Gelombang Asmara

| dilihat 701

Bang Sem

Pagi merah bata ketika Pateh, lelaki paruh baya itu, melangkah meninggalkan surau di sudut kampung.

Mulutnya bergumam, khusyuk, pelan, “Ya Allah Ya Rahman Ya Rahiim Ya Allah Ya Mujiib.”

Nama-nama Allah itu berulang-ulang diucapkan, seperti biasa, sampai ia tiba di biliknya, di dekat sungai kecil.

Belum cukup lama ia tinggal di Kampung Nusa. Tak seorang pun tahu siapa dia.

Bahkan, Bang Syafei, Ketua RT setempat, hanya mengenalnya secara administratif.

Pateh warga pindahan dari Jakarta. Dari surat pindah yang dibawa, pekerjaan lelaki berusia 50 tahun itu tertulis: wiraswasta. Itu saja.

Suatu malam, Bang Syafei sempat berbincang dengan Pateh.

Selintas, identitas lelaki paruh baya itu berhasil diserap. Meski hanya sedikit.

Ia ayah tiga orang putri. Semua sudah berkeluarga. Konon, ia mantan pengusaha sukses di Jakarta.

Mengapa kemudian dia memilih tinggal di sebuah bilik, di Kampung Nusa?

Alkisah, seorang perempuan molek muda usia membuatnya terkecoh. Pateh hanyut oleh gelombang asmara yang digerakkan perempuan yang dia temui sebagai pemasaran produk asuransi, itu.

Bisnisnya runtuh, dan dinyatakan pailit oleh peng­adilan. Bahkan ia terusir dari rumahnya sendiri.

Perceraian dengan Zazki, istrinya, tak terelakkan. Tapi, sesuai prinsipnya, harta yang tersisa, semua menjadi milik istri dan anak-anaknya.

Pateh mengikhlaskan diri, menerima ke­nyataan, saat harus meninggalkan rumah dan segala hal yang dimiliki.

Ia pergi hanya membawa sebuah kopor berisi pakai­an, dan sedikit uang.

Sebelum tinggal di Kampung Nusa, beberapa lama ia menginap di losmen -- pengalaman yang sebelumnya tak terbayangkan.

Tak banyak yang dilakukan Pateh yang ramah dan mudah ber­gaul itu sejak tinggal di Kampung Nusa.

Setiap subuh, maghrib, dan isha, ia tampak selalu salat berjamaah di surau kampung.

Para tetangga, karib memanggilnya Om Pateh. Entah mengapa. Mungkin karena perangainya yang baik.

Mendengar sepintas kisah Pateh, ia seolah korban istri dan anak yang kejam.

Betulkah?

Pateh menggeleng.

“Tidak,” tuturnya kepada Bang Syafei, Ketua RT. “Saya hidup begini gara-gara saya hanyut dalam gelombang asmara. Tipuan fatamorgana tentang cinta. Saya ternyata tak mengerti cinta.. sehingga terseret gelombang asmara. Lepas melabuh, kapal pun karam dihempas gelompang. Patah kemudinya..”

Sebaliknya, isterinya berusaha menguatkan.

“Zazki, ibunya anak-anak saya, istri yang sangat baik. Saya kini merana karena telah mengabaikannya,” kata Pateh, yang kini menjadi saleh.

Mendengar cerita Pateh, Bang Syafei tercenung. Apalagi ketika Pateh bilang, seringkali para suami baru paham istrinya seorang perempuan ideal dan jodoh yang dipersiapkan Tuhan, justru setelah mereka bercerai. Atau ketika isteri tiada.

Tak sedikit, katanya, para suami merasa, istri kadang sebagai perampas seluruh harapan masa depan hidupnya yang hanya ilusi dan fantasi.

Tapi Pateh tak hendak membahas soal itu. Ia lebih suka mengenang Zazki sebagai istri yang baik. Istri yang semestinya tak disia-siakan.

Istri yang dengan ketegasan tertentu, sesungguhnya sedang menunjukkan jalan kebaikan untuknya.

Kalaupun Zazki akhirnya menuntut cerai, masalahnya sederhana saja. Selain perilaku Pateh sudah keterlaluan, juga karena desakan ketiga putrinya yang tidak bisa lagi menerima dia. Mereka malu karena sering diolok-olok teman mereka.

 “Selebihnya, terus terang, saya menerima kenyataan pahit karena sudah tak mampu lagi mengangkat kepala dan menampakkan wajah di hadapan para putri dan menantu saya,” katanya.

Pateh pamit. Ia kembali ke bilik kontrakannya. Ia rebah di atas balai bambu yang sangat sederhana. Matanya menerawang jauh, menembus langit-langit.

Tiba-tiba ada sesuatu yang dirasakannya. Sesuatu yang tak biasa.

Ia tak henti beristighfar, dan mengulang-ulang syahadat. Selepas subuh, ketika ia tak tampak di surau, jamaah mengetuk pintu biliknya.

Karena berulang-ulang tak ada respons, pintu pun dibuka paksa.

Pateh nampak terlentang dengan wajah pasi. Ia rebah selama-lamanya. Tak seorang pun bisa mengabarkan wafatnya Pateh kepada Zazki dan putri-putrinya, karena Pateh tak pernah tahu di mana alamat mereka sekarang.

Lelaki itu pergi dalam kesendirian. Bersama jejak gelombang asmara yang telah mengempasnya. |

Editor : Web Administrator
 
Sporta
23 Agt 20, 12:51 WIB | Dilihat : 296
Anggur Hijau Douro untuk Bayern Munchen
22 Okt 19, 13:15 WIB | Dilihat : 1235
Pertamax Turbo Ajak Konsumen ke Sirkuit F2 Abu Dabi
03 Sep 18, 12:41 WIB | Dilihat : 2097
Olahraga dan Pelukan Pemersatu
Selanjutnya
Energi & Tambang