Bercermin dalam Karantina

| dilihat 361

Sèm Haésy

Jelang sepekan mengikuti anjuran pemerintah untuk melakukan karantina pribadi saya mulai gelisah. Dalam keadaan hidup sendiri di usia lanjut, suasana batin memang jadi lain. Berbagai program yang tak bisa dilakukan dengan komunikasi jarak jauh, harus tertunda.

Perubahan kondisi tubuh karena perubahan iklim yang sebentar panas, sebentar gerimis, sebentar hujan juga fluktuatif, meski berolahraga ringan di dalam rumah.

Kepungan virus corona - Covid-19 dan pergerakan angka-angka korban yang berjatuhan, akibat masih banyak orang yang tak paham social distance -- karena penjelasan pemerintah terkontaminasi oleh berbagai informasi yang tak jelas, menambah suasana batin, kadang tak menentu.

Hubungan dengan dunia luar, terutama dengan orang-orang terkasih, tak selamanya lancar, karena jaringan internet yang tak stabil dan frekuensi radio telekomunikasi yang juga tak optimum, seringkali terganggu. Termasuk menggunakan fitur video call.

Semua kalangan sibuk dan memusatkan perhatian pada bagaimana menurunkan kurva populasi masyarakat yang terpapar virus China asal Wuhan ini. Sejumlah petinggi pun tidak mempunyai sense of crisis, mengeluarkan pernyataan-pernyataan pandir yang debatable.

Dalam situasi begini, saya mesti menyeleksi pernyataan para petinggi negeri, dan mesti memilih, siapa sungguh pemimpin yang mesti saya ikuti. Suasana saat ini, menyeleksi, siapa sungguh pemimpin yang memberikan cara (way of think) dan siapa pula rombongan petinggi yang sibuk dengan kilah - berkelit dengan beragam alasan (reason).

Supaya tak bingung merespon situasi, sebagai warga Jakarta, saya hanya mengikuti Gubernur Jakarta Anies Rasyid Baswedan dan Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanggulangan Covid-19 - Letnan Jendral Doni Monardo.

Bagi saya, salah satu cara mempercepat pengendalian virus Covid-19, awak media yang juga berjibaku di lapangan dengan segala risiko -- meski tak seriskan petugas medis ( 6 dokter dan sejumlah paramedis sudah meninggal dunia) -- mesti menggunakan otoritas subyektifnya. Menyeleksi dengan ketat pernyataan petinggi yang tak relevan dan dapat membuat situasi dubieus.

Para pemimpin dan awak media, perlu menggunakan otoritasnya, karena informasi yang rancu dan bahkan keliru, akan membuat rakyat - konsumen media bingung. Terutama, ketika rakyat tak punya ruang yang luas untuk menguji kebenaran informasi.

Setarikan nafas, seluruh petinggi bisnis, khususnya Badan Usaha Milik Negara (BUMN) juga mesti bergerak cepat. Bukan sekadar mengkonversi fungsi pelayanan dari sistem layanan langsung ke layanan virtual. Jauh dari itu adalah mengambil keputusan-keputusan strategis yang sungguh berorientasi pelanggan. Apapun risikonya.

Para petinggi di bisnis telko, misalnya, mesti menjamin stabilitas dan kecepatan jaringan internet dan frekuensi telekomunikasi, sehingga prinsip dasar dari work at (from) home, tetap lancar. Jaringan yang on and off, tak hanya menghambat proses kerja, tetapi juga mengganggu kreativitas dan psikologis.

Para petinggi di bisnis keuangan dan perbankan, mesti mengambil keputusan strategis, mengubah habit perbankan sebagai pemburu rente menjadi finance servant.

Situasi darurat semacam yang kita alami sekarang ini, pasti menghambat arus transaksi yang mempengaruhi kinerja keuangan perusahaan-perusahaan mikro, kecil dan menengah.

Bisa dengan kebijakan menihilkan bunga pinjaman selama keadaan darurat berlangsung. Bisa juga dengan kebijakan lain, yang hanya berisiko pada penurunan bilangan keuntungan.

Nilai rupiah berbanding mata uang asing jatuh, harga saham di pasar modal merosot dan perekonomian mengalami masa surut, pasti. Tapi, ada masanya momentum baik untuk recovery dan kembali normal. Di sini, visioneering bisnis diuji. Darurat Covid-19 akan menjalar ke krisis ekonomi dan kemudian krisis moneter, memang perlu dihadang. Ini adalah fakta brutal yang tak terhindarkan. Karenanya diperlukan cara-cara cerdas (smart ways) mengatasinya.

Keselamatan dan perlindungan kepada rakyat adalah hal yang utama, sambil menyadari secara kolektif, situasi saat ini merupakan ujian dan tantangan yang diberikan Tuhan kepada umatnya di jagad fana ini, seperti kata para ulama.

Secara spiritual, inilah momentum terbaik untuk becermin diri. Mengenali, siapa sungguh diri kita.

Benarkah kita sungguh insan yang paham tentang hakekat Kemahaesaan Tuhan? Atau, selama ini kita hanya menjadi para pencuri otoritas Tuhan, sehingga membuat kita pongah, congkak, sombong dan takabur atas sesama, dan kemudian tak berdaya ketika triliunan makhluk supermikro bernama virus menyergap kita?  

Benarkah kita insan yang sungguh paham hakikat kemanusiaan yang adil dan beradab? Apapun keputusan para pemimpin dan petinggi negeri ini, akan terlihat oleh rakyat bagaimana kualitas kemanusiaannya. Akan tampak, siapa sungguh insan kamil (insan mulia), siapa pula yang sekadar khayawan an nathiq (hewan yang berakal). Bahkan akan nampak, siapa sungguh akhsanittaqwiim - manusia sesempurna makhluk, siapa pula yang menjungkirkan dirinya hanya menjadi bani kalbun majnun - yang merupakan standar terburuk manusia.

Benarkah kita insan yang sungguh paham hakikat dan dimensi persatuan dan tidak terombang-ambing oleh beragam persepsi tentang dimensi kesatuan Indonesia sebagai bangsa yang kita cintai.

Darurat Covid-19 juga menguji kita untuk bertanya pada diri kita masing-masing, sudah sungguhkah kita paham hakekat rakyat dan kerakyatan, sudah sungguhkah mereka yang dipilih rakyat dengan riuh rendah politik memainkan fungsi utamanya sebagai wakil rakyat dan tidak berasyik-maksyuk terlena sebagai wali rakyat? Lantas, menunjukkan kepada rakyat, bahwa mereka sungguh paham hakikat musyawarah dan berani bermufakat untuk sama melawan sergapan virus yang menjanjikan derita dan kematian ini.

Darurat Covid-19 adalah satu dari begitu banyak fakta brutal dalam realitas pertama kehidupan kita yang tiba-tiba menguji kita untuk menunjukkan diri sebagai manusia yang konsisten dan konsekuen menegakkan keadilan untuk seluruh rakyat, insan sesama.

Seorang ibu menyampaikan pesan lewat komunikasi jarak jauh, mengingatkan tentang hakekat jarak fisik - distansi dengan jarak budaya, dan seorang cendekiawan muda usia mengingatkan saya tentang jarak sosial dengan jarak gagasan yang memungkinkan manusia, ketika berjarak dalam dimensi ruang waktu, masih selalu punya waktu untuk memelihara renjana optimisme.

Seorang sahabat, mengirimkan saya nukilan Serat Kalathida - Raden Ngabehi Ronggowarsito :  

Sageda sabar santosa
mati sajroning ngaurip kalis
ing reh huru-hara
murka angkara sumingkir
tarlen meleng melatsih
sanityaseng tyas mamatuh
badharing sapudhendha
antuk wajar sawatawis
borong angga suwarga mesi martaya.

Semogalah (kita) dapat sabar menjalani (situasi ini), (meski) laksana mati di dalam hidup, (tetapi) terbebas dari segala petaka. Angkara murka, tamak, dan loba menyingkirlah, karena kita khusyuk memohon kasih (sayang) Tuhan. Melatih hati patuh (kepada-Nya), agar dapat mengurungkan tulah, agar (kelak) mendapat cahaya terang sekadarnya, supaya dapat masuk surga (kesentosaan) yang kekal abadi. | (Jakarta, Coronakantina: 24.03.20)

Editor : Web Administrator
 
Humaniora
27 Mei 20, 07:27 WIB | Dilihat : 109
Serangan COVID-19 Merusak Paru Paru secara Abadi
22 Mei 20, 08:48 WIB | Dilihat : 509
Prof. Dr. Hj. T. Fatimah Djajasudarma dalam Kenangan
21 Mei 20, 00:28 WIB | Dilihat : 98
Ke Mana Nalar Keadaban
15 Mei 20, 04:27 WIB | Dilihat : 111
Khalwat
Selanjutnya
Budaya
24 Mei 20, 21:32 WIB | Dilihat : 237
Ya Allah Jarak DenganMu Masih Jauh
18 Mei 20, 04:00 WIB | Dilihat : 162
Prestidigatasi Dunia Buram
Selanjutnya