti Quburi di Tengah Arus Deformasi
30 Sep 21, 11:10 WIB | Dilihat : 263
Alih Rupa Sejarah
15 Sep 21, 11:09 WIB | Dilihat : 339
Prespektif Transformasi Budaya Betawi dari Setu Babakan
Selanjutnya
Polhukam
01 Des 21, 11:54 WIB | Dilihat : 61
PM Ismail Sabri Perkuat Peran Wartawan Malaysia
24 Sep 21, 09:17 WIB | Dilihat : 179
Pembangkang dalam Pusaran Transformasi Politik Malaysia
19 Sep 21, 16:48 WIB | Dilihat : 336
Cermin Buram Kekuasaan dan Luka Rakyat
Selanjutnya