Mitigasi Bencana dari Pesan Leluhur

| dilihat 550

AKARPADINEWS.COM | GUNUNG teu meunang dilebur, sagara teu meunang di ruksak, buyut teu meunang di rempak. Gunung tidak boleh dihancurkan, laut tidak boleh dirusak, dan sejarah tidak boleh dilupakan. Itulah pepatah Sunda yang disampaikan orang tua dulu (Ki Sunda). Pepatah itu mengajak manusia untuk melakukan pencegahan atau mitigasi bencana dengan cara memanfaatkan alam tanpa harus menghancurkan.

Pepatah bijak harusnya betul-betul dilaksanakan manusia. Serangkaian bencana yang terjadi di beberapa daerah saat ini adalah dampak dari eksploitasi alam, tanpa memperhatikan keberlanjutannya. Selasa, 20 September lalu, kabar duka datang dari Garut, Jawa Barat.

Banjir dan tanah longsor melanda beberapa tempat di Garut. Ratusan rumah di bantaran Sungai Cimanuk rata dengan tanah lantaran diterjang arus sungai yang mengalami peningkatan. Banjir bandang menerjang tujuh kecamatan dan menelan 34 korban jiwa.

Puluhan orang juga dilaporkan hilang, dan ribuan orang mengungsi ke tempat-tempat yang lebih aman. Lagi-lagi, tatkala bencana melanda, alam yang dipersoalkan. Curah hujan yang tinggi menjadi penyebab meluapnya Sungai Cimanuk sehingga air merendam rumah-rumah warga.  

Menurut Kepala Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) Jawa Barat, Anang Sudarna seperti dilansir media setempat, penyebab banjir bandang yang terjadi di Garut disebabkan karena hulu Sungai Cimanuk yang rusak. Karena, tidak lama saat turun hujan, dua jam kemudian, sungai meluap di Tarogong Kidul. Artinya, tidak ada tahanan air di daerah hulu sungai.

Pangkal bencana sebenarnya adalah perilaku eksploitatif di kawasan konservasi yang dilindungi di Garut. Eksploitasi itu dilakukan pengembang yang melanggar Rencana Detail Tata Ruang (RDTR). Kawasan yang diperuntukan sebagai resapan air tanah, digunakan sebagai lahan pertanian, pembangunan kawasan wisata, hingga properti dengan tidak memerhatikan kaidah lingkungan. Pohon-pohon dibabat sehingga mengurangi kemampuan lingkungan dalam meresap air. Akibatnya, setiap hujan mengguyur, banjir pun datang.

Seharusnya, manusia saat ini melaksanakan betul pesan leluhur yang mengatakan, tatangkalan di leuweung teh kudu di pupusti (Semua pohon yang ada di hutan itu harus kita rawat dan jaga).  Lantaran durhaka dengan pesan para orang tua dulu itu, generasi saat ini pun menuai akibatnya. Bencana alam kian akrab dalam hidupnya.

Leuweung ruksak, cai beak, manusa balangsak (Jika hutan dirusak, air tidak ada, kita sendiri nantinya yang akan sengsara). Papatah Sunda sejak baheula itu diturunkan secara turun temurun, baik melalui teks maupun secara lisan.

Pandangan kearifan lokal ini seringkali luput dalam pemikiran masyarakat modern saat menarasikan bencana. Bencana juga dipercaya sebagai hukuman Tuhan yang tidak bisa ditolak. Dan, tatkala terjadi bencana, semua mengarahkan pada dampak yang diakibatkan.

Tetapi, tidak menarasikan penyebab bencana yang telah dilakukan. Kalaupun masyarakat paham jika merusak alam dapat mengakibatkan bencana, tetapi tidak diaktualisasikan dalam sikap dan perilaku yang ramah terhadap alam. Kita pun disuguhkan oleh peristiwa dramatis, tanpa menawarkan alternatif solusi jangka panjang. Bahkan, ada juga menjadi ajang pencitraan para tokoh yang seakan menunjukan empatinya di depan layar kaca.

Jika manusia saat ini, benar-benar mengadopsi petuah dari para leluhur, tentu bencana bisa diantisipasi. Namun, keserakahan manusia mereduksi nilai-nilai luhur itu. Bahkan, cenderung diabaikan demi kepentingan ekonomi. Warisan lisan dan tulisan para leluhur ini pun dianggap kuno, kolot, dan tidak lagi tepat diadopsi di era modern.

Padahal pesan-pesan dari leluhur ini menebar pesan-pesan edukatif dan mengandung nilai maupun moral yang penting untuk diterapkan generasi saat ini maupun yang akan datang, dalam mengembangkan interaksi yang seimbang dengan alam.

Bahkan, bila ditelaah lebih jauh, pepatah ini tidak sekedar sebagai pengingat. Namun, sebagai bentuk mitigasi bencana. Karena, yang paling penting untuk dilakukan ke depan adalah mengurangi dan mencegah terjadinya bencana, melalui penyadaran dan peningkatan kemampuan masyarakat dalam menghadapi bencana, salah satunya dengan menghidupkan lagi kearifan lokal yang sudah sekian lama ditransformasikan oleh orang tua dulu.

Dalam konteks ini, apa yang diperbuat manusia terhadap alam, akan dirasakan kembali oleh manusia. Sesuai pepatah melak cabe jadi cabe, melak bonteng jadi bonteng, melak hade jadi hade, dan melak goreng jadi goreng (menanam cabai akan menjadi cabai, menanam mentimun akan menjadi mentimun, menanam kebaikan akan menjadi kebaikan, dan menanam keburukan akan menjadi keburukan).

Leluhur telah mengajarkan agar menjalani hidup tidak dilandasi nafsu, namun perbuatan dan tindakan, harus merujuk pada akal. Ibarat pepatah, manuk hiber ku jangjangna jalma hirup ku akalna (Burung terbang dengan sayapnya, manusia hidup dengan akalnya). Termasuk, tidak serakah dalam mengekplotasi alam dan menuruti kehendak untuk menguasainya.

Manusia harus memperhitungkan dengan akal ketika alam dieksplotasi, yang imbasnya adalah bencana alam. Dan, ketika bencana melanda dan menelan banyak korban jiwa dan materi, para leluhur juga mengingatkan dengan kata-kata bijaknya, dihin pinasti anyar pinanggih (segala sesuatunya sudah ditakdirkan dari yang maha kuasa) dan nimu luang tina burang (semua kejadian pasti ada hikmahnya, jadi berpikirlah dengan bijaksana).

Kematian dan kerugian materi harus menjadi refleksi agar manusia menyadari jika segala yang dimiliki manusia, akan kembali ke asalnya dan pemiliknya. Tuhan sang maha pencipta. Mulih kajati mulang ka asal (segala sesuatu pasti akan kembali lagi kepada Yang Maha Kuasa).

Karenanya, ketika bencana menyapa, manusia tidak hanya sekedar meratapi penderitaan. Para leluhur mengajarkan agar antar sesama manusia saling bekerjasama, saling membantu meringankan penderitaan. Seperti kata pepatah, ka cai jadi saleuwi, ka darat jadi salogak. Harus tetap kompak dan tetap bersama-sama agar kuat dan kudu silih asih, silih asah, dan jeung silih asuh (kita harus saling mengasihi, mengasah, dan juga saling mengasuh antar sesama manusia).

Pesan-pesan leluhur tersebut menjadi penting. Tentu, tidak sekedar merefleksikan kejadian masa lalu. Namun, menjadi rujukan hidup manusia saat ini dan akan datang. Selalu mawas diri dan menjalani kehidupan berbasis pada nilai-nilai kebaikan antar manusia dan harmoni dengan alam. | Ratu Selvi Agnesia

Editor : M. Yamin Panca Setia
 
Humaniora
23 Nov 17, 20:26 WIB | Dilihat : 53
Mengintip Mappasitinaja di Munas KAHMI dan FORHATI
17 Nov 17, 08:48 WIB | Dilihat : 496
DOA ISTERI
17 Nov 17, 06:31 WIB | Dilihat : 243
Ambisius
10 Nov 17, 21:21 WIB | Dilihat : 1954
Balas Dendam Deddy Mizwar Berbuah 3 Gelar Akademik
Selanjutnya
Lingkungan
05 Jan 17, 21:34 WIB | Dilihat : 523
Hidup Sejahtera di Permukiman Terapung Kampong Ayer
02 Jan 17, 15:50 WIB | Dilihat : 306
Merawat Cinta di Bali
28 Des 16, 14:15 WIB | Dilihat : 364
Surga di Jayapura
23 Des 16, 18:26 WIB | Dilihat : 546
Cisomang Bergeser, Cipularang Terganggu
Selanjutnya