AKARPADINEWS.COM | WACANA memperpanjang jam sekolah (full day school) yang digulirkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy menuai kontroversi. Protes tak hanya dilayangkan siswa dan orang tua.
Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Yohana Susana Yembise pun menolak ide Mendikbud itu. Dia menilai, jika direalisasikan, full day school akan membatasi hak bermain anak dan melanggar konvensi hak anak. Muhadjir pun merasa seperti di-bully sebagian khalayak yang menentang wacana yang digulirkannya. Jika memang ditentang sebagian masyarakat, Muhadjir pun berencana akan membatalkan rencana itu.
Sejak wacana itu digulirkan, para siswa dan orang tua merasa resah. Ada kekhawatiran jika full day school akan mengurung siswa di sekolah, sehingga menjauhkan anak-anak dari lingkungan di luar sekolah. Wacana itu terkesan mengada-ada dan tidak mungkin bisa diterapkan di seluruh sekolah lantaran tidak semua sekolah didukung oleh tenaga guru yang handal, dan sarana prasarana yang memadai.
Karenanya, meluncurlah petisi "Tolak Pendidikan Full Day" yang diinisiasi Deddy Mahyarto Kresnoputro. Jumlah pendukungnya terus meningkat. Di laman change.org, hingga Kamis sore (11/8), petisi itu mendapatkan dukungan 39.211 orang. Petisi tersebut ditujukan kepada Mendikbud, Presiden Joko Widodo, dan para orang tua murid.
Dalam petisi itu, Deddy menulis, belum saja selesai membenahi masalah kurikulum yang kerap kali berganti, sekarang muncul wacana anak sehari penuh di sekolah. Alasannya, pendidikan saat ini tidak siap menghadapi perubahan jaman yang begitu pesat. Menurut Deddy, saat ini, tren sekolah di negara-negara maju adalah less school time, no homework, more about character building.
Deddy juga mempertanyakan alasan Mendikbud jika full day school untuk mencegah hal-hal negatif terhadap anak-anak di luar sekolah, salah satunya adalah dengan memberi kelas agama, dibandingkan dengan belajar agama di luar sekolah yang mungkin bisa terjerumus ke arah ekstrimis. "Kalau hal ini yang perlu belajar adalah orang tuanya, untuk mengarahkan anak agar tidak terjerumus ke hal-hal yang bersifat negatif," tulisnya.
Deddy juga mengutip Kang Hasan, seorang guru, yang menulis di laman abdurakhman.com yang bertajuk "Sekolah Sehari Penuh, Merampas Interaksi Anak-Orang Tua". Dalam artikel itu, keadaan ini seperti melepas tanggung jawab orang tua terhadap anak-anak ke sekolah, dan merenggut interaksi antara anak dengan orang tua.

Deddy juga mengutip pendapat pemerhati pendidikan yang menganggap homeschooling menjadi pilihan yang paling tepat dibandingkan mengirimkan anak-anak ke "pabrik" pendidikan yang bernama sekolah sehari penuh.
Menteri Yohana juga menganggap full day school akan memangkas hak bermain anak dan bertentangan dengan konvensi hak anak. Menurut dia, di negara maju, waktu belajar idealnya tujuh jam sehari. Jika ditambah jam belajarnya, maka dapat menghilangkan hak bermain dan hak berkreasi anak. "Saat ini ini saja beban anak di sekolah sangat berat karena memikul beban pelajaran," katanya di Biak, Rabu (10/8).
Belum lagi kondisi sekolah di masing-masing daerah beranekaragam. Tak sedikit sekolah yang menghadapi keterbatasan guru dan sarana dan prasarana. Karenanya, secara pribadi, Yohana menolak pelaksanaan full day school. Dia pun akan menemui Mendikbud untuk mendiskusikannya.
Namun, Mendikbud dalam pernyataan persnya menjelaskan, full day school tidak berarti peserta didik belajar seharian penuh di sekolah. Namun, program itu direalisasikan guna memastikan peserta didik dapat mengikuti kegiatan pendidikan karakter seperti mengikuti kegiatan ekstrakurikuler. Menurut dia, program full day school dilakukan dengan menerapkan pembelajaran formal sampai setengah hari, selanjutnya dapat diisi dengan kegiatan ekstrakurikuler.
"Usai belajar setengah hari hendaknya para peserta didik tidak langsung pulang ke rumah. Namun, dapat mengikuti kegiatan ekstrakurikuler yang menyenangkan, dan membentuk karakter, kepribadian, serta mengembangkan potensi mereka,” jelas Mendikbud. Dengan demikian, lanjutnya, peserta didik dapat terhindar dari pengaruh-pengaruh negatif seperti penyalahgunaan narkoba, tawuran, dan sebagainya.
Saat ini, Mendikbud menambahkan, sistem belajar tersebut, masih dalam pengkajian lebih mendalam. Mantan rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) itu juga menekankan pentingnya suasana lingkungan sekolah yang menyenangkan agar program itu dapat terlaksana dengan baik. Masalahnya, apakah semua sekolah siap melaksanakan program itu? Apakah jumlah guru dan sarana prasarana pendukungnya memadai? Lagian, apakah para guru bersedia lama-lama di sekolah, sementara ada tugas di rumah tangga yang menjadi tanggungjawabnya?
Bagi para siswa, orang tua, termasuk guru, full day school memang dimaknai rada negatif. Para siswa membayangkan, letihnya beraktivitas di sekolah. Sementara bagi para guru---apalagi yang gajinya terbilang kecil, tentu enggan menghabiskan waktu di sekolah. Mungkin, mereka juga harus melakukan aktivitas lainnya yang dapat meningkatkan penghasilan untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.

Program yang digulirkan Muhadjir itu sebenarnya bukan kali ini digagas. Di tahun 2013 lalu, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhammad Nuh juga pernah berencana penerapan sistem enam hari belajar di seluruh sekolah negeri. Rencana itu menuai protes para siswa dan orang tua. Sampai-sampai, salah satu siswa di Jakarta bernama Nadia, menyampaikan curhat ke Nuh. Lewat pesan singkat, Nadia mengeluh dengan beban belajar yang begitu berat. Bayangkan, Nadia pulang sekolah sekitar pukul 16.00 WIB.
Lalu, dia harus mengikuti les. Tentu, Nadia merasa lelah. Dia juga membutuhkan waktu istirahat. Karenanya, dia ingin Nuh membatalkan penambahan jam belajar. Keluhan Nadia itu sejalan dengan keluhan para siswa lainnya. Hingga akhirnya, masyarakat pun menentang rencana Menteri Nuh itu. Lantaran banyak yang menentang, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta pun akhinrya memutuskan, sekolah negeri hanya menyelenggarakan kegiatan belajar mengajar pada Senin hingga Jumat.
Langkah Menteri Nuh yang diprotes itu rupanya dilanjutkan Muhadjir. Dalihnya, agar anak tidak sendirian ketika orang tuanya bekerja. Full day school, menurutnya, akan semakin membuat siswa terpacu untuk belajar, mengerjakan tugas, melakukan kegiatan positif, dan bisa dijemput oleh orang tua siswa bersamaan dengan jam pulang kerja orang tua. Masalahnya, apakah guru-guru juga bersedia seharian di sekolah? Selain itu, program itu jika direalisasikan tanpa diimbangi kesiapan guru, pihak sekolah, khususnya dalam mengembangkan program yang tidak membuat jenuh siswa, justru akan memunculkan masalah. Siswa jadi bosan mengikuti proses belajar mengajar, akhirnya memilih bolos sekolah.
Hak-hak siswa untuk berkembang dan beradaptasi dengan lingkungan di luar sekolah pun terbatasi. Sementara sekolah, bukan satu-satunya institusi yang mendidik anak. Keluarga, lingkungan masyarakat, dan interaksi bersama teman sebaya, juga merupakan medium pembelajaran bagi para siswa.
Jika program seharian di sekolah itu diterapkan, para siswa tak ubahnya pegawai kantoran, yang masuk pukul 07.00, dan pulang sekitar pukul 17.00. Alasan Muhadjir jika siswa seharian di sekolah, maka tidak sendirian lantaran orang tuanya bekerja juga kurang kuat. Karena, jam pulang kerja orang tua di kota-kota besar, tidak sama dengan di daerah, khususnya di pedesaan. Tak sedikit pula orang tua yang kerjanya mandiri, tidak terikat waktu sehingga punya banyak waktu berinteraksi dengan anaknya. Belum lagi jika siswa itu berasal dari keluarga miskin, yang sebagian di antara mereka harus membantu orang tuanya mencari nafkah.
Ide merealisasikan program full day school, menurut Muhadjir, lantaran ingin mencontoh sistem pendidikan di Finlandia. Menurut dia, Finlandia memiliki sumber daya manusia terbaik karena para siswa diberi pendidikan karakter.

Padahal, di Finlandia, jam belajar siswa SD-SMP, hanya 4-5 jam per hari, terdiri 45 menit belajar dan 15 menit istirahat per jamnya. Para siswa di sana memiliki waktu istirahat lebih banyak. Dan, untuk siswa SMA, sistem pelajarannya sama dengan kuliah. Siswa hanya datang pada mata pelajaran yang mereka pilih sesuai kemampuan dan bakatnya.
Untuk meningkatkan kepekaan siswa terhadap fenomena sosial, guru-guru di Finlandia mendidik siswanya untuk belajar dan berinteraksi langsung dengan alam. Guru memberikan kebebasan kepada siswa untuk meneliti, menjelajahnya. Lalu, siswa menafsirkan lingkungan sekitarnya sesuai kemampuan dan pengalaman yang didapatnya selama belajar dan berinteraksi dengan alam.
Penerapan jam sekolah di beberapa negara pun berbeda-beda. Di Indonesia, aktivitas sekolah dimulai pukul 07.00. Durasi belajar untuk SD adalah lima jam per hari, SMP dan SMA enam jam per hari. Sementara di Inggris dan Australia, lama belajar para siswa adalah 6,5 jam per hari. Para siswa memulai pelajaran pukul 09.00 dan berakhir pada 15.30. Di Amerika Serikat (AS), lama sekolah tujuh jam per hari, yakni dari pukul 08.00 sampai 15.00.

Di Jepang dan Korea, untuk SMP delapan jam per hari. Sedangkan durasi belajar paling lama di China, yang mencapai sembilan jam per hari, yakni dari pukul 07.00 sampai 16.00. Bila program full day school ini diberlakukan, maka Indonesia akan menjadi negara dengan jam belajar dan beraktivitas di sekolah paling lama di dunia, sekitar 10 jam per hari hari.
Jam belajar para siswa di beberapa negara memang lebih lama dari jam sekolah siswa di Indonesia. Namun, pihak guru dan sekolah di sana, mampu mengusir kejenuhan para siswa saat menjalani aktivitas belajar lantaran didukung infrastruktur sekolah yang memadai, sistem kurikulum yang lebih baik dibanding di Indonesia, termasuk gaji guru yang tinggi.
Di Finlandia misalnya, profesi guru merupakan profesi yang dihargai, setara dengan profesi dosen ataupun profesor. Guru di Finlandia, gaji gurunya rata-rata sebesar Rp321 juta per tahun. Di Singapura, lebih tinggi lagi. Gaji guru mencapai Rp512 juta per tahun, di AS, profesi guru dihargai dengan gaji Rp503 juta per tahun, Korea Selatan yang mencapai Rp491 juta per tahun, dan Jepang yang mencapai Rp489 juta per tahun.
Dan, perlu pula diketahui, sistem pendidikan yang cenderung menekan, turut mempengarui terjadinya kasus bunuh diri siswa. Di Korea Selatan misalnya, sepanjang tahun 2012 tercatat, sebanyak 139 siswa bunuh diri akibat tekanan ujian sekolah, termasuk masalah keluarga dan depresi. Total siswa yang bunuh diri itu, menurut Kementerian Pendidikan Korea Selatan, terdiri 88 siswa SMA, 48 siswa dari SMP, dan tiga siswa SD. Jumlah bunuh diri siswa itu lebih rendah dibandingkan tahun 2009, yang mencapai 202 siswa yang bunuh diri.

Dengan segala keterbatasan sekolah di Indonesia, ada baiknya penambahan jam belajar itu dipertimbangkan kembali. Tekanan pendidikan yang berat dan menjenuhkan, dapat memicu dampak psikologis anak. Dan, jangan pula full day school merenggut hak anak untuk bermain, beristirahat, dan berekreasi di luar jam sekolah.
Membentuk karakter siswa, tidak harus menambah jam sekolah. Namun, bisa dengan menerapkan kurikulum yang tepat, membangun budaya jujur, mencegah terjadinya kekerasan di sekolah, dan sebagainya. Siswa juga butuh wadah untuk berekspresi dan berinovasi sesuai bakat dan kemampuannya di sekolah.
Sekolah juga bukan merupakan satu-satunya institusi tempat anak-anak belajar. Lingkungan terbesar dalam proses belajar adalah masyarakat, termasuk keluarga. Peran orang tua sangat diharapkan dalam membentuk karakter anak-anak.
Meski menuai protes, Muhadjir mengatakan, wacana full day school tetap berjalan. "Teknisnya belum, tetapi Insya Allah jalan. Itu berkaitan dengan pendidikan karakter tingkat SD dan SMP," katanya usai berkunjung ke SMK Muhammadiyah Imogiri Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Rabu (10/8).
Ratu Selvi Agnesia/M. Yamin PS