Merawat Hutan Memelihara Peradaban

| dilihat 695

Catatan N. Syamsuddin Ch. Haesy

BEBERAPA hari menjelang hari raya Idul Fithri – 1 Syawal 1439 H, saya menikmati ibadah puasa di tengah hutan pinus, kaki gunung Merbabu.

Suasananya sejuk. Tak hanya itu, ketika berpapasan dengan penduduk di jalan setapak, saya dapatkan keramahan dan cerita tentang bagaimana mereka mengolah rimba dan mengambil manfaat dari tetumbuhan herbalium yang hidup di bawah kanopi hujan hutan tropis itu.

Banyak hal menarik yang tersimpan di balik hutan dengan tegakan aneka pohon kayu dan belukar dengan beragam pohon perdu di dalamnya.

Bagi saya, hutan alias rimba, tak hanya kawasan yang ditumbuhi pepohonan dan tumbuhan lebat. Bukan pula hanya kawasan bumi penampung karbon dioksida (carbon dioxide sink), habitat hewan, biosfer bumi, dan arus hidrologika.

Hutan adalah budaya yang bersinggungan dengan peradaban manusia. Apalagi, di Indonesia – dari berbagai rimba yang pernah saya kunjungi di Sumatera, Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi -- dengan kawasan hutan hujan tropis yang khas, beragam budaya berkembang di dalamnya.

Kekariban budaya hutan dengan perkembangan peradaban manusia berkembang bersamaan dengan kehidupan spiritual dan religius. Terutama dengan agama-agama bumi dengan segala ritusnya. Bahkan sudah ada sejak animisme dan dinamisme menjadi pilihan peradaban.

Ritus-ritus dan ritual agama bumi dan sisa animisme – dinamisme yang berkembang bersamaan dengan sinkretisme, mengenal berbagai perangkat upacara yang bermula dari hutan.

Remah rempah, kulit kayu, dedaunan, dan batang kayu dari jenis-jenis pohon tertentu, termasuk kemenyan menjadi bagian dari aroma spiritual dan magis. Menyatu dalam dupa yang menyerbakkan wewangian khas.

Di abad modern, budaya hutan berkembang bersamaan dengan perkembangan interaksi budaya manusia dengan perangkat kehidupannya. Furniture atau seni perangkat rumah tangga, misalnya.

Budaya hutan sebagai dimensi budi dan daya peradaban manusia mempertemukan kita pada hubungan manusia – alam – Tuhan, sebagai triangle of life.

Oleh karena itu proses pembabatan hutan alias deforestasi, secara serta merta menimbulkan disharmoni hubungan manusia dengan alam. Lantas, menyebabkan terjadi kerusakan dan bencana alam.

Nafsu dan ambisi mengubah hutan menjadi ladang perkebunan, misalnya, tak hanya merusak tatanan alam, tetapi juga rusaknya sosiohabitus, bahkan budaya dan peradaban manusia.

Pada berbagai kearifan lokal, khususnya di Timur, kita menemukan begitu karibnya budaya hutan dengan filosofi hidup manusia. Terutama dalam mempertemukan dimensi kehidupan yang berada di dalam maupun di luar empirisma manusia.

Di abad modern dan bahkan dalam perkembangan peradaban post industrial society, budaya hutan menjadi jalan manusia kembali ke alam. Agar manusia bersinggungan kembali dengan kearifan dan kecerdasan lokal, serta kefasihan dalam memelihara harmoni manusia – alam – Tuhan. Dalam konteks inilah, reforestasi, tak sekadar berkait dengan perubahan iklim. Melainkan juga, berkait langsuyng dengan keberlangsungan proses transformasi budaya.

Beberapa tahun lalu, kala berkesempatan mengunjungi beberapa hutan di Swedia, saya menemukan keindahan harmoni sebagai ekspresi budaya hutan. Dalam suatu percakapan dengan beberapa rekan rimbawan dari Swedia, saya beroleh pemahaman : hutan adalah medium yang diciptakan Tuhan, agar manusia mengenali esensi harmoni hubungannya dengan alam dan Tuhan itu sendiri.

Dalam konteks itu, saya menyebut, hutan adalah ‘sajadah panjang’ tempat manusia bersujud : mengenali betapa Tuhan menebar begitu banyak nikmat. Kendati, nikmat itu sering diingkari dan dihianati oleh manusia.

Sepanjang Ramadan, kala menderas ayat-ayat Qur’an, saya belajar memahami realitas hutan dan alam semesta sebagai ayat-ayat kauniyah yang wajib dibaca oleh manusia. Khasnya, untuk menyadari, ketika terjadi bencana alam, yang rusak tak hanya alam beserta hutan di dalamnya. Melainkan juga peradabannya. Terutama karena hutan tak dapat dilepaskan kaitannya dengan lingkungan.

Kita bisa mengambil banyak pelajaran dari sungsangnya kehidupan akibat rusaknya hutan dan rusaknya budaya hutan. Persoalan Sungai Citarum, misalnya, adalah realitas nyata, bagaimana rusaknya budaya hutan secara serta merta merusak lingkungan. Lantas, menghantarkan ancaman kehidupan bagi umat manusia.

Pun demikian halnya dengan berbagai kasus pembakaran hutan yang dilakukan untuk memenuhi syahwat ekonomi dan bisnis. Karenanya, penanggulangan bencana hutan – tak terkecuali kebakaran hutan – tak hanya harus memadamkan hutan, atau melakukan reforestasi.

Jauh dari itu adalah bagaimana melakukan pemulihan atau recovery terhadap budaya dan peradaban yang ada di dalamnya. Salah urus hutan, akan mengubah rahmat menjadi laknat., mengubah berkah menjadi musibah.

Benar kata Mbah Boy yang sedang menghutankan lereng gersang Watulumbung di Parangtritis – Jogjakarta menjadi hutan jati dan gaharu, serta hutan pangan, kita tak boleh lelah merawat hutan. Karena dengan merawat hutan, antara lain dengan menggunakan kemajuan sains dan teknologi, kita sebenarnya sedang merawat kembali budaya dan peradaban kita. |

Editor : sem haesy
 
Humaniora
06 Des 18, 12:07 WIB | Dilihat : 202
Reuni Mujahid 212 Referensi Relasi Rakyat dengan Media
05 Des 18, 00:03 WIB | Dilihat : 217
Seonggok Batik Berwiru
04 Des 18, 10:28 WIB | Dilihat : 252
Gairah dan Ghirah Mujahid Mujahidah 212
24 Nov 18, 23:10 WIB | Dilihat : 309
Qanaah dalam Berkeluarga
Selanjutnya
Lingkungan
03 Okt 18, 15:25 WIB | Dilihat : 536
Gunung Soputan Minahasa Tenggara Meletus
01 Okt 18, 17:02 WIB | Dilihat : 401
Mari Menanam Kebajikan di Donggilu
29 Sep 18, 09:58 WIB | Dilihat : 348
Bangun Solidaritas Sosial Bantu Korban Gempa Sulteng
Selanjutnya